Halal Center Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menerima kunjungan akademik dari 18 mahasiswa Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) bersama dosen pendamping Dr. Siti Syahira Syafini.
Halal Center Umsida menyambut hangat kedatangan rombongan USIM di Kampus 1 Umsida pada Selasa, (26/5/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri oleh pengurus Halal Center Umsida, termasuk Prof. Hana Catur Wahyuni sebagai penasihat Halal Center Umsida dan Dr. Puspita Handayani, S.Ag., M.PdI., selaku Ketua Halal Center Umsida.
Dalam sambutannya, Dr. Puspita memperkenalkan profil dan peran Halal Center Umsida sebagai lembaga yang bergerak di bidang edukasi, pendampingan, penelitian, hingga penguatan sertifikasi halal bagi masyarakat dan pelaku usaha.
Fokus Dampingi UMKM dan Sertifikasi Halal
Dr. Puspita menjelaskan bahwa Halal Center Umsida dibentuk sebagai bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan berbasis nilai-nilai Islam, khususnya dalam mendukung legalitas produk halal di masyarakat.
“Kami berusaha menjadi jembatan dan fasilitator untuk mempermudah mendapatkan sertifikasi halal dengan pendampingan,” ujarnya.
Ia menyebut selama ini proses sertifikasi halal bagi pelaku usaha kecil dan mikro masih dianggap rumit, sehingga Halal Center hadir untuk membantu proses edukasi dan pendampingan.
Selain pendampingan, Halal Center Umsida juga aktif melakukan penelitian dan pengembangan publikasi ilmiah terkait halal lifestyle.
Bahkan, lembaga tersebut telah memiliki jurnal ilmiah yang fokus pada bidang halal.
Dr. Puspita turut menjelaskan bahwa Halal Center Umsida berada langsung di bawah naungan rektorat dan Direktorat Al Islam Kemuhammadiyahan (AIK), berbeda dengan konsep di USIM yang berada di bawah program studi.
Halal Center Umsida Tak Hanya Layani Mitra Besar
Dalam pemaparannya, Dr. Puspita memperlihatkan berbagai mitra yang telah didampingi Halal Center Umsida, mulai dari UMKM makanan, rumah sakit, industri air bersih, kemasan, logistik, hingga kosmetik.
Salah satu fokus pendampingan dilakukan pada instalasi gizi rumah sakit syariah Muhammadiyah agar seluruh makanan dan bahan yang digunakan telah memenuhi standar halal.
Selain itu, Halal Center Umsida juga mendampingi perusahaan logistik untuk memastikan proses distribusi tidak menyebabkan kontaminasi produk non-halal.
“Yang susah akses itu biasanya usaha kecil dan menengah, maka kita fokus mendampingi mereka,” jelas dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan itu.
Hingga Januari 2026, imbuh Dr. Puspita, Halal Center Umsida telah mendampingi lebih dari 150 pelaku usaha dalam proses sertifikasi halal.
Mahasiswa juga dilibatkan secara langsung melalui program magang selama satu bulan di Halal Center untuk mendampingi proses pengurusan sertifikat halal pelaku usaha.
Integrasikan Pendidikan dan Penelitian
Prof. Hana menjelaskan bahwa Halal Center Umsida tidak hanya bergerak pada pendampingan sertifikasi halal, tetapi juga mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
“Kami mengintegrasikan halal ini pada berbagai kegiatan, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat,” ungkapnya.
Menurutnya, isu halal saat ini telah masuk ke berbagai bidang keilmuan dan program studi di Umsida seperti Teknologi Laboratorium Medis (TLM), Magister Inovasi Sistem dan Teknologi (MIST), dan bidang lainnya.
Ia juga membuka peluang kerja sama internasional dengan USIM, termasuk pengembangan pembelajaran bersama berbasis teknologi seperti Zoom meeting dan e-learning.
“Kami sangat terbuka untuk saling menguatkan, baik di sisi institusi maupun kelembagaan halal center ini,” katanya.
Mahasiswa USIM Tertarik Sistem Sertifikasi Halal di Indonesia
Dosen pendamping mahasiswa USIM, Dr. Siti Syahira Syafini, menyampaikan bahwa kunjungan tersebut bertujuan untuk memperdalam pemahaman mahasiswa terkait industri halal dan sistem sertifikasi halal di Indonesia.
Ia menilai lembaga ini memiliki pendekatan yang relevan dengan bidang yang dipelajari mahasiswa USIM, khususnya syariah yang berfokus pada halal industri.
“Mereka sangat berminat untuk pergi intern ke luar negara. Jadi bila ada peluang magang di sini, insyaAllah kita akan buat future perbincangan,” ujarnya.
Menurutnya, mahasiswa ingin mengetahui secara langsung proses sertifikasi halal, audit, hingga sistem pendampingan yang dilakukan di Indonesia, termasuk mekanisme BPJPH dalam pelaksanaan sertifikasi halal.
Diskusi Rumah Sakit Syariah dan Kantin Halal
Kegiatan juga berlangsung interaktif melalui sesi diskusi bersama mahasiswa USIM. Salah satu mahasiswa, Anas, menanyakan konsep rumah sakit halal di Indonesia.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Dr. Puspita menjelaskan bahwa konsep rumah sakit halal di Indonesia dikenal sebagai rumah sakit syariah.
Ia menerangkan bahwa salah satu syarat rumah sakit syariah adalah instalasi gizi dan obat-obatan yang digunakan harus bersertifikat halal.
“Rumah sakit Muhammadiyah harus menjadi rumah sakit syariah,” jelasnya.
Selain rumah sakit, Dr. Puspita juga menjelaskan bahwa konsep halal kini diterapkan di sekolah melalui pengembangan kantin halal sebagai bagian dari indikator sekolah Adiwiyata.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments