Pagi itu saya mengawali hari dengan “ngantor” di Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar, Malang. Dalam suasana akhir pekan, para santri banyak menghabiskan kegiatan di luar kelas. Ada yang bermain bulu tangkis, mini soccer, bela diri, atau menghabiskan waktu dengan saling mengecek hafalan Al-Qur’an bersama sesama santri.
Di tengah suasana itu, seorang santri tiba-tiba menyapa saya dari balik sebuah pintu.
“Assalamu’alaikum. Ustaz sedang sibuk, ya?” tanyanya.
“Tidak”, jawab saya.
Hari itu saya memang hanya menunggu tamu yang belum datang, sekaligus mengawasi aktivitas dan piket di pondok. Saya berjaga-jaga jika ada hal-hal yang memerlukan penanganan, sambil membaca buku atau menulis.
Tetapi santri itu masih sedikit ragu.
“Ya sudah kalau Ustaz sibuk.”
Saya menyahut, “Ada apa? Kamu mau ngobrol? Tidak apa-apa. Ke sini saja, ngobrol dengan saya.”
“Iya, Ustaz. Tetapi kalau Ustaz sibuk, tidak usah. Kapan-kapan saja.”
Keraguan santri itu justru membuat saya yakin bahwa ada sesuatu yang ingin disampaikan. Maka saya persilakan dia masuk dan duduk di ruang kerja saya. Mula-mula dia terlihat kikuk. Namun, perlahan obrolan pun mengalir.
Saya mengingat nama santri ini karena dia tergolong sangat supel. Di mana pun kami bertemu atau sekadar berpapasan, dia selalu menyapa. Di masjid, seusai shalat berjamaah fardhu, dia pun rajin bersalaman dengan saya.
Karena itu, ketika dia membuka obrolan dengan kalimat yang tidak biasa, saya sangat terkejut.
“Saya bosan hidup, Ustaz.”
Saya berusaha menyembunyikan rasa kaget. Lalu saya mencoba mendalami apa yang ia maksud dengan “bosan hidup” itu.
Dia terus bercerita. Rupanya, yang ia maksud adalah perasaan bahwa hari-harinya berjalan biasa saja.
Belajar, bermain, beribadah, dan menjalani aktivitas di pesantren secara rutin. Semua itu membuatnya bosan. Ia merasa hidupnya kurang berarti.
Barangkali karena tidak memiliki kosa kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya, ia membahasakannya dengan kalimat sederhana: “bosan hidup.”
Obrolan terus berlanjut. Lalu terungkap hal lain. Ia merasa tidak memiliki keistimewaan apa-apa sehingga tidak memiliki semangat hidup.
Baginya, hidup akan sangat membosankan jika hanya diisi dengan belajar, belajar, dan belajar. Ketika nanti dewasa, ia membayangkan hidupnya hanya akan diisi dengan bekerja, bekerja, dan bekerja.
“Hobimu apa?”, tanya saya.
Ia menjawab dengan jawaban yang tidak kalah mengejutkan.
“Memukul orang, Ustaz,” jawabnya.
Saya dan seorang guru yang menemani santri ini ngobrol tidak bisa menahan tawa. Kami yakin santri ini pasti bercanda.
Namun, ketika kami bertanya sekali lagi, dengan wajah polosnya ia kembali mengatakan dan berusaha meyakinkan kami.
“Benar, Ustaz, hobi saya memukul orang. Pokoknya kalau ada orang yang nggak benar, saya pengin mukul saja rasanya,” jawabnya untuk meyakinkan.
Saya berpikir sejenak untuk memberikan respons yang tepat agar santri ini kembali optimistis menghadapi kehidupan. Saya berusaha melihat secara positif hobi yang tadi ia ceritakan.
Saya yakin, cara pandang terhadap sebuah persoalan akan menentukan hasil. Hal yang positif, jika disikapi secara negatif, akan melahirkan hasil negatif. Sebaliknya, hal yang negatif, jika disikapi secara positif, akan memberikan hasil positif.
Dengan prinsip itu, sambil membalutnya dengan candaan, saya mengatakan bahwa memukul orang merupakan hobi yang bisa bermanfaat untuk hal-hal baik jika tahu cara menggunakannya.
Saya lalu masuk lebih dasar lagi dengan bertanya, “apakah kegemarannya memukul orang berarti ia menyukai olahraga bela diri?”
Rupanya ia mengiyakan pertanyaan saya itu.
Maka kini giliran saya bercerita.
Kepadanya saya kisahkan tentang Robin Hood, seorang pencuri yang melakukan pencurian demi menolong orang miskin. Saya juga menceritakan kisah Raden Sahid —yang kelak terkenal dengan panggilan Sunan Kalijaga—, seorang anak Bupati Tuban yang memilih menjadi maling cluring, yaitu orang yang mencuri karena ingin menolong orang miskin di tengah situasi paceklik yang menimpa masyarakat.
Meskipun demikian, saya katakan kepadanya bahwa mencuri tetap mencuri. Itu perbuatan yang tidak benar meskipun orientasinya untuk tujuan yang benar.
Demikian pula dengan hobi memukul orang tadi. Apa pun alasannya, memukul orang adalah salah.
Tetapi “hobi” memukul orang itu harus dikonversi menjadi semangat membela sesama.
“Kamu bisa menjadi pembela kebenaran dengan hobimu itu, asal jalannya benar,” demikian pesan saya.
Obrolan Sabtu pagi itu kemudian menyentakkan kesadaran saya tentang hakikat pendidikan sebagai media untuk melakukan nurturing terhadap bakat, potensi, kemampuan dasar, dan fitrah peserta didik.
Menemukan Keunikan dalam Pendidikan
Dengan hakikat ini, dalam proses pendidikan tidak boleh terjadi pola one size fits all (satu ukuran untuk semua).
Lingkungan pendidikan tidak seharusnya hanya menyediakan satu “resep” untuk membangun keragaman potensi, latar belakang, bakat, kemampuan, hobi, atau keinginan peserta didik.
Jika demikian keadaannya, pendidikan hanya akan memaksa burung untuk berenang, sementara burung yang berbakat untuk terbang justru tidak mendapatkan ruang untuk mengepakkan sayapnya.
Kebutuhan menghindari one size fits all ini menjadi lebih urgen dalam konteks pendidikan pondok pesantren. Santri bergumul dalam sebuah proses yang panjang. Selama 24 jam dalam sehari, mereka menghabiskan waktunya di lingkungan pesantren.
Jika pendidikan di pondok pesantren berjalan dengan pola one size fits all, akan ada banyak potensi yang hilang. Bahkan, pola tersebut dapat menghadirkan kebosanan dan disorientasi.
Kembali kepada santri tadi, saya meyakinkannya tentang potensi yang ia miliki.
Setidaknya, saya menangkap ada dua kecerdasan dalam dirinya. Ia memiliki kecerdasan interpersonal, yakni kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Sikap supel yang membuatnya mudah menyapa orang adalah sebuah kecerdasan. Tidak semua orang memiliki kecerdasan seperti itu.
Demikian pula hobi memukul orang yang ia gambarkan tadi. Sesungguhnya, itu merupakan gambaran kecerdasan sosial. Sebab, ternyata bukan sekadar memukul. Ia tidak tahan jika melihat orang lain diperlakukan secara tidak benar.
Karena itu, santri ini hanya memerlukan bimbingan dalam lingkungan yang tepat. Dengan lingkungan tersebut, ia bisa menemukan keunggulan dirinya di tengah keputusasaan yang tadi ia rasakan.
Pesantren adalah sebuah learning ecology, sebuah lingkungan belajar yang bersifat multifungsi. Dalam konteks learning ecology, fungsi utama pesantren adalah sebagai nurturing environment, lingkungan tempat santri memupuk kediriannya.
Atau, tepatnya, tempat santri memupuk potensi, bakat, dan orientasinya masing-masing.
Dengan begitu, santri akan menemukan keunggulan dirinya tanpa harus merasa paling unggul. Sebab, dalam learning ecology itu akan terlihat bahwa setiap orang memiliki keunggulan yang berbeda dan unik.
Ketika setiap orang menemukan keunikannya, rasa “paling” akan bisa ditekan.
Refleksi ini juga membawa saya kepada kisah seorang bocah yang dikembalikan oleh sekolah kepada keluarganya karena sekolah merasa tidak mampu mendidiknya.
Sang anak pulang dan menyerahkan sepucuk surat dari sekolah kepada ibunya.
Sesungguhnya, sang ibu menahan kesedihan. Tetapi ia membacakan surat itu dengan suara keras:
“Anak Anda adalah seorang jenius. Sekolah ini terlalu kecil untuk menampungnya dan tidak memiliki guru yang cukup hebat untuk mendidiknya. Mohon didiklah dia sendiri.”
Sang ibu pun mendidik anaknya dengan sungguh-sungguh menggunakan tangannya sendiri. Kelak di kemudian hari, sang anak tumbuh sebagai salah seorang penemu hebat yang mengubah sejarah manusia.
Namun, suatu ketika, sang anak menemukan kebenaran yang selama ini sang ibu menyembunyikannya.
Rupanya, surat asli dari sekolah itu masih tersimpan di sebuah laci tua. Sang anak menemukannya ketika ia telah dewasa.
“Anak Anda adalah anak yang bodoh dan terbelakang. Kami tidak mengizinkan dia bersekolah di sini lagi.”
Begitu bunyi asli surat itu.
Sang anak tertegun.
Tetapi satu hal yang pasti: ibunya telah berhasil mengubah hal negatif yang menimpa mereka. Hal negatif itu ia sikapi secara positif.
Ia berbohong kepada anaknya tentang kebenaran surat tersebut. Justru sikap positif dalam menghadapi hal negatif itulah yang berhasil mengantar sang anak menjadi tokoh penting dalam sejarah manusia.
Sang ibu itu adalah Nancy Edison. Sang anak tak lain adalah Thomas Alva Edison.***





0 Tanggapan
Empty Comments