Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mengapa Anak Muda Surabaya Ikut Bergerak Saat Hutan Kalimantan Terbakar? Ini Jawabannya

Iklan Landscape Smamda
Mengapa Anak Muda Surabaya Ikut Bergerak Saat Hutan Kalimantan Terbakar? Ini Jawabannya
pwmu.co -

Puluhan pemuda dari berbagai elemen komunitas di Surabaya menggelar diskusi terbuka untuk merespons krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Kemanusiaan, lantai rooftop, Jalan Ahmad Jaiz, Sabtu (5/9/2026) malam.

Forum bertajuk “Padamkan Baranya, Nyalakan Pedulinya: Langkah Kecil Kita Buat Hutan Indonesia” itu menjadi ajang konsolidasi pemuda untuk membedah krisis ekologis sekaligus menyusun langkah mitigasi berbasis komunitas.

“Kehadiran anak-anak muda Surabaya di sini jadi sinyal positif bahwa kepedulian mereka tidak dibatasi oleh sekat wilayah. Asap kebakaran hutan hari ini di Kalimantan bisa saja membawa dampak buruk bagi ruang hidup kita di Jawa Timur besok lusa. Makanya ruang diskusi seperti ini penting untuk terus dihidupkan di berbagai komunitas sebagai bahan edukasi dan langkah pencegahan bersama,” jelas Indra.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 18.30 hingga 21.30 WIB tersebut diinisiasi Komunitas Lentera Cakra bersama Koalisi Literasi dan didukung penuh Lazismu Surabaya.

Acara menghadirkan Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur, Pradipta Indra A., yang memaparkan eskalasi bencana karhutla serta ancamannya terhadap keberlangsungan ruang hidup masyarakat.

Ketua Komunitas Lentera Cakra, Muhammad Akbar Maulana Kusuma, menuturkan diskusi tersebut diselenggarakan untuk menyerap keresahan warga atas bencana tahunan ini.

Menurutnya, partisipasi masyarakat tidak selalu bergantung pada kehadiran fisik di lapangan pemadaman. Kontribusi dapat diwujudkan melalui kerja-kerja kolektif dari daerah asal, mulai dari amplifikasi narasi di media sosial hingga penggalangan dana darurat.

“Tiap orang punya peran masing-masing. Tidak semua orang itu harus memadamkan langsung ke Kalimantan, tapi dengan cara kita untuk mem-posting ulang atau me-reply story atau sekedar menyisihkan sebagian uang, kita bisa ikut berkontribusi,” ujar Akbar.

Direktur WALHI Jatim, Pradipta Indra A., menilai ruang dialog tersebut krusial untuk membangun kesadaran kritis generasi muda.

Bencana karhutla yang terjadi lintas kepulauan berpotensi meluas dan memberikan dampak sistemik bagi wilayah lain, termasuk Jawa Timur, apabila tidak diantisipasi melalui tindakan preventif yang komprehensif.

SMPM 5 Pucang SBY

“Ini memperlihatkan bagaimana teman-teman pemuda Surabaya punya kepedulian terhadap saudara-saudara kita di Kalimantan. Saya berharap ruang diskusi ini tidak berhenti malam hari ini, tapi bisa memunculkan ruang diskusi lain dan menghasilkan produk pengetahuan yang bisa dijadikan pendidikan publik,” kata Indra.

Dukungan terhadap konsolidasi pemuda tersebut juga datang dari sektor filantropi. Ketua Lazismu Surabaya, Faisal Haqqi, SE., menegaskan komitmen organisasinya dalam memfasilitasi ruang-ruang kritis bagi pemuda lintas generasi, mulai dari generasi Milenial, Gen Z, hingga Gen Alpha.

Melalui sambungan telepon, Faisal menyampaikan bahwa kerja filantropi harus meluas pada pembentukan mentalitas dan daya kritis masyarakat terhadap isu-isu krusial.

“Kami di Lazismu akan terus dukung gerakan-gerakan kebaikan seperti ini. Lembaga filantropi itu fokusnya bukan cuma bagi-bagi bantuan, tapi juga memfasilitasi ruang gagasan untuk anak-anak muda, dari Gen Z sampai Milenial. Harapannya, isu-isu hangat yang ramai di media sosial tidak cuma ditelan mentah-mentah, melainkan disaring dan didiskusikan dulu secara bijak,” kata Faisal melalui sambungan telepon.

Faisal juga menilai penyediaan ruang diskusi menjadi bagian dari kontribusi gerakan filantropi dalam mendorong kreativitas dan daya kritis kawula muda.

“Memberikan fasilitas untuk ruang diskusi merupakan bukti bahwa gerakan filantropi tidak hanya untuk kemaslahatan umat saja, tetapi juga membuka ruang bagi kreativitas kawula muda. Ini memberikan masukan positif atas isu yang lagi hangat di sosmed agar tidak ditelaah mentah-mentah, melainkan difilter dan didiskusikan secara bijak,” tutur Faisal.

Diskusi tersebut menjadi salah satu bentuk keterlibatan anak muda Surabaya dalam merespons persoalan lingkungan yang terjadi di wilayah lain. Melalui edukasi, penyebaran informasi, penggalangan dukungan, dan penguatan jejaring komunitas, kepedulian terhadap karhutla diharapkan dapat berkembang menjadi gerakan bersama.

Revisi Oleh:
  • Satria - 06/09/2026 21:03
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu