Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Syukur, Jalan Kecil Menuju Keberkahan Hidup

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Syukur, Jalan Kecil Menuju Keberkahan Hidup
Ilustrasi foto: chatgbt
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Sepiring Nasi dan Kesadaran yang Datang Terlambat

Bayangkan seorang ayah yang pulang bekerja menjelang malam. Tubuhnya lelah. Pikirannya masih dipenuhi persoalan pekerjaan. Sesampainya di rumah, ia melihat sepiring nasi, sayur, dan lauk sederhana sudah tersedia di meja.

Awalnya, ia makan sambil memikirkan pekerjaan yang belum selesai. Bahkan, sempat mengeluh karena menu malam itu tidak seperti yang diinginkannya.

Namun, ketika melihat anaknya duduk di samping meja, ia teringat bahwa beberapa hari sebelumnya anak itu sempat sakit.

Selama sakit, anaknya sulit makan. Malam itu, ia justru menyaksikan anaknya menikmati makanan dengan lahap.

Seketika, suasana makan terasa berbeda. Sepiring nasi yang semula dianggap biasa ternyata menyimpan kebahagiaan.

Ada kesehatan yang memungkinkan mereka makan bersama. Ada istri yang menyiapkan makanan. Ada anak yang tumbuh dan kembali ceria. Ada kesempatan berkumpul setelah seharian menjalani kesibukan masing-masing.

Tidak ada yang berubah dari makanan di atas meja. Yang berubah adalah kesadaran sang ayah dalam memandang nikmat.

Ia pun menyadari, selama ini terlalu sering mengukur kebahagiaan dari apa yang belum berhasil diraih. Padahal, begitu banyak hal yang sudah Allah berikan dan tidak pernah benar-benar ia hitung.

Kisah sederhana ini mengingatkan bahwa syukur tidak harus menunggu peristiwa besar. Kita bisa bersyukur ketika tubuh masih sehat, ketika keluarga masih berkumpul, ketika pekerjaan masih bisa dilakukan, bahkan ketika persoalan belum sepenuhnya selesai.

Sebab, tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati hal-hal yang selama ini kita anggap biasa.

Syukur Bukan Sekadar Ucapan

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

“Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur demi (kebaikan) dirinya sendiri.” (QS An-Naml: 40)

Ayat ini menegaskan bahwa manfaat syukur kembali kepada orang yang melakukannya.

Allah tidak membutuhkan pujian manusia. Kitalah yang membutuhkan kesadaran untuk mengakui bahwa segala nikmat berasal dari-Nya.

Syukur bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah ketika menerima sesuatu yang menyenangkan. Syukur juga berarti menggunakan nikmat sesuai dengan tujuan yang baik.

Ketika diberi kesehatan, kita berusaha menjaga tubuh dan menggunakannya untuk beramal. Ketika diberi ilmu, kita membagikannya agar bermanfaat bagi orang lain.

Ketika diberi rezeki, kita tidak hanya memikirkan kebutuhan sendiri, tetapi juga menyisihkan sebagian untuk membantu sesama.

Begitu pula ketika diberi waktu. Syukur atas waktu tidak cukup dengan mengakui bahwa waktu adalah nikmat. Kita perlu mengisinya dengan kegiatan yang membawa manfaat.

Dengan demikian, syukur memiliki tiga sisi: hati yang mengakui nikmat, lisan yang memuji Allah, dan tindakan yang menggunakan nikmat untuk kebaikan.

Seseorang yang bersyukur tidak harus memiliki kehidupan tanpa masalah. Ia tetap bisa menghadapi kesulitan, tetapi tidak membiarkan kesulitan menghapus seluruh kesadaran tentang nikmat yang masih dimiliki.

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 05/11/2026 20:36
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu