Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Tak Hanya Akhlak, Umsida Tanamkan Pemahaman Ibadah untuk Membentuk Karakter Mahasiswa

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Tak Hanya Akhlak, Umsida Tanamkan Pemahaman Ibadah untuk Membentuk Karakter Mahasiswa
Tak Hanya Akhlak, Umsida Tanamkan Pemahaman Ibadah untuk Membentuk Karakter Mahasiswa. (Dhona/PWMU.CO)
pwmu.co -

Pembinaan karakter mahasiswa tidak cukup hanya melalui penanaman akhlak, tetapi juga perlu diperkuat dengan pemahaman dan praktik ibadah yang benar. Hal inilah yang menjadi salah satu fokus Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) dalam pelaksanaan Pembinaan Kehidupan Mahasiswa Umsida (PKMU) 2026, Ahad (18/10/2026).

Memasuki pekan kedua, PKMU membahas materi ibadah, khususnya bersuci (thaharah) dan salat. Melalui materi ini, mahasiswa diajak memahami dasar-dasar ibadah sekaligus mengevaluasi pelaksanaannya dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), Dr. Puspita Handayani, S.Ag., M.Pd.I., menjadi pemateri yang mengajak mahasiswa mempelajari kembali berbagai persoalan mendasar dalam ibadah, mulai dari bersuci, najis dan hadas, hingga tata cara wudu dan salat.

Kenali Dasar Bersuci dalam Ibadah

Dalam penyampaian materi thaharah, Dr. Puspita mengemas pembelajaran secara interaktif melalui permainan kuis. Metode ini digunakan untuk membantu mahasiswa memahami konsep bersuci dengan cara yang lebih menarik dan mudah dipahami.

Mahasiswa diajak mengenali kondisi air yang dapat digunakan untuk bersuci dengan memperhatikan tiga aspek, yaitu bau, warna, dan rasa. Pembahasan kemudian berlanjut pada perbedaan najis dan hadas, jenis-jenis najis, sarana bersuci, serta ketentuan pelaksanaan thaharah.

Untuk memperjelas materi, Dr. Puspita menghadirkan sejumlah contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam menjalankan ibadah.

Ia menekankan pentingnya ketepatan dalam memahami persoalan kesucian agar seseorang tidak terburu-buru mengambil kesimpulan tanpa mengetahui ketentuan yang berlaku.

“Jadi diperlukan pemahaman yang tepat agar tidak terburu-buru menyimpulkan suatu perkara sebagai najis atau tidak. Misalnya, air kencing bayi yang masih minum ASI saja, itu masih termasuk najis ringan,” terangnya.

Bedakan Najis dan Hadas

Materi berikutnya membahas perbedaan najis dan hadas, termasuk cara menyucikannya. Mahasiswa diajak memahami bahwa keduanya memiliki pengertian dan tata cara penyucian yang berbeda.

“Najis itu adalah bendanya, misal kotoran. Kalau hadas itu kondisi orangnya. Cara bersuci dari hadas dengan cara wudu dan mandi wajib, kalau najis tinggal dibersihkan saja najisnya,” ujar Dr. Puspita.

Ia juga mengangkat persoalan yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketentuan terkait pemeliharaan anjing dan cara menyucikan najisnya.

“Boleh kita memelihara anjing, seperti untuk menjaga rumah atau keperluan berburu. Namun tetap perlu memahami batasan terkait najis dan cara menyucikannya,” tuturnya.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Pembahasan kemudian berlanjut pada tata cara wudu yang dikaitkan dengan Surah Al-Maidah ayat 6. Ayat tersebut menjadi salah satu landasan dalam memahami ketentuan bersuci sebelum melaksanakan salat.

Melalui rangkaian materi tersebut, mahasiswa diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai thaharah sebagai bagian penting dalam pelaksanaan ibadah.

Salat Menjadi Bahan Evaluasi Diri

Selain bersuci, materi salat menjadi bagian penting dalam pembinaan pada pekan kedua PKMU. Dr. Puspita menegaskan bahwa pemahaman tentang ibadah harus diikuti dengan praktik yang benar dan tertib.

Menurutnya, salat bukan sekadar kewajiban yang dilaksanakan secara rutin, melainkan juga perlu menjadi bagian dari pembentukan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari.

Di akhir penyampaian materi, ia mengingatkan mahasiswa agar senantiasa memperhatikan kualitas salat.

“Seseorang bisa dilihat dari salatnya, jika salatnya benar dan tertib, maka hidupnya pun akan begitu,” ungkapnya.

Salah satu peserta PKMU, Muhammad Reyhan Putra Pratama, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru selama mengikuti kegiatan tersebut. Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi itu mengatakan bahwa materi salat menjadi pengingat sekaligus bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas ibadahnya.

“Saya tidak tumbuh di lingkungan Muhammadiyah, tapi selama PKMU, saya banyak menemukan ilmu baru, terlebih tentang salat berjamaah yang perlu saya tingkatkan lagi,” tuturnya.

Menurut Reyhan, materi pada pekan kedua memberikan ruang lebih luas untuk melakukan refleksi dan evaluasi diri. Ia menilai materi akhlak pada pekan sebelumnya lebih mudah dikaitkan dengan hubungan antarmanusia, sedangkan materi ibadah mendorongnya untuk meninjau kembali kualitas hubungan dengan Allah Swt.

Setelah sesi penyampaian materi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan mentoring bersama fasilitator masing-masing kelompok. Pada sesi ini, mahasiswa mengulas kembali materi yang telah disampaikan sekaligus memperkuat pemahaman mereka melalui pendampingan. (*)

Revisi Oleh:
  • Nadjib Hamid - 18/10/2026 18:20
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu