Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Sekjen MUI Dorong ITB Ahmad Dahlan Jadi Pusat Kewirausahaan Sosial

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Sekjen MUI Dorong ITB Ahmad Dahlan Jadi Pusat Kewirausahaan Sosial
Sekjen MUI Dr. H. Amirsyah Tambunan menyampaikan orasi ilmiah pada Wisuda ITB Ahmad Dahlan Jakarta di hadapan 442 wisudawan, di TMII, Jakarta (Jiaul Haq, S.Sos., M.M. CWC/PWMU.CO)
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
pwmu.co -

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (Sekjen MUI), Dr. H. Amirsyah Tambunan, mendorong Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB AD) Jakarta menjadi pusat pengembangan social entrepreneurship atau kewirausahaan sosial.

Menurutnya, konsep kewirausahaan sosial dapat mengintegrasikan kegiatan bisnis dengan misi sosial. Model ini, menurutnya mampu membangun kemandirian ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Amirsyah melontarkan gagasan tersebut dalam orasi ilmiah di hadapan 442 wisudawan ITB Ahmad Dahlan. Acara berlangsung di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Kamis (5/11/2026).

Ia menjelaskan, kewirausahaan sosial tidak hanya mengejar keuntungan finansial. Model usaha ini juga mengutamakan perubahan sosial dan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Karena itu, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam mengembangkan kewirausahaan sosial. Kampus perlu mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi sekaligus mencetak lulusan yang mampu menggerakkan pemberdayaan masyarakat.

Bisnis sebagai Instrumen Pemberdayaan Sosial

Amirsyah mengatakan bahwa kewirausahaan sosial memiliki orientasi berbeda dari bisnis konvensional. Bisnis konvensional umumnya mengutamakan keuntungan pemilik atau pemegang saham.

Sebaliknya, kewirausahaan sosial menempatkan misi sosial sebagai tujuan utama. Keuntungan usaha menjadi instrumen untuk memperluas pemberdayaan masyarakat.

Menurutnya, berbagai persoalan sosial membutuhkan solusi inovatif dan berkelanjutan. Penyelesaian persoalan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan tidak cukup hanya melalui bantuan sesaat.

Perlunya model usaha yang mampu menjangkau masyarakat berpenghasilan rendah. Termasuk kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan akses pembiayaan perbankan.

Usaha sosial juga harus mampu menghasilkan pendapatan melalui penjualan produk maupun jasa. Dengan demikian, keberlanjutan program tidak terus bergantung pada donasi dan hibah.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

“Keuntungan yang diperoleh dari kegiatan usaha sosial dapat diinvestasikan kembali untuk memperluas program pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, kegiatan sosial tidak hanya bergantung pada bantuan, tetapi memiliki sumber pembiayaan yang mandiri dan berkelanjutan,” jelasnya.

ITB Ahmad Dahlan Diharapkan Melahirkan Inovator Sosial

Lebih lanjut, Amirsyah menekankan pentingnya inovasi dan pemanfaatan teknologi. Kreativitas dalam menciptakan solusi baru menjadi modal menghadapi persoalan sosial yang bersifat sistemik.

Ia juga menjelaskan perbedaan bisnis konvensional, organisasi nirlaba, dan kewirausahaan sosial.

Bisnis konvensional berorientasi pada keuntungan finansial. Sementara itu, organisasi nirlaba seperti organisasi kemasyarakatan, NGO, dan yayasan lebih mengutamakan misi sosial melalui dukungan donasi atau hibah.

Adapun kewirausahaan sosial menggabungkan mekanisme bisnis dengan tujuan pemberdayaan masyarakat. Salah satu penerapannya melalui subsidi silang, sehingga keuntungan usaha dapat membiayai program sosial.

Melalui pendekatan tersebut, ITB Ahmad Dahlan diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan berkompeten. Kampus juga diharapkan melahirkan inovator dan wirausahawan sosial yang mampu menghadirkan solusi nyata.

Pengembangan kewirausahaan sosial menjadi salah satu jalan untuk memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat. Sekaligus mendorong perguruan tinggi mengambil peran lebih besar dalam mewujudkan kesejahteraan umat secara berkelanjutan.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 06/11/2026 15:27
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu