Menjadi Master of Ceremony (MC) tidak cukup hanya dengan mampu membaca susunan acara. Seorang MC dituntut memiliki kemampuan komunikasi, memahami keprotokolan, serta mampu membangun suasana agar rangkaian kegiatan berjalan tertib dan nyaman bagi peserta.
Hal tersebut menjadi salah satu materi yang ditekankan dalam pelatihan MC pada kegiatan Silatul Ukhuwah Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) dan Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) se-Cabang Laren di Ranting Dateng, Ahad (9/8/2026).
Mengangkat tema “MC Andal, Pilar Suksesnya Acara”, pelatihan menghadirkan Kepala Pusat Bahasa sekaligus dosen Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla), Naajihah Mahruudloh, S.Pd., M.Pd., sebagai narasumber.
Dalam pemaparannya, Naajihah menjelaskan bahwa MC memiliki posisi penting dalam sebuah kegiatan. Selain menjadi pembawa acara, MC berperan sebagai penghubung antara penyelenggara, narasumber, tamu undangan, dan peserta.
Karena itu, seorang MC perlu memiliki kemampuan untuk menjaga perhatian audiens sekaligus memastikan setiap tahapan acara berlangsung sesuai alur yang telah ditentukan.
Tiga Unsur Komunikasi MC
Salah satu materi yang diberikan adalah dasar komunikasi efektif melalui tiga unsur, yakni visual, vokal, dan verbal.
Aspek visual berkaitan dengan bagaimana seorang MC menampilkan dirinya di hadapan audiens. Ekspresi wajah, kontak mata, bahasa tubuh, hingga penampilan menjadi bagian yang perlu diperhatikan karena turut memengaruhi penerimaan peserta terhadap pembawa acara.
Sementara itu, aspek vokal mencakup intonasi, artikulasi, volume, serta kecepatan berbicara. Penguasaan unsur tersebut diperlukan agar informasi yang disampaikan MC dapat terdengar jelas dan tidak monoton.
Adapun aspek verbal berkaitan dengan pemilihan kata. Seorang MC perlu menggunakan bahasa yang sederhana, jelas, dan sesuai dengan karakter acara sehingga pesan dapat diterima audiens dengan baik.
Naajihah mengatakan, kemampuan komunikasi tersebut perlu terus dilatih agar kader tidak hanya berani tampil, tetapi juga mampu menyampaikan pesan secara tepat.
“Menjadi MC bukan sekadar bagaimana kita berbicara di depan orang banyak. Ada visual, vokal, dan verbal yang harus diperhatikan agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh audiens,” jelasnya.
Pahami Keprotokolan dan Etika Berbicara
Selain kemampuan komunikasi, peserta juga mendapatkan materi mengenai keprotokolan. Pemahaman terhadap protokol diperlukan agar MC mampu memahami tata tempat, urutan acara, serta kedudukan tamu undangan dalam kegiatan formal.
Dengan penguasaan keprotokolan, seorang MC diharapkan dapat menjalankan tugasnya secara lebih tertib sekaligus menghindari kesalahan dalam menyebutkan maupun menempatkan pihak-pihak yang hadir dalam sebuah acara.
Materi kemudian diperkuat dengan pembahasan mengenai etika komunikasi. Salah satu prinsip yang diperkenalkan adalah qaulan sadida, yakni menyampaikan perkataan yang benar.
Prinsip tersebut menjadi pengingat bahwa setiap ucapan MC memiliki konsekuensi. Karena itu, kata-kata yang disampaikan harus dipilih secara tepat, benar, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Naajihah menilai kesempatan belajar perlu dimanfaatkan oleh kader untuk meningkatkan kapasitas sekaligus memperluas manfaat bagi organisasi dan masyarakat.
“Setiap kesempatan belajar perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan sekaligus memberikan kontribusi bagi organisasi dan masyarakat,” tuturnya.
Pelatihan tersebut diikuti perwakilan PCA dan PRA se-Cabang Laren. Selain mendapatkan materi, peserta diarahkan untuk memahami bahwa keterampilan menjadi MC dapat dikembangkan melalui latihan yang berkelanjutan.
Bagi kader Aisyiyah, kemampuan tersebut dapat menjadi bekal untuk terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi, mulai dari pengajian, rapat, pelatihan, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan.
Pelatihan ini sekaligus memperluas ruang pengembangan kapasitas kader Aisyiyah di tingkat ranting. Dengan kemampuan komunikasi yang lebih baik, kader diharapkan semakin percaya diri menjalankan peran dalam berbagai kegiatan dan mampu menyampaikan pesan organisasi secara komunikatif.
Kegiatan ditutup dengan pesan bahwa kemampuan berbicara bukan hanya berkaitan dengan banyaknya kata yang disampaikan, tetapi juga bagaimana setiap perkataan dapat memberikan makna dan diterima dengan baik oleh orang lain. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments