Semangat belajar lintas budaya tampak begitu hidup dalam kegiatan Cultural Exposure yang diikuti oleh 54 siswa kelas VIII International Class Program (ICP) SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik (Spemdalas), Rabu (29/4/2026).
Didampingi empat guru, para siswa menjelajah dua pusat kebudayaan dunia di Surabaya: Institut Français Indonesia dan King Sejong Institute Surabaya.
Kegiatan ini menjadi jembatan nyata bagi siswa untuk mengenal lebih dekat bahasa dan budaya global, khususnya Perancis dan Korea, yang selama ini lebih sering mereka lihat melalui media.
Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum, Jamilah, S.Si., M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan cross-cultural understanding. “Harapannya, siswa tidak hanya tertarik belajar bahasa asing, tetapi juga semakin menghargai budaya sendiri,” ujarnya.
Eksplorasi Budaya Perancis di IFI
Kunjungan ke Institut Français Indonesia menjadi pembuka pengalaman internasional siswa. Mereka disambut langsung oleh direktur IFI, Vincent Padare.
Kegiatan diawali dengan pemaparan kebudayaan Perancis yang memperluas wawasan siswa tentang negara yang bahasanya digunakan oleh lebih dari 300 juta penutur di dunia. Siswa juga menyaksikan film Perancis serta mencoba praktik bahasa sederhana.
Tidak hanya itu, mereka diajak mengeksplorasi Mediatheque, ruang kreatif yang memungkinkan siswa belajar, bermain, dan bertukar ide. Suasana belajar terasa santai namun tetap sarat makna.
Pembelajaran Interaktif di King Sejong Institute
Kunjungan berlanjut ke King Sejong Institute Surabaya yang berada di lingkungan Petra Christian University. Kegiatan di sini dirancang sebagai pengalaman belajar lintas budaya yang autentik dan interaktif.
Sesi diawali dengan orientasi dan pembukaan oleh Dr.Listia Natadjaja , Direktur KSI Surabaya yang memperkenalkan peran KSI dalam menyebarkan bahasa dan budaya Korea. Materi kemudian diperkaya melalui media visual sebelum siswa memasuki kelas interaktif.
Pada sesi inti, siswa mengikuti dua aktivitas utama secara bergantian melalui sistem rotasi kelas. Ms. Felicia memandu kelas kaligrafi Korea, sementara Mr. Hong memimpin permainan tradisional Korea, Yutnori. Aktivitas ini dikemas dalam bentuk kompetisi, sehingga suasana belajar menjadi semakin hidup, kolaboratif, dan menyenangkan.
Koordinator ICP sekaligus ketua rombongan, Wiwik Indrawati, S.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan pendidikan berbasis internasional. “Konsep utamanya adalah membentuk karakter global citizen yang terbuka, toleran, dan adaptif,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa respon siswa sangat positif. Selain menyenangkan, kegiatan ini juga menantang dalam konteks internasional. Ke depan, program ini akan dikembangkan secara berkelanjutan melalui evaluasi dan inovasi.
Observasi Guru Pendamping
Menurut Haifa Marta,S.Pd yang bertugas sebagai guru pendamping, sejak keberangkatan siswa menunjukkan antusiasme tinggi—terlihat enjoy, happy, dan terlibat aktif. Setelah kegiatanpun, siswa menjadi lebih ceria dan berani mencoba pengalaman baru dalam bahasa asing.
Momen paling berkesan terjadi saat bermain yutnori, meskipun tantangan utama adalah perbedaan bahasa selain Inggris. Dari proses tersebut, siswa justru mendapatkan nilai penting berupa pemahaman budaya Korea dan Prancis yang menarik.
Testimoni Siswa
Pengalaman langsung ini memberikan kesan mendalam bagi para siswa. Indira Elkeisha Zahra dari kelas VIII Germanium mengaku mendapatkan perspektif baru tentang budaya dunia.
“Awalnya saya pikir Perancis hanya tentang Menara Eiffel dan Korea tentang K-pop. Ternyata budaya mereka jauh lebih luas dan menarik untuk dipelajari,” ujarnya. Ia juga merasa senang bisa mencoba langsung bahasa asing meskipun cukup menantang dalam pengucapan.
Sementara itu, Maheswari Arimbi AF dari kelas VIII Germanium menyoroti keseruan interaksi langsung selama kegiatan.
“Bermain Yutnori itu seru sekali karena saya belum pernah mencobanya. Belajar bahasa baru juga menantang, tapi justru di situ letak keasyikannya,” ungkapnya.
Keduanya sepakat bahwa pengalaman ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga memotivasi mereka untuk belajar bahasa asing lebih serius bahkan bercita-cita melanjutkan studi ke luar negeri.
Tidak hanya belajar bahasa, melalui kegiatan ini siswa juga menyerap nilai-nilai penting dan penghargaan terhadap perbedaan budaya.
Cultural Exposure ICP Spemdalas pun menjadi upaya nyata membentuk generasi muda berwawasan global, adaptif, dan tetap berakar kuat pada jati diri bangsa. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments