Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Sambut Kuliah Perdana Pascasarjana PAI UMB, Dr. Supala Sampaikan Penguatan AIK bagi 64 Mahasiswa Baru

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Sambut Kuliah Perdana Pascasarjana PAI UMB, Dr. Supala Sampaikan Penguatan AIK bagi 64 Mahasiswa Baru
Sambut Kuliah Perdana Pascasarjana PAI UMB, Dr. Supala Sampaikan Penguatan AIK bagi 64 Mahasiswa Baru. (Fathurrahim/PWMU.CO)
pwmu.co -

Program Pascasarjana Magister (S2) Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) mengawali kegiatan akademiknya melalui perkuliahan matrikulasi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).

Kegiatan yang berlangsung khidmat pada Sabtu (17/10/2026) tersebut diikuti oleh 64 mahasiswa baru pascasarjana dan diampu langsung oleh Dr. Supala, M.Ag., yang memberikan penguatan mengenai fondasi keislaman, ideologi Muhammadiyah, serta integrasi nilai-nilai AIK dalam pengembangan keilmuan dan praktik pendidikan Islam.

Perkuliahan matrikulasi ini menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa magister agar memiliki landasan pemikiran, orientasi akademik, dan komitmen ideologis yang selaras dengan visi pendidikan tinggi Muhammadiyah. Mahasiswa yang berasal dari beragam latar belakang akademik dan pengalaman profesional diharapkan mampu membangun kesamaan perspektif mengenai Islam sebagai landasan nilai, sumber inspirasi keilmuan, sekaligus pedoman dalam menghadapi berbagai persoalan pendidikan dan kehidupan masyarakat.

Dalam pemaparannya, Dr. Supala menegaskan bahwa Al-Islam dan Kemuhammadiyahan tidak seharusnya dipahami sebatas mata kuliah atau pengetahuan tentang organisasi. AIK merupakan fondasi pembentukan karakter, kerangka berpikir, dan orientasi pengabdian yang perlu diinternalisasikan dalam seluruh proses akademik, termasuk penelitian, pengembangan kurikulum, kepemimpinan pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Menurutnya, mahasiswa magister PAI harus mampu mengembangkan keilmuan Islam secara kritis, sistematis, terbuka terhadap perkembangan zaman, tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah. Semangat tersebut sejalan dengan karakter gerakan Muhammadiyah yang menempatkan tajdid atau pembaruan sebagai upaya menghadirkan pemahaman dan pengamalan Islam yang relevan dengan tantangan kehidupan modern.

“Matrikulasi AIK bukan sekadar orientasi kelembagaan, melainkan proses internalisasi fondasi epistemologi Islam yang berkarakter tajdid. Mahasiswa S2 PAI dituntut tidak hanya menguasai teori pendidikan, tetapi juga mampu mentransformasikannya menjadi solusi atas problem keumatan dan kebangsaan,” tegas Dr. Supala di hadapan 64 peserta perkuliahan.

Ia juga menekankan bahwa pendidikan agama Islam di era transformasi sosial dan digital menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perkembangan teknologi, perubahan budaya belajar, krisis keteladanan, persoalan moral generasi muda, serta kebutuhan akan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan menuntut lahirnya pendidik dan akademisi Islam yang tidak hanya kuat dalam penguasaan materi keagamaan, tetapi juga memiliki kemampuan analitis, kecakapan pedagogis, integritas moral, dan kepekaan sosial.

Dalam konteks tersebut, mahasiswa Pascasarjana PAI diharapkan mampu menjembatani khazanah keilmuan Islam dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Integrasi ini bukan berarti mencampuradukkan seluruh disiplin ilmu tanpa kerangka metodologis, melainkan membangun dialog yang kritis dan konstruktif antara sumber ajaran Islam, teori pendidikan, hasil penelitian ilmiah, serta kebutuhan nyata masyarakat.

Dr. Supala turut mendorong mahasiswa untuk menjadikan studi magister sebagai ruang pengembangan tradisi akademik yang produktif. Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi konsumen teori dan hasil penelitian, tetapi perlu berkembang menjadi peneliti, pemikir, pendidik, dan penggerak perubahan yang mampu menghasilkan gagasan serta karya ilmiah yang bermanfaat.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Menurutnya, penelitian dalam bidang Pendidikan Agama Islam perlu diarahkan untuk menjawab persoalan konkret, mulai dari penguatan karakter peserta didik, inovasi pembelajaran PAI, pengembangan kurikulum yang relevan, peningkatan kompetensi guru, hingga penguatan pendidikan Islam yang responsif terhadap perubahan sosial. Dengan demikian, aktivitas penelitian tidak berhenti pada pemenuhan persyaratan akademik, tetapi menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan kemaslahatan bagi umat dan bangsa.

Lebih jauh, penguatan AIK juga memiliki dimensi praksis dalam membangun etika akademik. Nilai amanah, kejujuran, tanggung jawab, keadilan, dan penghargaan terhadap ilmu harus tercermin dalam penyusunan karya ilmiah, pelaksanaan penelitian, interaksi akademik, serta pengembangan profesionalitas. Integritas akademik, termasuk menghindari plagiarisme dan menjaga kejujuran data penelitian, merupakan bagian penting dari tanggung jawab moral seorang intelektual Muslim.

Dalam perspektif Muhammadiyah, penguasaan ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan pembentukan akhlak dan komitmen dakwah. Ilmu tidak hanya berfungsi meningkatkan kapasitas individual, tetapi juga harus memberikan dampak sosial. Semangat amar ma’ruf nahi munkar, misalnya, dapat diwujudkan melalui upaya memperbaiki mutu pendidikan, memperluas akses belajar, membangun budaya akademik yang sehat, serta menghadirkan praktik pendidikan yang berpihak pada kemanusiaan dan keadilan.

Perkuliahan matrikulasi ini sekaligus menjadi momentum bagi mahasiswa baru untuk memahami bahwa identitas akademisi Muslim Muhammadiyah menuntut kesatuan antara iman, ilmu, amal, dan tanggung jawab sosial. Seorang magister PAI idealnya tidak hanya mampu menjelaskan konsep-konsep pendidikan Islam secara teoretis, tetapi juga menunjukkan keteladanan dalam kehidupan pribadi, lingkungan profesional, dan masyarakat.

Melalui kegiatan ini, Program Pascasarjana Magister PAI UM Bandung menegaskan komitmennya untuk mengembangkan pendidikan tinggi Islam yang mengintegrasikan kedalaman pemahaman keagamaan, kekuatan tradisi akademik, semangat pembaruan, serta pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran 64 mahasiswa baru diharapkan menjadi bagian dari tumbuhnya komunitas intelektual yang mampu berkontribusi dalam pengembangan pendidikan Islam di berbagai lingkungan, baik sekolah, madrasah, pesantren, perguruan tinggi, maupun lembaga pendidikan dan sosial lainnya.

Kuliah perdana melalui matrikulasi AIK tersebut bukan sekadar penanda dimulainya perjalanan akademik mahasiswa magister, melainkan juga langkah awal untuk membangun kesadaran bahwa gelar akademik harus disertai tanggung jawab keilmuan dan moral. Keberhasilan pendidikan pascasarjana tidak hanya diukur melalui capaian akademik dan kelulusan, tetapi juga melalui kemampuan lulusannya menghasilkan pemikiran yang mencerahkan, penelitian yang bermutu, praktik pendidikan yang transformatif, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Dengan penguatan AIK sejak awal perkuliahan, Pascasarjana PAI UM Bandung diharapkan mampu melahirkan magister Pendidikan Agama Islam yang unggul secara akademik, kokoh dalam nilai-nilai keislaman, berkarakter Muhammadiyah, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta memiliki semangat dakwah amar ma’ruf nahi munkar dalam mewujudkan pendidikan Islam yang berkemajuan. (*)

Revisi Oleh:
  • Nadjib Hamid - 17/10/2026 18:03
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu