Sumpah Pemuda bukan sekadar catatan sejarah yang diperingati setiap 28 Oktober. Lebih dari itu, Sumpah Pemuda menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia berada di tangan generasi muda yang berani bermimpi, berkarya, dan menjaga persatuan bangsa.
Semangat tersebut disuarakan Kifaya Nanayu Sukandar, siswi Tahfidz Class XI-4 SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita), melalui puisi berjudul Darah Muda, Jiwa Indonesia. Puisi tersebut dapat disaksikan melalui akun Instagram Smamita18, Rabu (28/10/2026).
Melalui bait-bait puisinya, Kifaya mengajak generasi muda untuk tidak sekadar bangga menjadi bagian dari sejarah, tetapi juga mengambil peran nyata dalam menentukan masa depan Indonesia.
Puisinya menggambarkan semangat pemuda yang menyala di tengah keberagaman suku, bahasa, dan budaya. Perbedaan bukanlah penghalang untuk bersatu, melainkan kekuatan untuk melangkah bersama demi Indonesia.
Pesan tersebut tergambar dalam bait pembuka puisinya:
Di dada pemuda, api menyala,
Membakar semangat untuk Indonesia.
Beda suku, bahasa, dan budaya,
Satu tekad, satu jiwa, satu bangsa!
Bagi Kifaya, semangat Sumpah Pemuda tidak cukup diwujudkan melalui peringatan seremonial. Generasi muda perlu menerjemahkannya menjadi tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Menurut saya, semangat Sumpah Pemuda tidak cukup hanya diperingati melalui upacara atau dihafalkan sebagai ikrar. Kita sebagai generasi muda harus berani melangkah, terus berkarya, meraih prestasi, dan memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar,” tuturnya.
Pesan itu menegaskan bahwa pemuda tidak seharusnya hanya menjadi penonton di tengah perubahan zaman. Sebaliknya, mereka perlu hadir sebagai penggerak yang berani berkarya sekaligus menjaga nilai-nilai kebangsaan.
Semangat tersebut kembali ditegaskan melalui bait puisinya:
“Kami berdiri, kami berkarya,
Menjaga Indonesia sepanjang masa!”
Bait itu menjadi ajakan bagi generasi muda untuk mengisi kemerdekaan melalui tindakan nyata. Di tengah perkembangan zaman, pemuda dituntut mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri dan semangat persatuan.
Pemuda Hari Ini, Indonesia Esok Hari
Puisi Darah Muda, Jiwa Indonesia juga menghidupkan kembali semangat Sumpah Pemuda: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia. Ikrar yang lahir pada 28 Oktober 1928 itu menjadi pengingat bahwa persatuan merupakan fondasi penting dalam perjalanan bangsa.
Kifaya menutup puisinya dengan seruan agar generasi muda tidak membiarkan semangat perjuangan memudar.
Wahai pemuda, bangkitlah!
Jangan biarkan semangat itu punah.
Kami bukan sekadar nama dalam sejarah,
Kami adalah masa depan Indonesia!
Bait penutup tersebut menegaskan bahwa generasi muda bukan hanya penerus perjuangan para pendahulu. Mereka juga memiliki tanggung jawab untuk menentukan arah perjalanan bangsa.
Kifaya berharap generasi muda menjadikan semangat Sumpah Pemuda sebagai motivasi untuk terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Jangan pernah merasa bahwa kita masih terlalu muda untuk berkontribusi. Sekecil apa pun karya dan kebaikan yang kita lakukan, semuanya bisa menjadi bagian dari perubahan besar bagi Indonesia,” pesannya.
Melalui karya sastra, Kifaya menunjukkan bahwa puisi dapat menjadi ruang ekspresi untuk menumbuhkan kesadaran kebangsaan. Kata-kata tidak sekadar dirangkai menjadi keindahan, tetapi juga menjadi ajakan untuk bergerak, bersatu, dan memberikan manfaat bagi sesama.
Peringatan Sumpah Pemuda menjadi momentum untuk merefleksikan kembali peran generasi muda. Indonesia masa depan tidak hanya dibangun melalui cita-cita besar, tetapi juga melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan semangat, tanggung jawab, dan kepedulian.
Darah muda bukan sekadar tentang usia, melainkan keberanian mengambil peran. Sementara itu, jiwa Indonesia bukan sekadar identitas, melainkan semangat untuk menjaga persatuan dan terus berkarya bagi bangsa. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments