Ada orang yang setiap hari terlihat baik-baik saja. Ia bekerja, bercanda, berkumpul bersama keluarga, beribadah, dan menjalani kehidupan seperti biasa.
Tetapi di dalam dirinya mungkin ada sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.
Ada kesalahan yang terus ia ingat. Ada dosa yang membuat hatinya gelisah setiap kali sendirian. Ada hak orang lain yang belum ia kembalikan. Ada ucapan yang pernah melukai. Ada amanah yang pernah dikhianati. Ada masa lalu yang ingin sekali ia hapus, tetapi tidak mungkin diulang.
Manusia memang bisa menyembunyikan kesalahan dari manusia lain. Tetapi tidak dari Allah.
Karena itu, pintu tobat menjadi salah satu rahmat terbesar dalam kehidupan seorang Muslim.
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan: “Para ulama berkata, bertaubat dari setiap dosa hukumnya adalah wajib.”
Taubat bukan pilihan tambahan bagi seorang Muslim. Taubat adalah kewajiban ketika seseorang menyadari dirinya telah melakukan dosa.
Jika maksiat itu antara seorang hamba dengan Allah dan tidak berkaitan dengan hak manusia, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa taubat memiliki tiga syarat.
Pertama, meninggalkan maksiat tersebut. Seseorang tidak bisa mengatakan telah bertaubat, sementara ia masih sengaja mempertahankan dosa yang sama.
Tobat membutuhkan keberanian untuk berhenti. Seperti seseorang yang sadar bahwa jalan yang ditempuhnya membawa kepada jurang. Ia tidak cukup hanya menyesal karena hampir terjatuh. Ia harus berhenti berjalan ke arah jurang itu dan memilih jalan lain.
Kedua, menyesali perbuatan tersebut. Penyesalan adalah tanda bahwa hati masih hidup.
Orang yang masih bisa menangis karena dosanya, masih merasa bersalah ketika mengingat kesalahannya, sesungguhnya sedang menemukan jalan pulang.
Yang berbahaya bukan hanya ketika seseorang berbuat dosa. Yang lebih berbahaya adalah ketika dosa tidak lagi membuatnya merasa bersalah.
Hati yang dahulu gelisah setelah berbuat salah, lama-lama bisa menjadi terbiasa. Kesalahan yang awalnya terasa berat, perlahan dianggap biasa. Pada titik tertentu, seseorang bahkan tidak lagi merasa perlu meminta ampun.
Karena itu, jangan takut kepada air mata penyesalan. Bisa jadi air mata itulah yang mengantarkan seseorang kembali kepada Allah.
Ketiga, bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Manusia memang lemah. Bisa saja seseorang yang hari ini bertaubat suatu saat tergelincir lagi.
Tetapi taubat yang benar harus disertai tekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut.
Ada perbedaan antara orang yang jatuh lalu berusaha bangkit dengan orang yang sengaja memilih kembali ke tempat ia jatuh.
Allah tidak meminta manusia menjadi makhluk yang tidak pernah salah. Manusia memang tempatnya salah dan lupa. Tetapi ketika salah, ia diperintahkan untuk kembali.
Ketika Dosa Menyangkut Hak Orang Lain
Persoalannya menjadi lebih serius ketika dosa tidak hanya berkaitan dengan hubungan kita kepada Allah, tetapi juga menyangkut hak manusia.
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa dalam kondisi seperti ini, ada syarat keempat: hak orang tersebut harus ditunaikan.
Jika berkaitan dengan harta, maka harta itu harus dikembalikan.
Jika berkaitan dengan tuduhan atau perkara yang menyangkut kehormatan seseorang, maka penyelesaiannya harus ditempuh dengan cara yang benar, termasuk memberikan kesempatan kepada pihak yang dirugikan untuk mendapatkan haknya atau meminta maaf kepadanya.
Jika berkaitan dengan ghibah, maka persoalannya juga tidak boleh dianggap ringan.
Sebab di balik satu kalimat yang kita ucapkan mungkin ada hati seseorang yang terluka.
Kadang kita lupa bahwa dosa tidak selalu berbentuk sesuatu yang besar dan terlihat.
Bisa jadi hanya sebuah pesan yang kita abaikan. Uang yang kita pinjam tetapi lupa mengembalikan. Janji yang kita ingkari. Nama seseorang yang kita bicarakan ketika ia tidak ada. Atau sebuah kalimat yang kita anggap candaan, tetapi ternyata bertahun-tahun tinggal sebagai luka dalam hati orang lain.
Karena itu, taubat bukan hanya urusan menengadahkan tangan kepada Allah.
Kadang taubat juga membutuhkan keberanian untuk mengetuk pintu rumah seseorang dan berkata: “Maafkan saya.”
Kadang membutuhkan kerendahan hati untuk mengembalikan sesuatu yang bukan milik kita.
Kadang membutuhkan keberanian untuk mengakui: “Saya telah berbuat salah.”
Itulah beratnya taubat sekaligus indahnya tobat. Sebab taubat tidak hanya membersihkan hubungan kita dengan Allah, tetapi juga mengajarkan kita memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Jangan Menunggu Menjadi Baik untuk Bertaubat
Ada orang yang berkata dalam hati, “Nanti kalau saya sudah benar-benar baik, saya akan bertobat.”
Padahal justru karena kita belum baik, kita membutuhkan tobat.
Jangan menunggu tua. Jangan menunggu sakit. Jangan menunggu menjelang kematian. Jangan menunggu hati menjadi tenang.
Sebab kita tidak pernah tahu kapan kesempatan itu berakhir.
Betapa banyak manusia yang pagi hari masih menyusun rencana untuk masa depan, tetapi sore harinya sudah tidak lagi berada di dunia.
Betapa banyak orang yang merasa masih memiliki waktu untuk meminta maaf, tetapi ternyata tidak sempat lagi bertemu dengan orang yang hendak ia mintai maaf.
Kehidupan ini terlalu singkat untuk membawa terlalu banyak dosa. Maka jika hari ini hati kita mengetuk pintu kesadaran, jangan abaikan.
Jika ada dosa, tinggalkan. Jika ada penyesalan, jangan ditenggelamkan.
Jika ada hak orang lain, kembalikan. Jika ada kesalahan, mintalah maaf.
Dan jika kita kembali tergelincir, jangan putus asa untuk kembali lagi.
Sebab selama kehidupan masih diberikan, pintu taubat masih menjadi jalan pulang.
Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad.
Ya Allah, Ya Rabb, Ya Rahman, Ya Rahim, ampunilah salah dan dosa kami. Jadikanlah kami hamba-Mu yang istiqamah menjalankan perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu.
Tetapkanlah kami sebagai hamba yang tetap beriman dan berislam, berikan kesehatan kepada kami, dan limpahkan kepada kami hidayah, rahmat, serta perlindungan-Mu di dunia dan akhirat.
Ya Allah, berilah kami ilmu yang bermanfaat, rezeki yang berkah, dan amal yang Engkau terima.
Ya Allah, terimalah taubat kami. Ampunilah kesalahan kami. Perbaikilah hati kami. Dan jika kami pernah menzalimi atau menyakiti orang lain, berilah kami kekuatan untuk memperbaikinya.
Ya Allah, terimalah dan kabulkanlah doa-doa kami.
Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanatan wa fil-aakhirati hasanatan wa qinaa ‘adzaaban-naar. Aamiin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments