Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Qosdus Sabil dan Pelajaran tentang Keberanian

Iklan Landscape Smamda
Qosdus Sabil dan Pelajaran tentang Keberanian
Oleh : Ahsan Jamet Hamidi Wakil Sekretaris LPCRPM PP Muhammadiyah

Mas Qosdus, salah satu keinginan sampeyan yang tidak sanggup saya penuhi adalah ikut menulis dalam buku yang akan sampeyan terbitkan. Judulnya, kalau tidak salah, seputar “Tanda-Tanda Kemunduran Muhammadiyah”.

Izinkan saya menjelaskan mengapa saya harus menjadi pengecut dalam hal ini.

Jujur, saya tidak memiliki keberanian seperti Mas Qosdus dalam hal menyampaikan kritik kepada siapa pun, apalagi jika itu ditujukan kepada internal Muhammadiyah.

Bukankah selain sebagai kader, saya juga pengurus di Muhammadiyah? Baik sebagai Ketua Ranting, Wakil Sekretaris di Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pengembangan Masjid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, maupun sebagai pengurus di Pimpinan Daerah Tangerang Selatan dan Wilayah Muhammadiyah Banten.

Kritik itu akan seperti “menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri”.

Kritik itu akan menyasar kembali kepada saya sendiri dengan membawa pertanyaan sederhana:

“Sebagai pengurus, kontribusi apa yang sudah saya berikan kepada Muhammadiyah, sehingga ia bisa lebih dari kritik saya selama ini?”

Saya pengecut karena tidak berani menerima kritik.

Konsep Otomatis

Risiko lainnya adalah kritik saya pasti akan menyasar para pengurus lain di Muhammadiyah. Lalu, sama seperti kejadian pertama, muncul pertanyaan kedua:

“Apakah lembaga yang saya ampu sudah bisa lebih baik dari kritik yang saya lontarkan? Jika belum, pantaskah saya memberikan kritik?”

Alasan terakhir itu lebih pada upaya untuk tahu diri saja, sih…

Saya harus jujur, belum memberikan kontribusi yang cukup kepada Muhammadiyah.

Alih-alih berdedikasi, mengorbankan waktu dan tenaga saja untuk Muhammadiyah pun masih belum.

Jangan-jangan malah sebaliknya, saya hanya menjadikan Muhammadiyah sebagai kapal pesiar untuk meraih kenikmatan sejenak dalam mengisi waktu karena sudah tidak ada lagi rutinitas kerja yang harus saya kerjakan.

Lalu menjadikannya sebagai “medium kompensasi”, pengisi waktu kosong, tetapi saya mengakuinya sebagai “wahana perjuangan dan pengabdian”.

Duh, alangkah hinanya saya.

Kontribusi saya kepada Muhammadiyah masih jauh panggang dari api.

Saya belum seikhlas Kiai Syujak dan Kiai Haji Mas Mansur dalam upaya mengembangkan Persyarikatan ini menjadi lebih baik.

Kritik yang bisa saya berikan kepada para pengampu Persyarikatan Muhammadiyah harus sebanding dengan kontribusi yang selama ini saya berikan untuk Muhammadiyah.

Ketika perbandingan itu belum terwujud, maka saya harus sadar diri bahwa saya belum layak untuk melakukan banyak kritik.

Pertanyaan-pertanyaan di atas terus muncul sehingga saya urung membuat tulisan dalam buku Mas Qosdus Sabil di atas.

SMPM 5 Pucang SBY

Mohon maaf, ya, Mas.

Saya tidak sekuat sampeyan dalam hal keberanian, keteguhan bersikap, serta memberikan pengorbanan kepada Muhammadiyah sejak usia belia.

Saya hanyalah penumpang baru dalam sebuah kapal besar ini. Saya belum bisa meneladani sampeyan yang telah mengikhlaskan jiwa dan raga untuk Persyarikatan.

Ketika saya sudah merasa aktif bersuara di media sosial, memiliki jabatan di dalam struktur Persyarikatan, ikut ngumpul sana-sini, dan selalu meng-update gosip-gosip tentang Persyarikatan, bukan berarti semua itu menjadi ukuran dalam bermuhammadiyah.

Ukuran keberanian dalam berorganisasi tidak hanya diukur dari keberanian saya mengkritik, tetapi juga dari kualitas pengorbanan saya pada Persyarikatan.

Keseimbangan antara kritik, kontribusi, dan pengorbananlah yang akan membuat suara kritik menjadi lebih bermakna.

Ada yang lebih bermakna dari itu semua. Ukurannya adalah kemanfaatan bagi orang banyak. Apa pun bentuknya, seberat atau seringan apa pun jalannya.

Mas Qosdus, secara tulus saya minta maaf banget. Sampai sampeyan pulang untuk selamanya, saya tidak mampu memenuhi keinginan kecil untuk bisa ikut menulis dalam buku terakhir sampeyan.

Selamat menikmati surga yang indah bersama penghuni yang lain.

Di situ, sampeyan bisa menulis lagi dengan cara dan arena yang jauh lebih merdeka.

Sementara saya, di sini, di bumi ini, masih harus melewati perjalanan yang serba kabur dan mudah sekali tertipu dengan kilau keindahan duniawi.

Saya terkadang masih gagap membedakan antara benar dan salah, antara hak dan batil.

Mata dan hati saya masih remang-remang melihat semua yang terlewati dalam setiap kilasan peristiwa, apakah semua itu tentang kejujuran dan kepalsuan.

Mas Qosdus Sabil, sampeyan sudah terbebas dari belenggu keraguan itu.

Pun sudah terbebas dari semua rasa sakit yang selama ini sampeyan nikmati sebagai penghapus dosa-dosa manusia sebagai abdi Sang Khalik, Allah Swt.

Selamat menikmati kebahagiaan sejati yang saat ini belum bisa saya ikut nikmati.

Pasti saya juga akan kembali menyusul sampeyan, menapaki jalan menuju kebahagiaan yang sampeyan nikmati saat ini.

Maafkan saya seperti saya telah memaafkan sampeyan jika ada kekhilafan.

Saya akan ikut menjaga keluarga sampeyan, seperti juga keluarga saya, untuk meraih harapan baik mereka.

Semoga Allah akan memudahkan.

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 25/09/2026 09:36
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu