Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Muhammadiyah Historical Walk Telusuri Jejak dr. Soetomo di FK Unair

Iklan Landscape Smamda
Muhammadiyah Historical Walk Telusuri Jejak dr. Soetomo di FK Unair
Para peserta MHW dr. Soetomo Session ketika berkunjung ke Museum Pendidikan Kedokteran Universitas Airlangga. Foto: Huda
pwmu.co -

Jejak sejarah pendidikan kedokteran dan kiprah dr. Soetomo di Muhammadiyah menjadi bagian penting dalam Muhammadiyah Historical Walk dr. Soetomo Session yang digelar Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Ahad (4/10/2026).

Kegiatan ini diikuti unsur PWM Jatim, Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU) PWM Jatim, Majelis Pustaka dan Informasi Digital (MPID) PWM Jatim, serta para direktur rumah sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Jawa Timur.

Peserta mengunjungi sejumlah lokasi yang memiliki keterkaitan dengan sejarah dr. Soetomo, yakni Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), RSUD dr. Soetomo, Gedung Nasional Indonesia, dan redaksi majalah Panjebar Semangat.

Kunjungan pertama di FK Unair membawa peserta menyusuri Museum Pendidikan Kedokteran. Kurator museum, Agus Dias, menjelaskan perjalanan panjang pendidikan kedokteran di Indonesia, termasuk sejarah yang menjadi cikal bakal FK Unair.

Menurutnya, pada pertengahan abad ke-19 Pemerintah Kolonial Belanda mendirikan Sekolah Dokter Djawa atau Dokter Djawa School di Weltevreden, Batavia. Sekolah tersebut didirikan karena terbatasnya tenaga kesehatan di Hindia Belanda, sementara berbagai wabah, termasuk malaria, terus bermunculan.

“Para lulusan Sekolah Dokter Djawa kemudian menjadi mantri ‘cacar’,” terang Agus.

Sekolah tersebut kemudian mengalami reorganisasi. Pada 1902, namanya berubah menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA). Lulusan sekolah ini memperoleh gelar Inlandsche Arts.

Pada 1913, nama tersebut kembali berubah menjadi School Tot Opleiding van ‘Indische’ Artsen. Perubahan istilah dari inlandsche menjadi indische menunjukkan perluasan akses pendidikan kedokteran yang tidak lagi terbatas bagi pribumi Jawa.

Pada tahun yang sama, Surabaya memiliki sekolah kedokteran sendiri, yakni Nederlands Indische Artsen School (NIAS) yang berada di Jalan Kedungdoro No. 38. NIAS diresmikan pada 1 Juli 1913 dan memulai pendidikan pada 15 Juli 1913.

Pembukaan NIAS tidak terlepas dari kebutuhan tenaga kesehatan yang masih terbatas, meskipun STOVIA telah menerima semakin banyak pendaftar.

Salah satu tokoh penting yang memiliki keterkaitan dengan NIAS adalah dr. Soetomo. Tokoh pendiri Boedi Oetomo tersebut pernah berperan sebagai dosen di NIAS.

Usai mendapatkan penjelasan di museum, peserta diajak berkeliling bangunan FK Unair yang masih mempertahankan sejumlah karakter arsitektur kolonial. Mereka juga melihat berbagai prasasti yang mencatat nama-nama dokter lulusan NIAS hingga perkembangannya menjadi bagian dari Universitas Airlangga.

SMPM 5 Pucang SBY

Banyak Tokoh Muhammadiyah Lulusan NIAS

Sejarawan Muhammadiyah Jawa Timur, Muhammad Kholid Asyadulloh, menjelaskan bahwa sejarah NIAS juga berkaitan erat dengan lahirnya sejumlah tokoh Muhammadiyah di bidang kesehatan.

“Banyak tokoh Muhammadiyah yang dicetak oleh NIAS. Contohnya adalah dr. M. Soewandhie yang kini diabadikan sebagai nama RSUD di Surabaya,” jelasnya.

Ia menambahkan, tokoh lainnya adalah dr. M. Koesnadi. Namanya kini diabadikan sebagai nama RSUD di Bondowoso.

Jejak keterhubungan dr. Soetomo dengan Muhammadiyah juga cukup kuat. Ia tercatat pernah menjabat sebagai Medisch Adviseur Pengurus Besar Muhammadiyah pada 1925–1938.

“dr. Soetomo juga berperan dalam pembangunan Poliklinik Muhammadiyah yang kedua, yang dibangun di Surabaya,” ungkap Kholid.

 

Rangkaian kunjungan di FK Unair ditutup dengan penyerahan sertifikat penghargaan dari PWM Jatim kepada FK Unair. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi karena FK Unair turut merawat dan menjaga kenangan sejarah dr. Soetomo.

Sertifikat diserahkan Wakil Ketua PWM Jatim Dr. Hidayatulloh, M.Si., dan diterima perwakilan FK Unair, Kepala Departemen Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Prof. Dr. Imam Subadi, dr., Sp.K.F.R., N.M.(K).

“Terima kasih sudah menerima dengan hangat kunjungan dari PWM Jatim,” ujar Hidayatulloh.

Muhammadiyah Historical Walk Telusuri Jejak dr. Soetomo di FK Unair
Penyerahan Sertifikat Penghargaan dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur kepada Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Foto: Huda

Muhammadiyah Historical Walk ini tidak sekadar mengajak peserta mengunjungi bangunan bersejarah. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk membaca kembali hubungan antara sejarah pendidikan kedokteran, perjuangan kesehatan masyarakat, dr. Soetomo, dan perjalanan Muhammadiyah di Jawa Timur. (*)

Revisi Oleh:
  • Wildan Nanda Rahmatullah - 04/10/2026 22:36
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu