Ancaman krisis iklim dan meningkatnya volume sampah di Kabupaten Malang mendorong lahirnya inovasi riset pendidikan lingkungan dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Dosen sekaligus Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UMM, Dr. Beti Istanti Suwandayani, S.Pd., M.Pd., memimpin riset edukasi ekologi yang menyasar siswa sekolah dasar sebagai upaya membangun kesadaran lingkungan sejak dini.
Riset tersebut berhasil lolos pendanaan nasional dalam program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek) yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Penelitian ini berawal dari keprihatinan terhadap meningkatnya produksi sampah di Kabupaten Malang yang belum diimbangi dengan edukasi pengelolaan sampah secara sistematis di sekolah dasar.
Menurut Beti, pendidikan lingkungan perlu dimulai sejak usia dini agar menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
“Sekarang ini produksi sampah di Kabupaten Malang terus meningkat dari tahun ke tahun. Sementara edukasi pengolahan sampah yang sistematis di sekolah dasar masih sangat minim. Karena itu, melalui riset ini, kami ingin memulai dari pendidikan dasar agar menjadi pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Dalam pelaksanaannya, riset ini melibatkan tim lintas disiplin dari Program Studi Matematika, Teknik Mesin, hingga Biologi.
Penelitian menggunakan pendekatan living lab, yakni metode pembelajaran yang tidak hanya menekankan teori, tetapi juga praktik langsung di lapangan.
Melalui metode tersebut, siswa diajak belajar memilah sampah, mendaur ulang, hingga mengolah sampah menjadi produk yang bermanfaat.
Menurut Beti, pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya mitigasi krisis lingkungan melalui sektor pendidikan.
“Harapan kami, penelitian ini bisa berdampak jangka panjang untuk mengarahkan dan juga memberikan kontribusi nyata terhadap mitigasi climate change yang memang menjadi fokus kita bersama,” paparnya.
Penelitian ini akan berlangsung selama satu tahun melalui delapan tahapan, mulai dari analisis awal, pembuatan purwarupa, hingga diseminasi hasil penelitian.
Riset turut melibatkan mahasiswa dan mendapat dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) serta Majelis Dikdasmen Kabupaten Malang.
Tiga sekolah Muhammadiyah ditunjuk sebagai pilot project, yakni SD Muhammadiyah di Kepanjen, Karangploso, dan Tumpang.
Capaian pendanaan nasional yang diperoleh tim peneliti UMM dinilai menjadi bukti kualitas riset yang kompetitif di tingkat nasional.
Beti mengungkapkan bahwa seleksi program berlangsung sangat ketat.
“Persaingan dalam program pendanaan ini sangat ketat, dari total 8.951 akun pendaftar, hanya 122 program yang dinyatakan lolos. Kami berharap luaran riset ini mampu meningkatkan keterampilan pengolahan sampah siswa secara terukur dan secara efektif membantu sekolah menekan timbunan sampah ke TPA,” ungkapnya.
Melalui riset ini, UMM kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan penelitian yang relevan dengan persoalan global.
Model pendidikan lingkungan berbasis living lab tersebut diharapkan dapat direplikasi oleh berbagai institusi pendidikan lain untuk membentuk generasi yang sadar lingkungan dan terbiasa menjalani gaya hidup berkelanjutan.





0 Tanggapan
Empty Comments