Warga SMA Muhammadiyah 2 (SMA Muha) Genteng, Banyuwangi melaksanakan apel pagi dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2026 yang memasuki tahun ke-118 pada Rabu (20/5/2026).
Bertempat di halaman sekolah, seluruh guru dan tenaga kependidikan (GTK) mengenakan batik Panca Karya sehingga warna hijau tampak mendominasi di tengah kegiatan upacara.
Batik Panca Karya
Pada setiap bulan di tanggal 18 hari efektif, busana kerja GTK SMA Muha Genteng adalah batik Forum Guru Muhammadiyah (FGM) dengan dasar biru tua bermotif putih dipadu dengan logo persyarikatan.
Dua hari kemudian, menjelang Hari Kebangkitan Nasional, melalui pesan singkat WhatsApp grup sekolah, disampaikan instruksi kepala sekolah agar semua GTK memakai busana batik nasional Muhammadiyah dalam rangka menyambut Harkitnas. Guna menunjukkan rasa nasionalisme warga Muhammadiyah, bunyi pesan singkatnya.
Batik nasional Muhammadiyah sendiri memiliki nama Batik Panca Karya dengan warna dasar hijau tua yang dihias sedikit motif kawung dan logo Muhammadiyah sehingga memiliki warna khas yang mewakili identitas. Batik ini secara resmi telah diluncurkan secara nasional pada 25 Februari 2018 silam di Graha Suara Muhammadiyah.
Sampaikan Pidato Kementerian Komdigi
Tepat pukul 06.30 WIB, apel Harkitnas dimulai dengan diikuti oleh sebagian GTK dan seluruh siswa-siswi kelas XI. Karena bertepatan dengan kegiatan Penilaian Sumatif Akhir Jenjang (PSAJ) semester genap, peserta apel hanya diikuti oleh para peserta didik sesi pertama, sedangkan untuk kelas X masuk sesi kedua pada jam 09.15 WIB.
Bertindak selaku pembina apel adalah Adhe Yoga Rivaldi, S.Sos., salah satu guru PPKn SMA Muha Genteng. Dalam sambutannya, Adhe membacakan sebagian teks resmi pidato Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Republik Indonesia, Meutya Viada Hafid, dalam menyambut Harkitnas.
“Tema dari peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun ini adalah “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”, terangnya.
Kemudian Adhe Yoga membacakannya,” tepat pada hari ini, 20 Mei 2026, kita kembali merefleksikan momentum fundamental yang merujuk pada berdirinya organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908.
Sejarah mencatat bahwa peristiwa tersebut adalah “fajar menyingsing” bagi kesadaran berbangsa, di mana kaum terpelajar pribumi mulai mengonsolidasikan kekuatan melalui pemikiran dan organisasi, melampaui sekat-sekat kedaerahan yang selama berabad-abad menjadi titik lemah perjuangan.
Semangat 1908 adalah tonggak di mana perlawanan fisik mulai bertransformasi menjadi perjuangan intelektual dan diplomatik demi kedaulatan bangsa yang bermartabat”.
Tiga puluh menit berlalu, apel menyambut Harkitnas SMA Muha pun usai. Seluruh peserta didik kelas XI masuk ke kelas untuk melaksanakan PSAJ dan para guru pengawas yang berbusana batik Panca Karya mulai menjalankan tugasnya masing-masing. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments