Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

SD Muhammadiyah 1 Krian Tingkatkan Profesionalitas Guru dan Karyawan melalui Penguatan Kemuhammadiyahan yang Murni

Iklan Landscape Smamda
SD Muhammadiyah 1 Krian Tingkatkan Profesionalitas Guru dan Karyawan melalui Penguatan Kemuhammadiyahan yang Murni
Ustad Sulthon menjelaskan tentang Keislaman dan Kemuhammadiyahan (Sri/PWMU.CO)
pwmu.co -

Suasana berbeda terasa di SD Muhammadiyah 1 Krian (SD Sakri), Sabtu (22/8/2026). Para guru dan karyawan mengikuti kegiatan upgrading bersama Ustad Sulthon Dedy Wijaya, M.Pd., Wakil Bidang Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Menumbuhkan Loyalitas dan Militansi Kader melalui Pemahaman Kemuhammadiyahan yang Murni.”

Kegiatan upgrading ini menjadi momentum bagi para guru untuk kembali memahami makna pengabdian. Menjadi guru di sekolah Muhammadiyah tidak hanya dimaknai sebagai pekerjaan atau rutinitas, tetapi juga sebagai bagian dari perjuangan mencerdaskan generasi sekaligus menghidupkan nilai-nilai Muhammadiyah dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam penyampaiannya, Ustad Sulthon mengajak para guru menumbuhkan kecintaan terhadap sekolah melalui tindakan nyata. Menurutnya, kecintaan tidak cukup hanya diungkapkan melalui ucapan, tetapi harus diwujudkan dalam kepedulian terhadap peserta didik.

“Bapak Ibu, mencintai seseorang ukurannya apa? Kalau mencintai Sakri, bisa mendoakan anak didik seperti mendoakan anak sendiri,” pesannya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa loyalitas terhadap sekolah seharusnya berbanding lurus dengan kepedulian terhadap peserta didik. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk mendampingi, mendoakan, dan memberikan keteladanan kepada anak-anak.

Dari pembahasan tentang loyalitas, materi kemudian diarahkan pada pentingnya menghidup-hidupi Muhammadiyah, bukan sekadar menjadikan Muhammadiyah sebagai identitas. Nilai-nilai Muhammadiyah perlu diwujudkan melalui sikap, perilaku, keteladanan, serta kesungguhan dalam menjalankan setiap amanah.

Pemahaman Iman, Islam, dan Ihsan

Ustad Sulthon juga mengajak para guru memperkuat pemahaman tentang iman, Islam, dan ihsan. Ihsan dimaknai sebagai kesadaran untuk melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya karena merasa senantiasa berada dalam pengawasan Allah Swt. Kesadaran tersebut harus hadir dalam pekerjaan guru, termasuk ketika tidak sedang diawasi oleh pimpinan maupun orang tua peserta didik.

Dengan demikian, profesionalitas tidak hanya diukur dari kemampuan menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga dari kualitas dan keikhlasan dalam menjalankan amanah.

“Ihsan harus lebih baik dari hari ini,” menjadi salah satu pesan yang ditekankan dalam kegiatan tersebut.

Nilai ihsan kemudian dihubungkan dengan kualitas ibadah, khususnya shalat. Para guru diajak memperbaiki shalat, tidak hanya dari sisi gerakan dan bacaan, tetapi juga dari dampaknya terhadap kepribadian. Shalat seharusnya menjadi sarana penguatan tauhid sekaligus membentuk perilaku sosial yang lebih baik, sebagaimana pesan Al-Qur’an bahwa shalat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar.

SMPM 5 Pucang SBY

Selain shalat, kecintaan terhadap Al-Qur’an juga menjadi bagian penting dalam penguatan pribadi kader. Para guru didorong untuk tidak berhenti pada kemampuan membaca, tetapi juga memahami makna dan mengamalkan kandungannya. Kemampuan membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang benar menjadi salah satu langkah untuk membangun kedekatan yang lebih baik dengan Al-Qur’an.

Pemahaman Kemuhammadiyahan

Selanjutnya, pembahasan diarahkan pada pemahaman Kemuhammadiyahan yang murni. Para guru diajak memahami Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah, dengan karakter tauhid yang murni, semangat ijtihad dan tajdid, sikap wasathiyah, serta cita-cita menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Pemahaman tersebut menjadi landasan penting dalam membangun loyalitas dan militansi kader. Menurut Ustad Sulthon, loyalitas tidak cukup hanya ditunjukkan dengan kehadiran dalam kegiatan organisasi. Loyalitas harus tumbuh dari pemahaman, keteladanan, konsistensi, dan kesediaan menjalankan amanah dengan tulus dan ikhlas.

Demikian pula dengan militansi. Seorang kader belum dapat disebut militan hanya karena aktif mengikuti kegiatan. Militansi justru terlihat dari kemampuan untuk bertahan dalam perjuangan, konsisten menjalankan nilai-nilai organisasi, serta memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi SD Sakri, penguatan ideologi tersebut perlu berjalan seiring dengan peningkatan profesionalitas guru dan karyawan. Nilai-nilai Kemuhammadiyahan harus diterjemahkan secara nyata dalam pelayanan kepada peserta didik, kedisiplinan, kepatuhan terhadap aturan, tanggung jawab, serta pelaksanaan standar operasional prosedur (SOP) sekolah.

Dengan demikian, Kemuhammadiyahan tidak berhenti sebagai pengetahuan atau materi dalam kegiatan upgrading. Nilai-nilainya diharapkan menjadi budaya kerja yang membentuk cara berpikir, bersikap, bekerja, mendidik, dan melayani.

Melalui kegiatan ini, para guru SD Muhammadiyah 1 Krian diajak kembali menyatukan langkah antara iman, pemahaman Kemuhammadiyahan, loyalitas, militansi, dan profesionalitas. Kesatuan nilai tersebut diharapkan mampu melahirkan guru dan karyawan yang tidak hanya kompeten dalam menjalankan tugas, tetapi juga memiliki keteladanan dan komitmen terhadap perjuangan Muhammadiyah.

Dengan semangat tersebut, SD Sakri diharapkan semakin kuat sebagai sekolah Muhammadiyah yang unggul dan berkemajuan—unggul dalam prestasi, kuat dalam karakter, profesional dalam pelayanan, serta konsisten menghadirkan pendidikan yang memberi manfaat bagi peserta didik dan masyarakat. (*)

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu