Ada persoalan serius dalam memahami ajaran agama dewasa ini. Seseorang terkadang merasa cukup membaca terjemahan Al-Qur’an. Kemudian, ia berani menafsirkan ayat tanpa bekal ilmu memadai. Bahkan, sebagian orang menyampaikan pemahamannya seolah-olah mewakili kebenaran agama.
Padahal, Al-Qur’an bukan sekadar kumpulan kalimat terjemahan. Kitab suci ini memiliki struktur bahasa Arab yang mendalam. Pemahamannya juga membutuhkan pengetahuan tentang konteks turunnya ayat.
Selain itu, pembaca perlu memahami hubungan antarayat dan kaidah kebahasaan. Penjelasan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga menjadi landasan memahami wahyu.
Karena itu, seseorang membutuhkan disiplin ilmu untuk mempelajari tafsir. Ia juga perlu mengikuti bimbingan ulama yang kompeten.
Tradisi keilmuan Islam mengenal sanad sebagai mata rantai transmisi ilmu. Sanad sekaligus menjadi bentuk pertanggungjawaban keilmuan.
Seseorang berisiko mengalami kekeliruan jika hanya mengandalkan terjemahan. Apalagi, ia menetapkan makna ayat tanpa memahami perangkat ilmu tafsir. Risiko tersebut semakin besar ketika ia menyebarkan pemahamannya kepada masyarakat. Pemahaman keliru dapat memengaruhi keyakinan orang lain.
Menafsirkan Al-Qur’an tanpa kompetensi bukan perkara sederhana. Setiap orang memikul tanggung jawab ketika berbicara atas nama Allah. Dalam keadaan tertentu, tindakan tersebut termasuk perbuatan terlarang. Sebab, seseorang telah berbicara tentang Allah tanpa dasar ilmu.
Salah satu kekeliruan muncul ketika seseorang menafsirkan ayat. Ia menganggap beberapa ayat mengakui konsep reinkarnasi atau kelahiran kembali. Padahal, Islam memiliki pandangan berbeda tentang perjalanan kehidupan manusia.
Mengapa Islam Tidak Mengenal Reinkarnasi?
Dalam konsep reinkarnasi, jiwa atau roh mengalami kelahiran kembali. Roh tersebut menempati tubuh lain setelah seseorang mengalami kematian. Siklus kehidupan itu dapat berlangsung berulang kali. Setiap keyakinan memiliki penjelasan tersendiri mengenai siklus tersebut.
Islam mengajarkan perjalanan kehidupan manusia melalui tahapan berbeda. Manusia menjalani kehidupan dunia, kemudian mengalami kematian. Setelah itu, manusia memasuki alam barzakh sebelum hari kebangkitan. Pada hari kiamat, Allah membangkitkan manusia untuk mempertanggungjawabkan amalnya.
Allah memberikan gambaran jelas melalui QS. Al-Mu’minun ayat 99–100. Ketika kematian datang, manusia yang menyia-nyiakan hidup memohon kembali.
Mereka berharap dapat memperbaiki amal saleh yang dahulu ditinggalkan. Namun, Allah tidak mengabulkan permintaan tersebut.
Di hadapan mereka terbentang alam barzakh hingga hari kebangkitan. Ayat tersebut menyampaikan pesan mendasar tentang kehidupan setelah kematian. Kematian bukan pintu menuju kehidupan dunia yang baru.
Manusia tidak kembali melalui tubuh lain setelah kematian. Mereka juga tidak menjalani siklus kehidupan sebagaimana konsep reinkarnasi.
Kehidupan Dunia Adalah Kesempatan, Bukan Pengulangan
QS. Al-Baqarah ayat 28 dan QS. Ghafir ayat 11 menjelaskan. Kedua ayat tersebut menyebut dua kali kematian dan dua kali kehidupan. Kandungan ayat itu menyimpan pesan filosofis yang mendalam.
Manusia memasuki dunia tanpa membawa apa pun. Kemudian, ia tumbuh, belajar, bekerja, mencintai, dan membangun keluarga. Manusia juga mengejar cita-cita serta mengumpulkan kekayaan. Bahkan, sebagian orang menghabiskan hidup demi kekuasaan dan pengakuan.
Namun, pada akhirnya manusia harus meninggalkan seluruh pencapaiannya. Jabatan berakhir, kekayaan berpindah tangan, dan popularitas memudar. Tubuh yang dahulu dibanggakan akhirnya kembali menjadi tanah.
Karena itu, pertanyaan penting bukanlah berapa kali manusia dilahirkan. Pertanyaan utamanya menyangkut penggunaan kesempatan hidup dari Allah. Sudahkah manusia memanfaatkan kehidupan untuk melakukan kebaikan?
Islam tidak memberikan kesempatan kembali ke dunia setelah kematian. Manusia harus mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya selama hidup. Karena itu, jangan menunggu kematian untuk memahami arti kehidupan.
Jangan menunggu kehilangan untuk belajar menghargai sesuatu. Juga jangan menunggu sakit untuk menyadari nikmat kesehatan. Termasuk pula jangan pula menunggu penyesalan akhirat untuk memperbaiki diri.
Memahami Wahyu dan Menjaga Akidah
Memahami Al-Qur’an tidak cukup dengan membaca dan menerjemahkan kata. Proses tersebut juga menuntut tanggung jawab intelektual dan spiritual. Terjemahan membantu manusia mengenali makna Al-Qur’an. Namun, terjemahan tidak dapat menggantikan kedudukan ilmu tafsir.
Membaca terjemahan tentu merupakan kegiatan baik dan dianjurkan. Namun, seseorang tidak boleh menetapkan kesimpulan akidah secara sembarangan. Ia perlu merujuk penjelasan ulama yang memiliki kompetensi keilmuan.
Belajar agama membutuhkan kerendahan hati dan kesungguhan. Semakin seseorang mendalami ilmu, semakin ia mengenali batas pengetahuannya. Pemahaman tersebut mencegah seseorang berbicara tanpa dasar keilmuan.
Dua kali kematian dan dua kali kehidupan bukanlah reinkarnasi. Keduanya merupakan bagian perjalanan manusia sebagaimana dijelaskan wahyu.
Perjalanan itu mencakup penciptaan, kehidupan dunia, kematian, dan alam barzakh. Selanjutnya, Allah membangkitkan manusia untuk mempertanggungjawabkan seluruh amalnya.
Manusia tidak menjalani kehidupan dunia berkali-kali. Allah memberikan satu kesempatan hidup untuk mempersiapkan kehidupan abadi. Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah kapan manusia hidup kembali. Pertanyaan sebenarnya: sudahkah kita mempersiapkan diri menghadapi akhir kehidupan dunia?






0 Tanggapan
Empty Comments