Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Penguatan Pendidikan Karakter di Lembaga Pendidikan di Tengah Darurat Adab

Iklan Landscape Smamda
Penguatan Pendidikan Karakter di Lembaga Pendidikan di Tengah Darurat Adab
Oleh : Drs. Najib Sulhan, MA Ketua PCM Mulyorejo

Ada alasan yang mendasari konsep pendidikan karakter harus dilakukan dengan serius oleh sekolah. Bukan sekadar pemahaman sesaat asal membuat program, tetapi harus dibangun dalam sistem yang dikawal dengan kesadaran.

1. Darurat Adab

Ketika Nabi Muhammad saw diangkat menjadi rasul, perintah pertama yang harus dilakukan adalah menyempurnakan akhlak.

“Sesungguhnya aku diutus ke dunia adalah untuk menyempurnakan akhlak.”

Tugas kerasulan adalah untuk menyempurnakan akhlak, dari akhlak jahiliyah yang buruk (akhlaqul madhmumah) menjadi akhlak mulia (akhlaqul karimah).

Saat ini terjadi penurunan akhlak pada generasi muda. Rasa malu menjadi barang mahal. Tidak jarang anak melanggar norma, baik di masyarakat maupun di sekolah. Kesalahan dianggap biasa karena masih remaja.

Sikap santun kepada orang tua juga mulai hilang. Anak memperlakukan orang tua semaunya, baik dalam ucapan maupun tindakan.

Anak mudah tersulut emosi. Hanya dipandang saja sudah dianggap melawan. Dinasehati justru membalas dengan permusuhan. Bahkan tawuran masih sering terjadi.

Anak pintar, hebat, dan cerdas memang banyak. Namun jika tidak diperkuat dengan adab, ilmu yang dimiliki dikhawatirkan tidak bermanfaat.

Maka ilmu harus diimbangi dengan adab. Di tengah darurat adab ini, pendidikan karakter harus diperkuat.

2. Hilangnya Figur Panutan

Anak-anak membutuhkan figur panutan, terutama dari orang tua dan guru.

Namun kenyataannya:

  • Orang tua sibuk mencari nafkah
  • Waktu untuk memberi teladan sangat terbatas

Anak kemudian berharap pada guru. Namun guru sering terjebak pada peran pengajar (transfer of knowledge), sementara peran mendidik (transfer of value) kurang optimal.

Selain itu, kriminalisasi terhadap guru sering terjadi. Guru sedikit salah langsung disalahkan, bahkan oleh pihak yang memiliki kekuasaan. Perlindungan terhadap guru masih lemah.

Akibatnya:

  • Guru memilih aman
  • Guru melepas tanggung jawab
  • Hanya sedikit guru yang tetap idealis

Dampaknya sangat besar bagi anak. Mereka kehilangan figur teladan. Orang tua membela anak meski salah. Guru membiarkan karena takut.

Generasi akhirnya tumbuh lemah karena kehilangan panutan.

3. Konsep Pendidikan yang Salah Arah

Pendidikan saat ini terlalu menekankan nilai akademik dan kebutuhan material.

Fokusnya pada:

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

  • sandang
  • pangan
  • papan

Seolah hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Pendidikan memang melahirkan orang cerdas. Namun banyak yang tidak dibekali akhlak, moral, dan etika.

Akibatnya, kebutuhan hidup ditempuh melalui jalan yang salah, seperti praktik suap (risywah).

“Laknat Allah bagi penyuap dan yang menerima suap.”
(HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

Al-Qur’an juga menegaskan:

“Janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan Sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.”
(Q.S. Al-Baqarah: 188)

Saat ini juga muncul fenomena “penjilat”. Mereka tidak lagi jujur, tetapi memilih aman demi jabatan.

“katakanlah yang benar meskipun itu pahit.”
(HR. Ibnu Hibban dan Baihaqi)

Hadits ini mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak boleh diam saat melihat kemungkaran.

Ada doa yang diajarkan Rasulullah agar tetap berada di jalan kebenaran:

“Ya Allah tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar dan bantulah kami untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepada kami yang batil itu batil dan bantulah kami untuk menjauhinya. Janganlah Engkau menjadikannya samar di hadapan kami sehingga kami tersesat. Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.”
(HR. Ahmad)

Dari konsep pendidikan yang salah, akan lahir generasi yang salah arah. Meski terlambat, perbaikan harus dilakukan demi melahirkan generasi hebat.

Meluruskan Arah Pendidikan

Lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki kondisi yang sudah carut-marut akibat darurat adab dan hilangnya figur panutan.

Pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada kebutuhan material. Konsep pendidikan harus kembali kepada nilai Al-Qur’an, termasuk keteladanan Luqman al-Hakim dalam mendidik anak.

Pendidikan harus menjadikan adab sebagai fondasi utama:

  • adab kepada Allah (robbaniyah)
  • adab kepada sesama manusia (insaniyah)
  • adab terhadap ilmu (ilmiyah)
  • adab terhadap lingkungan (alamiyah)

Jika konsep ini diluruskan, maka pendidikan akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia dan membawa keberkahan.

Revisi Oleh:
  • Satria - 21/04/2026 11:41
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡