Oleh: Isna Hidayati Effendi
Ketua PD Nasyiatul Aisyiyah Kota Batu
PWMU.CO – Iduladha sering dipahami sebagai hari raya kurban tentang penyembelihan hewan, tentang daging yang dibagikan, tentang ritual tahunan yang terus diulang dari generasi ke generasi.
Padahal jika direnungkan lebih dalam, Iduladha berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar: tentang melepaskan, mengikhlaskan, dan bertumbuh sebagai manusia.
Setiap Orang Punya “Ismail”-nya Sendiri
Nabi Ibrahim diperintahkan mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya. Dan bukankah setiap manusia, dalam bentuk yang berbeda, juga sedang menghadapi hal yang sama?
Ada yang harus melepaskan ego demi mempertahankan keluarga. Ada yang harus mengikhlaskan luka lama agar bisa hidup lebih tenang.
Ada yang harus menerima bahwa tidak semua impian bisa digenggam selamanya. Ada pula yang harus merelakan sesuatu yang selama ini diperjuangkan dengan sepenuh hati.
Termasuk banyak perempuan hari ini yang diam-diam melepaskan mimpi-mimpinya satu per satu: karier yang terpaksa ditunda, ruang untuk dirinya sendiri yang semakin sempit, suara yang sering tidak sampai ke telinga yang tepat.
Mereka melepaskan bukan karena tidak mampu, tapi karena cinta kepada keluarga terasa lebih besar dari keinginan pribadi.
Itulah kurban yang tidak terlihat. Yang tidak ada panitia penerimanya, tidak ada tanda tangannya tapi Allah Maha Melihat.
Mengikhlaskan Tidak Pernah Mudah
Sebab manusia selalu ingin mempertahankan apa yang membuatnya nyaman. Kita ingin hidup berjalan sesuai harapan. Kita ingin dimengerti. Kita ingin semua yang hilang bisa kembali seperti semula.
Padahal hidup terus bergerak, dan tidak semua hal diciptakan untuk tinggal selamanya.
Allah SWT berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216).
Ayat ini bukan sekadar penghibur. Ia adalah pengingat bahwa apa yang terasa seperti kehilangan, kadang justru adalah jalan menuju sesuatu yang lebih baik asalkan hati kita cukup lapang untuk menerimanya.
Bertumbuh dari Hal yang Paling Menyakitkan
Dalam kehidupan sehari-hari, tak sedikit orang tampak baik-baik saja di luar, tetapi diam-diam lelah di dalam. Mereka membawa beban yang tidak pernah benar-benar selesai yakni luka lama, kecewa yang disimpan, harapan yang belum menemukan jawabannya.
Iduladha mengajarkan bahwa terkadang pertumbuhan justru lahir dari keberanian untuk melepaskan. Melepaskan rasa marah yang terlalu lama dipelihara. Melepaskan keinginan untuk selalu benar. Melepaskan rasa takut terhadap masa depan yang belum terjadi.
Seperti tanah yang harus dibelah sebelum benih bisa tumbuh, hati manusia pun terkadang harus melalui kehilangan agar mampu menjadi lebih dewasa.
Menjadi kuat bukan berarti tidak pernah kehilangan. Menjadi ikhlas bukan berarti tidak sedih. Dan bertumbuh bukan berarti hidup tanpa luka.
Setelah Melepaskan, Ada Ketenangan
Iduladha juga mengingatkan bahwa tidak semua pengorbanan berakhir dengan kehilangan. Setelah Ibrahim rela melepaskan Ismail, Allah menggantinya dengan kemuliaan yang jauh lebih besar dan seekor domba sebagai tanda rahmat-Nya.
Setelah Hajar rela berlari dalam ketidakpastian, Allah menghadirkan Zamzam yang mengalir hingga hari ini. Terkadang, setelah manusia rela melepaskan sesuatu karena Allah, justru Allah menggantinya dengan ketenangan yang tidak bisa dibeli oleh apa pun.
Mungkin bukan dalam bentuk yang sama. Mungkin bukan secepat yang diharapkan. Tetapi Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang belajar ikhlas.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak yang berhasil kita miliki melainkan tentang seberapa lapang hati kita menerima setiap takdir yang Allah beri.
Dan barangkali, makna terbesar Iduladha bukan hanya tentang apa yang kita korbankan. Tapi tentang siapa diri kita setelah berhasil melewati proses mengikhlaskan itu.





0 Tanggapan
Empty Comments