Bayangkan CEO sebuah perusahaan otomotif kelas dunia berdiri di depan publik dan berkata: kami tidak punya peluang. Itulah yang dilakukan Toshihiro Mibe, bos Honda, setelah mengunjungi pabrik pemasok di Shanghai awal tahun 2026. Ia pulang dengan satu kesimpulan melihat pabrikan China bisa merancang dan meluncurkan mobil baru dalam dua tahun. Honda butuh dua kali lebih lama. Dan harganya? Jauh lebih murah.
Sebagai respons darurat untuk menyelamatkan masa depan perusahaan, Honda memindahkan ribuan insinyur ke anak perusahaan teknik yang baru mereka bentuk demi memperkuat divisi riset dan pengembangan yang independen. Langkah ini bukan sekadar rotasi kepegawaian biasa, dan saya pikir banyak orang melewatkan apa yang sebenarnya sedang terjadi di baliknya.
Ini adalah tanda bahwa Honda sedang beralih ke pendekatan yang sama sekali berbeda dalam menetapkan biaya: Target Costing, di mana angka biaya bukan hasil akhir, melainkan titik awal.
Selama puluhan tahun, cara kerja pabrikan Jepang sederhana: desain dulu, hitung biaya, tambahkan margin, lalu kasih harga ke konsumen. Kalau mahal, ya sudah toh merek mereka cukup kuat untuk menopangnya. Asumsi itu tidak pernah dipertanyakan, karena selama ini memang tidak perlu.
Tsunami EV murah dari China menghancurkan paradigma tersebut. Pasar kini mendikte harga maksimal, dan perusahaan memiliki kontrol yang sangat kecil terhadap harga jual akibat hukum penawaran dan permintaan.
Akibat kegagalan mengantisipasi hal ini, Honda terpaksa membatalkan dua proyek mobil listrik mereka, yakni 0 SUV dan 0 Sedan, serta bersiap mencatat kerugian hingga 15,8 miliar dolar.
Untuk mengejar siklus pengembangan dua tahun ala China, Honda harus membalikkan urutan logika bisnis mereka. Dalam kerangka Target Costing, Honda harus memulai proses rancang bangun dari harga pasar aktual EV China yang sangat murah.
Di sinilah keputusan memindahkan ribuan insinyur ke divisi R&D mulai masuk akal.
Ada konsep dalam akuntansi manajerial yang disebut Cost Lock-in Curve, sebuah ide dasarnya sederhana tapi sering diabaikan: lebih dari 80% biaya sebuah produk sudah “terkunci” sejak tahap desain, jauh sebelum satu baut pun dipasang. Begitu lini produksi berjalan, ruang untuk efisiensi nyaris hilang.
Artinya, kalau Honda ingin menekan biaya, mereka harus melakukannya sekarang, di atas meja gambar, bukan di lantai pabrik.
Melalui divisi R&D yang mandiri ini, Honda memaksa para insinyurnya untuk bekerja di bawah batasan biaya yang sangat ketat.
Rumusnya sebenarnya tidak rumit:
\text{Target Cost} = \text{Harga Pasar} – \text{Laba yang Diinginkan}
Yang sulit bukan menghitungnya, tapi hidup di bawah angka itu.
Begitu angka itu ditetapkan, ia menjadi batas keras yang mengikat semua orang, dari tim manufaktur sampai pemasaran. Ribuan insinyur rekayasa yang Mibe pindahkan kini memikul tanggung jawab yang jauh lebih berat.
Mereka tidak hanya bertugas mendesain teknologi yang canggih, tetapi mereka harus merekayasa komponen dan desain produk agar mutlak memenuhi batasan biaya yang pasar dikte.
Restrukturisasi ini adalah cara Honda berkata: kami tidak bisa lagi bekerja seperti dulu saya katakan pada pertemuan ke-10.
Para insinyur yang dipindahkan itu sekarang bukan hanya diminta merancang teknologi yang bagus, tetapi mereka diminta merancang teknologi yang bagus dengan anggaran yang sudah ditentukan sebelum mereka mulai.
Dua tahun. Batas biaya yang ketat. Tidak ada ruang bereksperimen tanpa konsekuensi.
Apakah tekanan semacam ini justru akan melahirkan inovasi? Atau malah membunuhnya? Itu yang akan kita lihat.
Tapi jujur saja, tidak ada yang benar-benar tahu apakah ini cukup. Honda bukan satu-satunya yang berlomba membenahi diri; Toyota, Volkswagen, dan bahkan Ford sedang menjalani pergulatan serupa dengan cara mereka masing-masing.
Yang membuat kasus Honda menarik bukan semata soal angka atau restrukturisasi, melainkan momen langka ketika sebuah perusahaan besar berani mengakui, di depan publik, bahwa cara lama mereka tidak lagi bekerja.
Itu bukan pernyataan korporat biasa. Dan di industri yang selama ini hidup dari kebesaran merek, pengakuan semacam itu terasa seperti sebuah permulaan yang sesungguhnya.
Sumber:
- CEO Honda Kaget Lihat Pabrik Otomotif China: Kami Tak Punya Peluang (CNN Indonesia)
- Garrison, R. H., Noreen, E. W., Brewer, P. C., & Montague, N. R. (2003). Managerial Accounting. New York: McGraw-Hill/Irwin.





0 Tanggapan
Empty Comments