Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Blitar menggelar Tabligh Akbar bertema “Transformasi Pembelajaran di Era Kecerdasan Buatan” di Perguruan Muhammadiyah Kota Blitar, Jalan Cokroaminoto Nomor 3, Kelurahan Kepanjenlor, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, pada hari Ahad malam (12/7/2026) atau bertepatan dengan 27 Muharram 1448 Hijriah.
Kegiatan yang dimulai pukul 19.00 WIB itu diikuti ratusan peserta yang terdiri atas pimpinan Muhammadiyah, guru, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, pelajar, serta jamaah dari berbagai daerah. Tabligh Akbar menghadirkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia sekaligus Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah yaitu Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed.
Dalam ceramahnya, Abdul Mu’ti mengawali penyampaian materi dengan mengajak jamaah merenungkan firman Allah dalam Surat Ali Imran Ayat 190-191 tentang ciri-ciri Ulul Albab.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berakal (Ulul Albab), yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, maupun berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata, ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.'”
Menurut Abdul Mu’ti, ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia unggul adalah mereka yang mampu memadukan dzikir dan pikir. Ulul Albab disebut sebanyak 16 kali dalam Al-Qur’an sebagai gambaran orang-orang yang memiliki keluasan ilmu, keluasan pandangan, kecerdasan, serta selalu menghadirkan Allah dalam setiap keadaan.
“Ulul Albab adalah orang yang memiliki ilmu dan menghadirkan ilmu dalam kehidupannya. Pandangannya luas, tidak sempit, mampu melihat persoalan dari banyak sudut pandang, visioner, serta selalu dekat kepada Allah,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa berdzikir bukan hanya ketika beribadah, melainkan mengingat Allah dalam setiap kondisi. Berdiri menggambarkan saat seseorang memiliki kekuatan atau kekuasaan, duduk ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan, dan berbaring ketika sedang sakit. Dalam keadaan apa pun, seorang muslim harus tetap mengingat Allah agar hatinya tenteram, merasa diawasi Allah, serta tidak mengulangi kesalahan dan dosa.
Abdul Mu’ti juga mengisahkan tentang seseorang yang mengetuk pintu Rasulullah SAW. Saat itu wajah Rasulullah tampak sembab seperti habis menangis karena baru menerima wahyu yang berisi petunjuk agar umat Islam menjadi umat yang unggul dan hebat melalui perpaduan keimanan, ilmu pengetahuan, dan akhlak mulia.
Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an mengandung unit-unit atau potongan ayat yang saling menjelaskan sehingga dapat dipahami melalui ilmu pengetahuan sekaligus menjadi petunjuk kehidupan.
“Kita nikmati apa yang ada. Semua itu bagian dari amal saleh. Dengan ilmu menjadi mudah, dengan seni menjadi indah, dan dengan akhlak menjadi marwah,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti juga menyinggung kondisi perekonomian nasional. Menurutnya, meskipun ekonomi sedang menghadapi tantangan, Indonesia masih memiliki pertumbuhan yang patut disyukuri sehingga masyarakat perlu tetap optimistis.
Mengangkat tema transformasi pembelajaran di era kecerdasan buatan, ia menjelaskan bahwa Artificial Intelligence (AI) merupakan kecerdasan buatan yang bekerja dengan merekap data, menggunakan Algoritma, lalu mengelolanya menjadi sumber informasi. Namun informasi AI berasal dari data yang dikumpulkan dari berbagai sumber sehingga belum tentu seluruhnya benar.
“AI sangat membantu manusia, tetapi AI belum bisa bertanggung jawab. Karena itu, manusia jangan bergantung sepenuhnya kepada AI. Ilmu pengetahuan, akhlak, dan kebijaksanaan tetap menjadi pegangan utama,” tegasnya.
Ia mengingatkan masyarakat agar bijak menggunakan gawai dan teknologi, tidak mudah menghakimi orang lain tanpa ilmu, tidak mudah terprovokasi berita yang menimbulkan prasangka buruk, serta menjadikan ilmu sebagai jalan menyelesaikan berbagai persoalan.
“Kita harus menjadi cahaya. Jadilah penerang, jangan ketika keadaan semakin gelap justru mencari keuntungan. Manusia yang terbaik adalah manusia yang paling bermanfaat bagi sesamanya,” tuturnya.
Abdul Mu’ti juga membagikan pengalaman tentang kegiatan Bertaji yang rutin dilaksanakan di salah satu ranting Muhammadiyah di Tangerang Selatan. Bertaji merupakan singkatan dari Bermalam, Tahajud, dan Mengaji yang dilaksanakan setiap Jumat dini hari dan Ahad dini hari sebagai ikhtiar memperkuat spiritualitas warga Muhammadiyah.
Di akhir tausiyahnya, ia mengajak seluruh peserta untuk membangun budaya kerja yang tertib dan harmonis melalui sistem yang baik.
“Pakai SOP. Sistem harus dijalankan dengan baik. Jangan berantem, hidup harus tentrem, ayem, dan jangan glendem. Kalau kita semua bisa bekerja sama, insyaallah Indonesia menjadi bangsa yang rukun dan maju,” pesannya.
Ia juga menyampaikan bahwa setelah dari Blitar dirinya dijadwalkan menghadiri kegiatan MPLS Ramah di Kota Malang. Selain itu, ia menginformasikan bahwa persiapan tempat penyelenggaraan Muktamar Muhammadiyah ditargetkan selesai pada awal tahun 2027.
Tabligh Akbar yang dikemas layaknya seminar nasional tersebut berlangsung khidmat dan interaktif. Ratusan peserta mengikuti rangkaian acara hingga selesai serta menyambut hangat berbagai pesan inspiratif yang disampaikan Abdul Mu’ti mengenai pentingnya memadukan iman, ilmu, akhlak, dan pemanfaatan teknologi secara bijaksana demi mewujudkan generasi Indonesia yang unggul.





0 Tanggapan
Empty Comments