Jika suatu negara ingin maju, kuncinya pada sumber daya manusia dan pendidikan.
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nashir MSi, pada Peresmian Gedung SD Muhammadiyah 1 & 2 Taman Sidoarjo atau SD Mumtaz.
Peresmian tersebut berlangsung pada Sabtu (10/10/2026) dan dihadiri sejumlah tokoh penting persyarikatan.
Antara lain Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir MSi, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Prof Dr Biyanto MAg, Ketua PDM Sidoarjo Prof Dr A Dzo’ul Milal MPd.
Kemudian hadir pula Wakil Ketua PWM Jawa Timur Ir Tamhid Masyhudi, Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Dr Hidayatullah MSi, Bendahara PWM Jawa Timur drh Zainul Muslimin, Wakil Bendahara PWM Jawa Timur Fityan Izza Noor Abidin SE MSA, dan Ketua PCM Sepanjang Dr Sam’un.
Kunci Negara Maju
“Jika suatu negara ingin maju, kuncinya pada sumber daya manusia dan pendidikan” terang Haedar.
“Maka kalau Indonesia ingin jadi negara maju, seperti cita-cita pendiri bangsa, bangun SDM berkualitas lewat pendidikan” tambahnya.
Kendati demikian, Haedar berujar bahwa pendidikan adalah proses long-term alias jangka panjang, sehingga hasilnya tidak tampak secara instan.
Salah satu contoh nyatanya adalah Muhammadiyah yang membutuhkan waktu lebih dari 1 abad untuk menjadi sebesar saat ini dan berkontribusi mencerdaskan masyarakat.
Kini, Muhammadiyah memiliki 164 perguruan tinggi Muhammadiyah Aisyiyah dan 21 diantaranya memiliki akreditasi unggul. Termasuk membangun prodi kedokteran, di antara STEM dan prodi humaniora.
“Kita mesti berlomba dengan waktu, sebisa mungkin merebut kepercayaan masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di TK, SD SMP SMA hingga perguruan tinggi Muhammadiyah” ujar Haedar.
STEM hingga Iman Akhlaq
Menurut Haedar, pendidikan yang baik tidak hanya mengajarkan STEM, tapi juga akhlaq dan iman. Yang mana, hal tersebut adalah fondasi umat dan bangsa.
“Semaju majunya bangsa jika imannya rapuh, apapun agamanya, akan rapuh jika mereka tidak peduli baik buruk, pantas tidak pantas, tidak punya etika kehidupan” ancamnya.
Sebagai pengingat, Alumnus Universitas Gadjah Mada itu menyebut bahwa cemerlangnya peradaban Islam masa lampau tidak jauh dari penyatuan iman dan saintek.
“Sesungguhnya peradaban Islam itu maju karena mampu memadukan saintek dan iman. Dan memadukan Hablum minannas dan Hablum minallah” tuturnya.
Kemudian syarat negara maju yang kedua menurut Hedar, adalah dibangun atas kekuatan ekonomi.
Ia memberi contoh Amerika serikat hingga Tiongkok yang menjadi maju karena kekuatan ekonomi.
“Indonesia jika ingin maju, selain pendidikan, ekonominya juga harus maju” pesannya.
Dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu kemudian membacakan QS Al-Qasas ayat 77 tentang keseimbangan kehidupan dunia dan akhirat.
“Intinya keseimbangan spiritual, intelektual, sosial, rohani. Kita selalu berbuat Ihsan, kebajikan yang terbaik, iman kita harus yang terbaik, jika ingin dicintai Allah” kata Haedar.
Pada akhirnya, tujuan akhir perkaderan Muhammadiyah kedepannya adalah melahirkan generasi Qurrota’ayun.
“Kita harus melahirkan generasi Qurrota’ayun, bukan dzurriyatan dhiafan (generasi lemah)” harap Haedar.
“Mudah-mudahan kita tetap maju sebagai organisasi, bangun kebersamaan, dan SD Mumtaz tetap menjadi harapan umat dan kebanggaan persyarikatan” pungkas Haedar.





0 Tanggapan
Empty Comments