Strategi Nabi Yusuf dalam menghadapi siklus tujuh tahun kelimpahan dan tujuh tahun paceklik dinilai relevan untuk menjadi inspirasi dalam membangun ketahanan finansial keluarga dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Hal tersebut mengemuka dalam diskusi yang diinisiasi akademisi Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Dr. Dedy Surahman, S.E., M.M., di Kedai Warkop Kadung Tresno, Jalan Diponegoro, Surabaya, Kamis (24/9/2026) malam.
Dedy yang juga Wakil Sekretaris LPPK PDM Kota Surabaya menilai persoalan pengelolaan keuangan masyarakat pada dasarnya bukan hanya berkaitan dengan besarnya pendapatan. Menurutnya, peningkatan pendapatan perlu diikuti dengan disiplin dalam mengelola keuangan.
“Persoalan keuangan kita itu sebenarnya klasik; pendapatan nambah, tapi gaya hidup langsung ngikutin, jadi nggak punya cadangan. Padahal kuncinya ada di disiplin mencatat dan tahu bedanya antara omzet sama laba bersih, biar usaha nggak jalan di tempat.” Ujar Wakil Sekretaris LPPK PDM Kota Surabaya.
Dalam diskusi tersebut, Dedy menguraikan bagaimana kerangka berpikir Nabi Yusuf dalam menghadapi siklus tujuh tahun kelimpahan dan paceklik dapat diterapkan dalam konteks pengelolaan keuangan modern.
Menurutnya, ketahanan ekonomi tidak otomatis terbentuk hanya karena seseorang memiliki pendapatan yang meningkat. Kemampuan mengatur arus kas, menyisihkan pendapatan, serta membedakan kebutuhan konsumsi dan kebutuhan produktif menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi finansial.
“Pendapatan yang meningkat tidak otomatis melahirkan ketahanan ekonomi jika seluruhnya habis untuk konsumsi, dan di sinilah urgensi disiplin menabung serta memisahkan keuangan usaha dari dompet pribadi harus ditegakkan,” ujar Dedy menjelaskan detail teknis finansial tersebut.
Ia juga menyoroti persoalan yang kerap dihadapi pelaku UMKM, terutama terkait pembukuan dan pemahaman mengenai omzet serta laba bersih.
Menurut Dedy, pelaku usaha perlu memahami bahwa seluruh uang yang masuk ke dalam usaha tidak dapat langsung dianggap sebagai keuntungan. Modal kerja dan biaya operasional harus tetap diperhitungkan agar keberlangsungan usaha dapat terjaga.
Dedy menilai pemberian bantuan modal kepada UMKM perlu disertai dengan peningkatan pengetahuan dan pendampingan. Menurutnya, bantuan finansial tanpa penguatan kapasitas pengelolaan usaha berisiko membuat penerima bantuan tetap bergantung pada bantuan berikutnya.
“Bantuan modal buat UMKM itu nggak akan ada artinya kalau cuma dikasih uangnya aja tanpa didampingi ilmunya. Semangat Al-Ma’un itu menuntut kita buat mengawal mereka sampai benar-benar mandiri, bukan malah bikin mereka terus-terusan jadi penadah bantuan.” Tutur Dosen UMSURA Fakultas Ekonomi, Prodi Akuntansi
Karena itu, strategi pemberdayaan UMKM menurutnya perlu diarahkan pada kemandirian ekonomi. Pelaku usaha tidak hanya membutuhkan modal, tetapi juga pengetahuan untuk mengelola keuangan dan mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.
Pembahasan mengenai ketahanan ekonomi dalam diskusi tersebut juga dikaitkan dengan semangat Teologi Al-Ma’un. Dedy menekankan bahwa kemandirian finansial tidak semata-mata berkaitan dengan pencapaian individu, tetapi juga memiliki dimensi sosial.
“Pemberdayaan tidak boleh berhenti pada seremonial distribusi bantuan modal semata, melainkan harus dikawal dengan transfer pengetahuan, pendampingan intensif, serta perluasan akses pasar agar mustahik benar-benar bertransformasi menjadi pelaku ekonomi yang berdaya,” tutur Dedy menegaskan arah praksis sosial tersebut.
Menurutnya, pendekatan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan ekonominya, tetapi juga memiliki kemampuan untuk berkembang dan memberdayakan lingkungan sekitarnya.
Diskusi yang berlangsung sekitar pukul 19.00 hingga 22.30 WIB tersebut memadukan perspektif akademis dengan persoalan pengelolaan keuangan yang dihadapi masyarakat dan UMKM.
Strategi Nabi Yusuf dalam menghadapi masa kelimpahan dan paceklik menjadi salah satu perspektif yang dibahas untuk melihat pentingnya perencanaan, disiplin pengelolaan keuangan, serta pemberdayaan ekonomi secara berkelanjutan.





0 Tanggapan
Empty Comments