Target besar telah dipancang. Lembaga pendidikan ini songsong generasi emas 2038 sebagai perwujudan generasi yang unggul di berbagai bidang. Langkah berani diambil oleh Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 7 Surabaya dalam merombak total pakem pendidikan dasar.
Sekolah yang terletak di Jalan Jagir Sidomukti VI D No. 5, Kecamatan Wonokromo ini secara konsisten mengintegrasikan empat pilar inovasi guna membekali Generasi Alpha menghadapi tantangan zaman modern, tanpa menanggalkan pondasi karakter Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.
Membidik Generasi Unggul 2038, SD Muhammadiyah 7 mengembangkan cetak biru strategi pengajaran ke dalam empat domain utama. Inovasi proses pembelajaran, pembaruan media ajar, penerapan teknologi tepat guna, serta transformasi standar pelayanan.
“Target menuju tahun 2038 itu bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan sebuah komitmen besar. Melalui kelas-kelas khusus seperti kelas alam dan ekspedisi sejarah, kami ingin membuktikan bahwa memperkuat karakter Al-Islam dan Kemuhammadiyahan tidak harus dilakukan kaku di dalam ruangan. Melainkan bisa tumbuh subur saat anak-anak berinteraksi langsung dengan realitas dunia luar,” kata Kepala SD Muhammadiyah 7 Surabaya, Achmad Zainuri Arif, M.Pd.
Arif menegaskan bahwa model komunikasi satu arah di dalam kelas sudah tidak lagi efektif untuk anak-anak masa kini. Selama empat tahun menakhodai sekolah tersebut, ia mendorong para pendidik menciptakan suasana belajar yang hidup dan bersinggungan langsung dengan realitas luar ruang.
“Anak-anak didorong aktif melalui ragam program ruang belajar alternatif. Kami membuka kelas alam, kelas kolaborasi, kelas ilmuwan cilik, kelas ekspedisi bersejarah, hingga kelas menulis,” ujar Achmad Zainuri Arif saat ditemui setelah sholat dhuhur, Selasa (26/5/2026) siang.

Setiap program memiliki karakteristik operasional yang spesifik. Di kelas alam, siswa diajak mengkontekstualisasikan teori abstrak ke dalam fenomena konkret. Seperti memahami konsep matematika dasar dengan menghitung langsung populasi rusa di habitat terbuka. Pendekatan interaktif ini dinilai berhasil memangkas kejenuhan siswa pada mata pelajaran eksakta.
Di sisi lain, perluasan jejaring eksternal diakomodasi melalui kelas kolaborasi. Siswa diterjunkan langsung untuk berinteraksi dengan instansi pemerintah, sektor swasta, hingga pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Pendekatan ini melatih kepekaan sosial sekaligus memperluas wawasan praktis anak sejak dini.
Sektor sains juga mendapat perhatian khusus melalui kelas ilmuwan cilik. Sekolah ini memindahkan ruang belajar sains ke laboratorium profesional demi memberikan pengalaman empiris kepada siswa. Salah satu implementasinya adalah kerja sama pemanfaatan Laboratorium Biologi Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) Surabaya dan SMA Muhammadiyah 3 (Smangga) Surabaya.
“Siswa kami ajak melakukan praktik sains langsung di laboratorium. Seperti mendeteksi kandungan karbohidrat pada bahan makanan. Ini membuat mereka paham bagaimana ilmu bekerja, bukan sekadar menghafal teks,” tambah Arif.
“Anak-anak zaman sekarang, atau Generasi Alpha ini, adalah pembelajar visual yang sangat kritis. Kehadiran teknologi seperti Interactive Flat Panel di sekolah kami bukan untuk menggantikan peran guru. Melainkan sebagai jembatan agar materi pelajaran yang tadinya abstrak dan membosankan bisa terlihat konkret, riil, dan jauh lebih mudah mereka pahami.”
Modernisasi ruang kelas turut ditopang oleh adopsi teknologi mutakhir secara masif. Berdasarkan intervensi bantuan kementerian terbaru, ruang-ruang kelas kini dilengkapi dengan fasilitas Interactive Flat Panel, mendampingi penggunaan proyektor LCD dan Smart TV yang sudah berjalan sebelumnya.
Penggunaan perangkat digital ini terbukti mengubah cara siswa memahami materi-materi rumit yang membutuhkan daya imajinasi tinggi. Ketika mempelajari materi biologi seperti sistem reproduksi makhluk hidup, guru tidak lagi bertumpu pada ilustrasi statis di buku teks atau metode ceramah konvensional. Siswa disajikan visualisasi tiga dimensi yang riil, dinamis, dan terukur.
Melalui integrasi menyeluruh antara sarana digital terbaru dan kurikulum berbasis karakter, SD Muhammadiyah 7 Surabaya berupaya memastikan seluruh siswanya tidak gagap teknologi. Muatan nilai moral keagamaan tetap menjadi kompas utama di tengah derasnya arus modernisasi dunia pendidikan saat ini.





0 Tanggapan
Empty Comments