Senin pukul 20.51 malam, musibah itu terjadi di Stasiun Bekasi Timur. KA Argobromo Anggrek menabrak KRL yang sedang berhenti. Sungguh tragis, 16 penumpang yang berada di gerbong wanita meninggal dunia, sementara puluhan lainnya harus dirawat di beberapa rumah sakit.
Di antara korban, ada seorang ibu muda. Baru tiga bulan ia dikaruniai seorang bayi. Masa cuti melahirkan usai, dan malam itu ia kembali menjemput peran sebagai pekerja sekaligus ibu.
Barangkali pagi harinya ia masih sempat mencium kening bayinya, menitipkan pada keluarga dengan harapan pulang membawa nafkah. Namun takdir berkata lain—ia tak pernah kembali.
Peristiwa ini seperti tamparan sunyi bagi kita semua. Bahwa hidup dan mati benar-benar berada dalam genggaman Ilahi. Kita bisa merancang hari esok, tetapi tidak pernah benar-benar memiliki kepastian untuk mencapainya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa memiliki kendali penuh. Seorang ayah berangkat pagi dengan motor, berpamitan kepada anaknya yang masih mengantuk.
Ia berkata, “Nanti sore ayah pulang bawa jajan.” Namun siapa yang menjamin ia benar-benar sampai di sore hari? Di jalan, di tempat kerja, bahkan di rumah sendiri, kematian bisa datang tanpa aba-aba.
Begitu pula seorang mahasiswa yang sedang mengejar cita-cita. Ia begadang menyusun skripsi, menata masa depan, membayangkan wisuda dan membanggakan orang tua. Tetapi tak sedikit kisah di sekitar kita, di mana seseorang dipanggil pulang justru saat harapan itu sedang tinggi-tingginya.
Allah Wa Ta’ala telah mengingatkan: “Setiap jiwa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185)
Ayat ini sederhana, tetapi mengguncang kesadaran kita. Kematian bukan kemungkinan, melainkan kepastian. Ia bukan soal “jika”, tetapi “kapan”.
Yang menjadi pembeda hanyalah cara dan waktu. Ada yang dipanggil dalam tidur, dalam perjalanan, dalam ibadah, bahkan di tengah aktivitas paling biasa sekalipun. Ada yang sakit terlebih dahulu, ada pula yang sehat-sehat saja sebelum akhirnya dipanggil.
Dalam realitas kehidupan, kita melihat kontras yang nyata. Ada orang yang begitu menjaga kesehatan, namun wafat lebih cepat. Sementara yang lain menjalani hidup dengan sederhana, justru diberi umur panjang. Ini bukan soal logika manusia, melainkan rahasia takdir Allah.
Allah Wa Ta’ala berfirman: “Di mana saja kamu berada, kematian pasti akan menghampirimu, meskipun kamu berada dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An-Nisa’: 78)
Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada tempat aman dari kematian. Bukan berarti kita tidak boleh berikhtiar menjaga diri, tetapi kesadaran ini mengajarkan bahwa perlindungan terbaik adalah mendekat kepada-Nya.
Sering kali kita menunda kebaikan. Menunda salat di awal waktu, menunda sedekah, menunda meminta maaf, bahkan menunda memperbaiki diri. Kita merasa waktu masih panjang, kesempatan masih luas. Padahal, kematian tidak pernah menunggu kesiapan kita.
Ada kisah sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Seorang anak yang bertengkar dengan ibunya, memilih pergi tanpa berpamitan. Ia berpikir masih punya waktu untuk meminta maaf nanti malam. Namun malam itu tak pernah datang baginya. Penyesalan yang tertinggal menjadi pelajaran pahit bagi yang hidup.
Begitulah, kematian sering kali mengajarkan hal-hal yang tidak sempat diajarkan oleh kehidupan.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (QS. Luqman: 34)
Kita tidak tahu di mana garis akhir itu berada. Apakah di rumah, di jalan, di tempat kerja, atau di tempat yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Karena itu, yang bisa kita lakukan bukanlah menebak waktu kematian, melainkan mempersiapkan bekal sebelum kematian itu datang. Amal saleh, keikhlasan, dan hubungan baik dengan sesama adalah investasi yang tidak akan pernah sia-sia.
Kematian adalah jembatan menuju keabadian. Ia bukan akhir dari segalanya, tetapi awal dari kehidupan yang sesungguhnya. Di sanalah kebaikan dan keburukan akan menemukan balasannya.
Kita memang terlahir dengan satu cara, namun kematian bisa datang dengan berbagai cara. Ada yang perlahan, ada yang tiba-tiba. Ada yang disaksikan banyak orang, ada yang sunyi tanpa siapa pun.
Maka jangan sampai kita “mati sebelum mati”—hidup tanpa makna, tanpa amal, tanpa arah. Karena hidup yang tidak diisi dengan kebaikan, sejatinya adalah kematian yang berjalan pelan.
Semoga setiap langkah kita senantiasa berada dalam lindungan Allah. Semoga kita diberi husnul khatimah, akhir yang baik, dan dipanggil dalam keadaan terbaik kita.
“Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya kita kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)
Semoga cahaya Ilahi Rabbi senantiasa menerangi jalan hidup kita semua. Aamiin Allahumma Aamiin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments