Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus kesiapan peserta didik menghadapi Tes Kompetensi Akademik (TKA) terus dilakukan oleh para pendidik.
Salah satunya melalui kegiatan Workshop Penyusunan Asesmen Berbasis Literasi Sains Berorientasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk Penguatan HOTS Murid SMA Negeri 2 Lamongan.
Kegiatan ini berlangsung pada Jum’at (08/05/2026) dan bertempat di Aula kebanggaan SMADALa.
Lebih lanjut, workshop ini menghadirkan narasumber utama, Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof Dr Atok Miftachul Hudha MPd.
Perubahan Cara Pandang
Sebagai informasi, Prof Atok dikenal aktif dalam pengembangan evaluasi pembelajaran berbasis literasi. Workshop terhadiri oleh para guru lintas mata pelajaran dengan fokus utama pada penguatan kemampuan menyusun instrumen asesmen yang tidak hanya mengukur hafalan, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dan analitis siswa.
Di awal pemaparannya, Prof Atok menegaskan bahwa, perubahan istilah dari penilaian ke asesmen di dunia pendidikan Indonesia bukan sekedar pergantian kata. Tetapi mencerminkan perubahan cara pandang terhadap proses mengukur hasil belajar murid.
Perbedaan makna dasar, penilaian cenderung dimaknai sebagai proses mengukur hasil akhir belajar (nilai, skor, angka).
Tetapi asesmen memiliki makna lebih luas, yaitu proses mengumpulkan, menganalisis, dan menggunakan informasi untuk memahami proses dan perkembangan belajar siswa.
Dengan kata lain, asesmen tidak hanya “berapa nilainya”, tetapi juga “bagaimana siswa belajar dan berkembang”.
Literasi Sains
Lebih lanjut, dosen biologi UMM ini menguraikan, bahwa literasi sains merupakan bagian penting dalam transformasi pendidikan saat ini.
Literasi sains adalah kemampuan seseorang untuk memahami konsep-konsep ilmiah, menggunakan pengetahuan sains untuk memecahkan masalah. Serta mengambil keputusan berdasarkan bukti ilmiah dalam kehidupan sehari-hari.
Ini artinya, literasi sains tidak hanya tentang menguasai teori, tetapi juga bagaimana seseorang:
- Memahami fenomena alam
- Menafsirkan data ilmiah
- Menggunakan sains dalam kehidupan nyata.
Sementara itu, Asesmen tidak lagi sekadar menguji apa yang diingat siswa, tetapi bagaimana mereka memahami, menginterpretasi, dan menerapkan konsep sains dalam kehidupan sehari-hari. Asesmen terancang untuk mengukur:
- Literasi (membaca, sains, numerasi)
- Berpikir kritis (HOTS)
- Pemecahan masalah kontekstual
Ini berbeda dengan penilaian lama yang lebih dominan mengukur ingat dan hafal (LOTS), ujarnya di hadapan para peserta.
Ia juga menyinggung hasil Programme for International Student Assessment (PISA), di mana capaian literasi sains Indonesia masih tertinggal dibanding sejumlah negara tetangga, seperti Singapura dan Vietnam.
Hal ini, menurutnya, menjadi alarm penting bagi dunia pendidikan untuk segera berbenah, khususnya dalam hal penyusunan asesmen yang mampu melatih daya nalar dan pemecahan masalah siswa.
Lebih lanjut, Prof Atok menjelaskan bahwa orientasi TKA menuntut soal-soal yang kontekstual, berbasis masalah nyata, serta mampu mengintegrasikan berbagai konsep lintas disiplin ilmu.
Guru didorong untuk menggeser paradigma dari soal-soal Lower Order Thinking Skills (LOTS) menuju Higher Order Thinking Skills (HOTS), yang menekankan analisis, evaluasi, dan kreasi.
38 Tahun Mengabdi
Bapak–Ibu guru, peserta workshop terlihat antusias. Mereka menyimak penuh semangat uraian dari Prof Atok yang tak kalah semangat dalam memaparkan materinya.
Dosen mengajar sejak 1988 ini juga menyinggung soal karakter, tak bisa dipungkiri, kemampuan dan kualitas sebaik apapun kalau tidak punya karakter yang bagus, tetap akan jadi masalah.
Oleh karena itu, di samping kita terus belajar, memperbaiki kemampuan dan literasi sains, juga harus memperbaiki karakter kita.
Hal ini ia sampaikan ketika menjawab pertanyaan salah satu peserta workshop yang menanyakan peran karakter sebagai sesuatu yang tidak boleh berubah sepanjang masa. Meski paradigma pembelajaran harus berubah sesuai tuntutan jaman.
Kepala SMA Negeri 2 Lamongan, Sofyan Hadi, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini.
Ia berharap workshop ini mampu meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun asesmen yang berkualitas dan berdampak langsung pada peningkatan kemampuan literasi siswa.
Dengan terselenggaranya workshop ini, harapannya para guru mampu memahami konsep literasi sains serta level kognitif (LOTS, MOTS, HOTS).
Menyusun soal berorientasi TKA dan menghasilkan contoh soal literasi sains (LOTS, MOTS, HOTS) serta melakukan review dan perbaikan soal.
Langkah ini menjadi bagian strategis dalam mendukung kebijakan pendidikan nasional yang berorientasi pada penguatan kompetensi abad 21 dan kesiapan menghadapi TKA.





0 Tanggapan
Empty Comments