Pendidikan Muhammadiyah tidak sekadar menghadirkan ruang belajar, tetapi menjadi instrumen strategis dalam membangun peradaban. Hal ini ditegaskan oleh Dr. KH. Sholihin Fanani, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim kepada PWMU.CO, Kamis 23/4/2026)
Dia lalu memaparkan lima misi utama pendidikan Muhammadiyah sebagai fondasi gerakan dakwah dan tajdid.
Menurutnya, pendidikan Muhammadiyah harus mampu menjawab tantangan zaman sekaligus tetap berakar kuat pada nilai-nilai Islam yang murni.
“Sekolah dan kampus Muhammadiyah bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter, ideologi, dan semangat perjuangan,” ujarnya.
Dikatan Kiai Sholihin, misi pertama adalah mempercepat tercapainya tujuan Muhammadiyah, yakni menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
“Pendidikan menjadi kendaraan utama untuk mencapai tujuan tersebut secara sistematis dan berkelanjutan,” paparnya.
Dia menambahkan, melalui kurikulum yang terintegrasi antara ilmu umum dan nilai-nilai keislaman, lembaga pendidikan Muhammadiyah diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dalam akidah dan akhlak.
Memurnikan Ajaran Agama Islam
Misi kedua, sebut Kiai Sholihin, adalah memurnikan ajaran Islam dari praktik-praktik yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan sunah.
Dalam konteks pendidikan, hal ini diwujudkan melalui penguatan pemahaman agama yang berbasis dalil, rasional, dan moderat.
Kiai Sholihin menegaskan, pendidikan Muhammadiyah harus menjadi garda terdepan dalam menyebarkan Islam yang berkemajuan, jauh dari sikap ekstrem maupun praktik keagamaan yang tidak berdasar.
Pendidikan juga berfungsi sebagai ladang kaderisasi. Menueut Kiai Sholihin, Misi ketiga ini menekankan pentingnya mencetak kader Muhammadiyah yang militan, berintegritas, dan memiliki komitmen terhadap gerakan persyarikatan.
“Sekolah Muhammadiyah harus melahirkan kader yang tidak hanya sukses secara pribadi, tetapi juga siap mengabdi untuk umat dan bangsa,” jelasnya. Kaderisasi ini dilakukan melalui berbagai kegiatan intra dan ekstra, termasuk penguatan ideologi Muhammadiyah.
Ladang Berjuang dan Beramal
Lebih dari sekadar institusi pendidikan, sekolah dan kampus Muhammadiyah juga menjadi ladang berjuang dan beramal. Misi keempat ini menempatkan pendidikan sebagai ruang aktualisasi nilai-nilai keikhlasan, pengabdian, dan kerja nyata.
Guru, tenaga kependidikan, hingga peserta didik didorong untuk menjadikan aktivitas pendidikan sebagai bagian dari ibadah. Semangat ini yang membedakan pendidikan Muhammadiyah dengan lembaga lainnya.
Misi kelima adalah membentuk manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang memiliki keseimbangan antara aspek spiritual, intelektual, emosional, dan sosial.
Sholihin menjelaskan bahwa pendidikan Muhammadiyah tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kepedulian sosial.
“Kita ingin melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi masyarakat luas,” tegasnya.
Di tengah arus globalisasi dan disrupsi teknologi, pendidikan Muhammadiyah dituntut untuk terus berinovasi tanpa kehilangan jati diri.
Lima misi tersebut menjadi referensi agar lembaga pendidikan Muhammadiyah tetap relevan dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
Dikatakan Kiai Sholihin, dengan jumlah sekolah dan perguruan tinggi yang tersebar di berbagai daerah, Muhammadiyah memiliki peran strategis dalam mencetak generasi unggul yang berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.
“Jika lima misi ini dijalankan dengan konsisten, pendidikan Muhammadiyah akan terus menjadi pilar penting dalam membangun peradaban Islam yang berkemajuan,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments