Program magang internasional tidak hanya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi akademik, tetapi juga membuka peluang melakukan riset lintas budaya dan memperkenalkan identitas Indonesia di tingkat global.
Pengalaman tersebut dirasakan oleh mahasiswi Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Zahra, saat mengikuti program Academic Internship and Cultural Engagement di Distrik Chiang Khan, Provinsi Loei, Thailand Timur Laut (Northeastern Thailand).
Selama mengikuti program tersebut, Zahra menjalankan praktik mengajar Bahasa Inggris sekaligus mengembangkan media pembelajaran kreatif yang telah memperoleh pendaftaran Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Di luar aktivitas akademik, ia juga aktif mempelajari kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat melalui berbagai kegiatan budaya.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah keterlibatannya dalam mengamati tradisi Pha Sat Loi Kho, ritual budaya masyarakat Chiang Khan yang mayoritas beragama Buddha. Dalam tradisi tersebut, masyarakat menghanyutkan replika istana bunga ke Sungai Mekong sebagai simbol melepaskan kesialan sekaligus memanjatkan harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi bahan kajian ilmiah yang dituangkan dalam penelitian berjudul Flowing Beyond Fortune: A Psycholinguistic and Speech Act Analysis of the Pha Sat Loi Kho Ritual in Chiang Khan. Penelitian itu mengkaji hubungan antara tuturan doa yang diucapkan masyarakat selama ritual dengan kondisi psikologis mereka setelah prosesi berlangsung.
Menurut Zahra, ritual tersebut menunjukkan bagaimana ungkapan harapan yang disampaikan secara lisan dapat memberikan ketenangan batin sekaligus membangun optimisme masyarakat setelah mengikuti prosesi adat.

Selain melakukan riset budaya, Zahra juga mengikuti peringatan Thailand Literature Day yang diselenggarakan pada (24/7/2026) di Ban Chiang Khan Wichitwittaya School, salah satu sekolah mitra Umsura dalam program magang internasional tersebut.
Pada kegiatan itu, siswa mulai jenjang kindergarten hingga primary school menampilkan berbagai pertunjukan sastra, seperti pembacaan syair, drama musikal, dan musik yang diadaptasi dari karya para sastrawan Thailand.
“Beberapa karya sastra yang ditampilkan merupakan karya salah satu tokoh sastra paling populer di Thailand, yang posisinya kurang lebih seperti Emily Dickinson di Amerika Serikat,” jelas Zahra.
Tidak hanya hadir sebagai peserta, Zahra juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia kepada guru dan siswa melalui kegiatan berbagi budaya (sharing culture). Ia mengenalkan berbagai bahasa daerah, kekayaan tradisi, serta nilai-nilai budaya Indonesia yang mencerminkan semangat toleransi dan keberagaman.
Menurutnya, pengalaman internasional tidak hanya tentang menjalankan tugas akademik, tetapi juga membangun hubungan antarmasyarakat melalui pertukaran budaya.
“Kesempatan internasional memberi ruang untuk mengeksplorasi budaya, membangun koneksi, dan memberikan kontribusi kepada masyarakat di negara lain. Kami tidak hanya berbagi ilmu, tetapi juga memperkenalkan identitas budaya Indonesia serta nilai-nilai sosial dan adab yang menjadi bagian dari Muhammadiyah,” ungkapnya.
Melalui interaksi tersebut, masyarakat sekolah Ban Chiang Khan Wichitwittaya menunjukkan antusiasme terhadap keberagaman budaya Indonesia. Mereka tertarik mengetahui banyaknya bahasa daerah, tradisi, serta kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia.
Bagi Zahra, pengalaman magang internasional ini tidak hanya memperluas wawasan akademik, tetapi juga memperkuat kemampuan beradaptasi, berkomunikasi lintas budaya, serta membangun jejaring internasional. Pengalaman tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen Umsura dalam mendorong mahasiswa menjadi generasi yang berdaya saing global tanpa meninggalkan identitas budaya bangsa. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments