Jamaah Tani Muhammadiyah (Jatam) Jawa Timur memperkuat konsolidasi organisasi dan jejaring petani melalui Pertemuan Wilayah Timur di Camping Ground Gerbang Raung, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, Ahad (18/10/2026).
Pertemuan ini diikuti pengurus JATAM dari enam kabupaten, yakni Probolinggo, Situbondo, Jember, Banyuwangi, Lumajang, dan Bondowoso. Kegiatan tersebut menjadi ruang koordinasi untuk memperkuat kelembagaan organisasi, membangun kolaborasi ekonomi, serta mengembangkan pemberdayaan masyarakat berbasis pertanian.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua JATAM Jawa Timur Annas Sholikhin, Sekretaris Iskhak Subagio, S.E., Bendahara JATAM yang akrab disapa Mas MD, serta Dr. Iffan Gallant El Muhammady yang mewakili Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur.
Tiga Pesan untuk Penggerak Jamaah Tani
Dalam arahannya, Ketua Jatam Jawa Timur Annas Sholikhin menekankan pentingnya memperbanyak pertemuan secara langsung antarpengurus dan anggota. Menurutnya, komunikasi daring perlu dilengkapi dengan pertemuan tatap muka agar hubungan antaranggota semakin kuat dan menghasilkan kerja sama nyata.
Ia mendorong agar pertemuan jaringan JATAM dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan. Dengan demikian, koordinasi antardaerah tidak berhenti pada urusan administratif, tetapi berkembang menjadi gerakan pemberdayaan petani yang saling mendukung.
Sementara itu, Dr. Iffan Gallant El Muhammady yang mewakili MPM PWM Jawa Timur menyampaikan tiga pesan penting bagi penggerak Jamaah Tani Muhammadiyah.
“Niatkan untuk ibadah, bertani untuk menjaga, dan bergeraklah bersama.”
Pesan pertama, niatkan untuk ibadah, mengingatkan bahwa aktivitas pertanian bukan sekadar kegiatan ekonomi, melainkan juga bentuk pengabdian yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pesan kedua, bertani untuk menjaga, mengajak petani memandang pertanian sebagai tanggung jawab untuk merawat tanah, lingkungan, sumber daya alam, dan keberlanjutan pangan bagi generasi mendatang.
Adapun pesan ketiga, bergeraklah bersama, menegaskan pentingnya kolaborasi dalam membangun kemandirian petani. Melalui jaringan Jatam, potensi pertanian di berbagai daerah diharapkan dapat dikembangkan bersama, mulai dari produksi, pengolahan, hingga pemasaran hasil pertanian.
Ketiga pesan tersebut menjadi landasan bagi JATAM untuk mengembangkan gerakan pertanian yang berorientasi pada nilai keislaman, kepedulian lingkungan, dan penguatan ekonomi berjamaah.
JATAM Percepat SK Kepengurusan dan Siapkan Jambore
Sesi konsolidasi yang dimoderatori Mas Qodir membahas dua agenda strategis, yakni percepatan penyelesaian Surat Keputusan (SK) kepengurusan JATAM tingkat kabupaten/kota dan persiapan Jambore Regional JATAM.
Dalam agenda pertama, daerah yang belum menyelesaikan administrasi kepengurusan didorong segera menuntaskannya dalam waktu satu pekan setelah pertemuan. Langkah ini diharapkan memperkuat kelembagaan sekaligus memperjelas koordinasi organisasi di tingkat daerah.
Agenda kedua adalah persiapan Jambore Regional JATAM yang direncanakan berlangsung sekitar Desember 2026 di Bojonegoro.
Kegiatan tersebut direncanakan memanfaatkan kawasan kompleks DPRD Kabupaten Bojonegoro dan fasilitas pendukung, termasuk GOR Bojonegoro. Sejumlah agenda yang disiapkan meliputi pameran produk pertanian, bazar, forum inspirasi, lokakarya pengembangan klaster pertanian, serta business matching untuk mempertemukan pelaku usaha dan membuka peluang kemitraan.
Jambore juga direncanakan menghadirkan penjajakan peluang ekspor, pengenalan teknologi pertanian, dan peluncuran buku pemberdayaan masyarakat Jawa Timur.
Melalui kegiatan tersebut, JATAM berharap dapat memperluas akses pasar bagi produk pertanian anggota sekaligus membangun ekosistem usaha yang menghubungkan petani, pengolah hasil pertanian, dan calon mitra bisnis.
Padukan Dakwah, Pertanian, dan Kepedulian Lingkungan
Selain konsolidasi organisasi, Pertemuan Wilayah Timur JATAM Jawa Timur juga memadukan kegiatan keagamaan dengan pengenalan potensi ekonomi pertanian setempat.
Rangkaian kegiatan meliputi pengajian Ahad pagi, penanaman pohon di kawasan Camping Ground Gerbang Raung, kunjungan ke gudang jagung, serta kunjungan ke tempat pengolahan kopi dan menikmati kopi robusta di Kopi Hanum.
Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk mempertemukan nilai-nilai keagamaan dengan praktik pemberdayaan ekonomi dan kepedulian terhadap lingkungan.
Ketua JATAM Banyuwangi, Agung Jatmiko, melalui kegiatan ini menegaskan pentingnya memperkuat hubungan antarpengurus dan petani agar potensi yang dimiliki setiap daerah dapat dikembangkan melalui kolaborasi.
Konsolidasi di Banyuwangi menjadi salah satu langkah JATAM Jawa Timur dalam membangun jaringan petani yang lebih terorganisasi, memperluas kerja sama usaha, dan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.
Dengan semangat ibadah, menjaga keberlanjutan kehidupan, dan bergerak bersama, JATAM Jawa Timur berupaya menjadikan pertanian sebagai salah satu gerakan dakwah pemberdayaan Muhammadiyah yang memberikan manfaat nyata bagi petani dan masyarakat luas. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments