Belajar tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas. Alam juga dapat menjadi ruang pembelajaran yang menghadirkan pengalaman nyata, melatih kemandirian, sekaligus menguatkan kepedulian terhadap sesama.
Semangat tersebut mewarnai Perkemahan Dua Hari (Perduri) Horizonpath Hizbul Wathan (HW) SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) di Camping Ground Dlundung, Ketapanrame, Trawas, Mojokerto, Kamis-Jumat (10-11/9/2026).
Sebelum berangkat, Kepala SMA Muhammadiyah 1 Taman Edwin Yogi Laayrananta S.Pd., M.I.Kom. berpesan kepada peserta agar menjadikan kegiatan tersebut sebagai kesempatan menikmati alam sekaligus melakukan refleksi diri.
“Anak-anak, aktivitas Perduri kali ini bukanlah kegiatan yang perlu ditakut-takuti. Kegiatan ini dirancang teman-teman Hizbul Wathan sebagai upaya kita untuk refleksi sejenak ke alam,” ujarnya.
Ia mengajak peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan gembira serta tetap memperhatikan kesehatan.
“Bersenang-senanglah bersama teman-teman, ikuti arahan panitia pelaksana, dan jaga kesehatan,” tambahnya.
Alam sebagai Ruang Belajar
Project Officer Perduri 2026 Zulfa Lathifah Nuha menjelaskan, kegiatan ini diikuti 63 peserta. Mereka merupakan perwakilan dari kelas X dan XI, dengan lima siswa dari setiap kelas X dan empat siswa dari setiap kelas XI.
Menurutnya, Perduri dirancang bukan sekadar sebagai kegiatan perkemahan, tetapi juga menjadi ruang bagi peserta didik untuk mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda.
“Perduri ini kami rancang supaya lebih seru dan mengajak kita semua untuk tidak lupa berkunjung ke alam,” katanya.
Setibanya di lokasi, peserta mengikuti apel pembukaan. Mereka kemudian belajar mendirikan tenda secara langsung. Aktivitas tersebut menjadi latihan kemandirian sekaligus kerja sama antarpeserta.
Setelah istirahat, salat, dan makan, kegiatan dilanjutkan dengan jelajah sore. Peserta dibagi dalam beberapa kelompok untuk menyelesaikan tantangan di lima pos.
Di Pos 1, peserta mengikuti Estafet Bola Kepala. Pos 2 diisi Blind Ball, Pos 3 Nampan Goyang, Pos 4 Estafet Air Bergandeng, dan Pos 5 Menara Air.
Berbagai permainan tersebut tidak sekadar menjadi hiburan. Peserta dituntut berkomunikasi, menyusun strategi, saling percaya, dan bekerja sama untuk menyelesaikan setiap tantangan.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju air terjun. Berjalan bersama di tengah suasana alam menjadi pengalaman tersendiri bagi peserta untuk menikmati lingkungan sekaligus belajar menghargai ciptaan Allah.
Dari Memasak hingga Api Unggun
Setelah kembali dari jelajah, peserta bersih diri, melaksanakan ibadah, kemudian memasak bersama. Aktivitas tersebut menjadi pembelajaran tentang kemandirian dan tanggung jawab.
Malam harinya, suasana perkemahan semakin hangat dengan api unggun dan pentas seni. Setiap regu mendapat kesempatan menampilkan kreativitas mereka di hadapan peserta lainnya.
Hari kedua diawali dengan Salat Subuh berjamaah dan kultum. Nilai spiritual tetap menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan sehingga pengalaman belajar di alam berjalan seimbang dengan pembentukan karakter religius.
Usai senam pagi, peserta mengikuti lomba memasak. Setiap regu memasak menu yang telah ditentukan panitia untuk kemudian dinilai.
Melalui kegiatan tersebut, peserta belajar membagi tugas, mengelola waktu, dan bertanggung jawab terhadap hasil kerja kelompok.
Setelah sarapan, berbagai permainan kembali digelar, di antaranya Astronot Sarung, Langkah Maut, Rebah Pasrah, dan Gravitasi Nol.
Kegiatan semakin meriah ketika panitia memberikan penghargaan kepada setiap regu. Penghargaan diberikan dalam berbagai kategori, seperti yel-yel terbaik, masakan terbaik, regu terkompak, hingga penampilan pentas seni terbaik.
Membentuk Karakter melalui Pengalaman
Rangkaian Perduri Horizonpath kemudian ditutup dengan bersih diri, penurunan tenda, dan persiapan kembali ke sekolah. Sebelum mobilisasi, peserta mengikuti khutbah dan Salat Jumat bersama.
Bagi peserta, dua hari di alam bukan sekadar pengalaman bermalam di tenda. Ada banyak pelajaran yang dibawa pulang, mulai dari kemandirian, kedisiplinan, kerja sama, kepemimpinan, dan kreativitas hingga kepedulian terhadap lingkungan serta penguatan spiritual.
Melalui Perduri Horizonpath, HW Smamita menunjukkan bahwa pembelajaran dapat hadir dari mana saja. Hutan, perjalanan, permainan, tenda, hingga kebersamaan menjadi bagian dari proses pendidikan yang membentuk peserta didik agar tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga tangguh, mandiri, dan berkarakter. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments