Program Qur’anic Camp SD Muhammadiyah 6 Gadung (SD Musix) Surabaya menghadirkan pembinaan karakter dengan pendekatan baru melalui kegiatan yang digelar di Pondok Pesantren Al-Fattah Buduran, Sidoarjo, pada Jumat malam (24/3/2026). Kegiatan yang biasanya dilaksanakan di lingkungan sekolah ini dipindah ke luar sekolah untuk memberikan suasana belajar yang lebih segar.
“Panitia mencoba suasana baru dengan melaksanakan kegiatan di luar sekolah. Pilihan kami jatuh pada Pondok Al-Fattah,” ujar Muchamad Askan, Ketua Panitia.
Pada sesi utama, panitia menghadirkan motivator nasional, Afif Hidayatullah, S.E., M.Pd. Dalam ceramahnya, Afif menekankan pentingnya memahami potensi setiap anak. Ia mengingatkan bahwa kebiasaan orang tua membandingkan anak justru dapat membuat suasana rumah kehilangan “kehidupan” dan berdampak buruk pada psikologis mereka.
“Apakah anak-anak pernah dibanding-bandingkan?” tanya Afif kepada peserta. Ia menjelaskan bahwa perbandingan yang dimaksudkan sebagai motivasi sering kali justru melemahkan rasa percaya diri anak. Karena itu, ia menegaskan bahwa tempat curhat paling tepat di sekolah adalah wali kelas.
Analogi Permen, Teh, dan Kopi
Afif kemudian memperkenalkan tiga tipe murid melalui eksperimen sederhana menggunakan tiga siswa: Gilang, Aldo, dan Alvino. Ia memasukkan permen ke gelas Alvino, teh celup ke gelas Gilang, dan kopi ke gelas Aldo untuk menggambarkan karakter murid saat menerima bimbingan.
Air tidak berubah saat dimasukkan permen, berubah perlahan saat dimasukkan teh, dan langsung berubah saat dicampur kopi.
“Apa pun tipe murid kita, semuanya menjadi tanggung jawab wali kelas. Terutama tipe ‘teh’ dan lebih-lebih lagi tipe ‘permen’,” jelas Afif.
Eksperimen Penjernihan Hati
Materi dilanjutkan dengan eksperimen betadine dan vitamin C bersama Kalena dan Febi. Betadine yang diteteskan ke dalam air menggambarkan hati anak yang keruh akibat tekanan dan perbandingan di rumah. Ketika tablet vitamin C dimasukkan, air kembali jernih dan tetap bening meski ditetesi betadine berkali-kali.
“Jika semangat mereka sudah pulih dan kuat, pengaruh negatif tidak akan mudah mengubah karakter mereka,” tegas Afif.
Menjelang akhir acara, Afif meminta siswa mendatangi wali kelas masing-masing untuk meminta maaf dan memohon doa restu menjelang Ujian Satuan Pendidikan (USK). Suasana menjadi haru ketika siswa dan guru saling berpelukan, menguatkan ikatan emosional sebelum mereka menghadapi ujian kelulusan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments