Berita sekolah tidak cukup hanya melaporkan kegiatan. Humas perlu membangun narasi yang mampu mengungkap nilai edukasi, perjuangan, dan dampak di balik setiap peristiwa. Dengan begitu, publikasi sekolah tidak sekadar menjadi dokumentasi, tetapi juga sarana syiar dan promosi yang menarik.
Pesan tersebut disampaikan Dr. Roni Tabroni dari Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam Akademi Jurnalistik Muhammadiyah (AJM) di Pondok Entrepreneur Muhammadiyah, Gondanglegi, Malang, Sabtu (10/10/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) bekerja sama dengan MPI PP Muhammadiyah ini diikuti 45 peserta dari berbagai sekolah Muhammadiyah di Jawa Timur.
Roni menegaskan, publikasi humas sekolah harus memiliki orientasi yang jelas.
“Stigma emas konten humas adalah syiar dan promosi,” ujarnya.
Menurutnya, kekuatan publikasi tidak hanya terletak pada peristiwa yang diberitakan, tetapi juga pada cara mengemasnya menjadi cerita yang memiliki nilai bagi pembaca.
“Sesuatu jadi mahal karena ada narasinya,” kata Roni.
Roni menjelaskan, humas sekolah perlu memahami ekosistem media yang terus berkembang. Media arus utama dan media sosial harus dimanfaatkan secara bersinergi agar informasi sekolah menjangkau khalayak yang lebih luas.
“Peta ekosistem media sekolah itu harus ada sinergi antara mainstream dan media baru, media sosial,” jelasnya.
Dia mengingatkan agar publikasi tidak berhenti di kanal internal sekolah. Berita yang memiliki nilai penting perlu didistribusikan ke berbagai media sehingga prestasi, inovasi, dan praktik pendidikan yang baik dapat diketahui masyarakat.
“Humas kita harus garap konten berita sekolah kita ke banyak media, jangan hanya di media internal saja,” pesannya.

Empat Pilar Berita Sekolah
Dalam paparannya, Roni memetakan empat pilar isu yang dapat menjadi sumber berita sekolah.
Pertama, inovasi dan pembelajaran unik. Kedua, perjuangan di balik prestasi. Ketiga, kisah human interest dan sosok inspiratif. Keempat, respons terhadap isu pendidikan eksternal, termasuk kebijakan baru yang berdampak pada siswa.
“Empat pilar tersebut dapat membantu humas menemukan sudut pandang yang lebih kuat ketika mengangkat kegiatan sekolah. Sebuah acara rutin, misalnya, tidak harus berhenti pada laporan tentang waktu, tempat, dan siapa saja yang hadir,” katanya.
Humas, timpal Roni, juga dapat menggali gagasan, proses, pengalaman, serta manfaat kegiatan bagi siswa dan masyarakat.
“Berita mahal itu karena mampu mengubah acara rutin menjadi narasi edukasi yang mencerahkan,” ungkapnya.
Roni pun mengingatkan agar penulis humas tidak terjebak dalam judul yang kaku dan pola pemberitaan yang sekadar melaporkan seremonial.
Sudut pandang humanis, fokus pada dampak, dan penyisipan nilai-nilai Muhammadiyah menjadi bagian penting dalam menyajikan berita yang lebih bermakna.
“Hindari judul kaku, gunakan sudut pandang humanis, fokus pada dampak, sisipkan nilai Muhammadiyah,” pungkasnya.
SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat) mengirimkan empat anggota tim humas untuk mengikuti kegiatan tersebut. Mereka adalah Elfrincesa Fairy D, S.Pd., Ainun Jariyah, S.I.Kom., Zihaan Dwi Vakhrulia, S.T., dan Mulyanto, S.Pd.
Keikutsertaan tim humas Mudipat dalam AJM menjadi kesempatan untuk memperdalam keterampilan jurnalistik, terutama dalam menggali sudut pandang berita, menyusun narasi, dan memperluas jangkauan publikasi sekolah.
Melalui penguatan kapasitas tersebut, humas sekolah diharapkan mampu menghadirkan berita yang bukan hanya mengabarkan kegiatan, melainkan juga memperlihatkan nilai pendidikan dan kontribusi sekolah bagi masyarakat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments