Dalam rangka memperingati HUT ke-80 RI, MI Muhammadiyah 3 Doudo (Mimuga) Panceng, Gresik adakan perlombaan bertema Memperkenalkan dan Melestarikan Permainan Tradisional. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa–Kamis (19–21/8/2025) di halaman sekolah Mimuga.
Perlombaan berlangsung selama tiga hari dengan suasana meriah. Pada hari pertama, digelar lomba gobak sodor yang mempertemukan kelompok kelas besar dan kelas kecil.
Hari kedua diwarnai adu kreativitas dengan lomba membuat layang-layang untuk siswa kelas 3–6 laki-laki serta lomba sal-nep yang khusus diikuti oleh seluruh siswi Mimuga.
Sementara itu, hari ketiga menjadi puncak acara dengan penampilan lomba kreasi seni antarkelas, baik kelas besar maupun kecil, yang dipadukan dengan penilaian kebersihan dan keindahan kelas.
Gobak Sodor
Permainan tradisional Indonesia yang dimainkan secara berkelompok ini dipilih untuk melatih kerja sama tim, strategi, dan kelincahan dalam bermain.
Dua minggu sebelumnya, siswa-siswi Mimuga sudah dibagi kelompok sehingga mereka bisa leluasa berlatih dan mengatur strategi.
Azza Sasmita Abhirama, siswi kelas 6 sekaligus ketua kelompok, membagikan tips dan strategi yang membuat kelompoknya menang.
“Saat lawan lengah dan tidak fokus, kita langsung masuk dan bisa mendapat poin lebih banyak,” ungkapnya saat diwawancarai.
Layang-Layang
Berawal dari melihat kesenangan siswa dalam bermain layang-layang, Mimuga ingin memberikan wadah kepada siswa-siswa yang berbakat dan senang bermain layang-layang dalam bentuk perlombaan.
Hanya saja yang berbeda, biasanya siswa langsung membeli layangan dan memainkannya. Namun, dalam perlombaan ini siswa ditantang untuk merangkai dan membuat sendiri layangan di tempat sekaligus menerbangkannya.
“Anak-anak terlihat sekali antusiasnya, tetapi untuk membuat layangan kebanyakan dari mereka belum bisa atau belum tahu cara merakit dan membuatnya walaupun memang sudah ada satu dua anak yang sudah menguasai, mungkin karena biasanya anak-anak membeli langsung layangannya dan belum pernah membuat sendiri,” ujar salah satu juri lomba layangan, Afkarul Mujaddidi.
Sal-Nep
Siapa yang masih mengenal permainan ini di zaman modern? Di saat anak-anak Gen Z lebih tertarik bermain Mobile Legends, masihkah permainan tradisional ini dikenal?
Di sinilah Mimuga ingin kembali memperkenalkan permainan tradisional khas Gresik agar tidak dilupakan dan bisa dilestarikan hingga generasi selanjutnya.
“Permainannya tidak susah, menyenangkan,” ungkap Shafiyya Almaira Rahma, siswi kelas 5 selaku juara 1 lomba Sal-Nep kelas besar saat ditanya oleh salah satu dewan guru.
Rara, nama panggilannya, mengatakan bahwa ia sebelumnya tidak mengetahui permainan Sal-Nep merupakan permainan khas Gresik dan belum pernah memainkannya.
Kreasi Seni dan Kebersihan Keindahan Kelas
Lomba kreasi seni yang dimaksud adalah penampilan kesenian, baik tari, menyanyi, puisi, drama, dan sebagainya.
Perlombaan tersebut dibagi menjadi kelas besar dan kelas kecil, dengan harapan siswa-siswi dapat melatih kekompakan kelas serta keberanian dalam bidang seni.
Lomba yang tidak pernah absen dari kegiatan PHBN Agustusan di Mimuga ini tidak kalah meriah. Wali murid dilibatkan dalam menghias, membersihkan, dan mendekorasi kelas.
Hal tersebut bertujuan agar terjalin sinergi antara sekolah dan wali murid, serta siswa-siswi merasa nyaman dalam kegiatan belajar mengajar yang didukung suasana baru di kelas.





0 Tanggapan
Empty Comments