Hampir tidak ada celah. Semua tempat dipenuhi kunjungan keluarga santri Al-Ishlah usai acara Puncak Kesyukuran Dasawarsa ke-4 Al-Ishlah Sendangagung, Paciran, Lamongan, Ahad (27/9/2026).
Di depan Gedung STIQSI (Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an dan Sains Al-Ishlah), puluhan wali santri (walsan) menggelar tikar untuk lesehan di sepanjang halaman, di sela-sela mobil, hingga di bawah pohon.
Mereka asyik bercengkerama melepas kangen dengan putra-putri mereka setelah acara resmi berakhir.
Di sisi utara dan selatan masjid pun ramai. Para walsan menggelar bawaan mereka untuk dinikmati bersama. Bahkan halaman SMPM 12 Paciran, termasuk area parkir mobil dan motor yang digunakan selama acara Dasawarsa, turut menjadi tempat berkumpul meskipun berada di luar kompleks pondok.
Hari itu memang menjadi hari bebas kunjungan. Panitia memberikan kelonggaran waktu bagi walsan untuk menjenguk putra-putri mereka, mulai dari berakhirnya acara puncak hingga pukul 16.30 WIB.
Kebijakan tersebut ternyata menjadi daya tarik tersendiri. Banyak walsan yang hadir bukan hanya untuk mengikuti acara yang dihadiri tokoh nasional Mendikdasmen Prof. Dr. Abdul Mu’ti, tetapi juga sekaligus menjenguk anak mereka.
Antusiasme bahkan terlihat sejak jauh hari. Sejumlah walsan mengaku telah memesan penginapan untuk datang pada pagi hari. Sementara itu, wisma dan GOR pondok yang disediakan sebagai tempat penginapan juga tercatat dipenuhi pendaftar.
Semua penuh.
“Hadiri acara resmi dengan bonus kunjungan merupakan magnet yang mampu menyedot animo Walsan, panitia tinggal menyiapkan penginapan pasti mereka banyak tertarik,” ujar Habib Chirzin, Kepala Staf Pengasuhan Al-Ishlah.
Menurut Habib, momentum Dasawarsa ke-4 memang dimanfaatkan betul oleh wali santri dari berbagai daerah. Mulai dari Bojonegoro, Tuban, Gresik, hingga Surabaya dan Sidoarjo, mereka datang dan tumpah ruah di lingkungan pesantren.
Salah satunya adalah Fuji Astutik dari Bojonegoro. Ia mengaku harus memenuhi undangan resepsi kesyukuran 40 tahun Ponpes Al-Ishlah.
Kalau tidak datang, dua anaknya yang duduk di kelas 8-I SMP Muhammadiyah 12 Paciran dan 12-I MA Al-Ishlah bisa menagih janji.
Suasana kunjungan terlihat hangat dan sederhana. Bekal makanan dari rumah dibuka dan dinikmati bersama. Cerita tentang perkembangan belajar santri pun mengalir dalam pertemuan tersebut.
Beberapa santriwati terlihat membantu ibunya membawa bungkusan. Sementara yang lain masih asyik dengan ponsel, menunjukkan sesuatu kepada orang tua mereka.
Momen sederhana itu membuat lingkungan pesantren terasa semakin hidup. Setelah mengikuti acara resmi, para wali santri memanfaatkan waktu yang tersedia untuk bertemu, berbincang, makan bersama, dan melepas rindu dengan anak-anak mereka.
Pemandangan melubernya wali santri di berbagai sudut lingkungan Al-Ishlah menjadi gambaran kuatnya hubungan antara pesantren, santri, dan keluarga.
Di usia ke-40 tahun, Al-Ishlah tidak hanya berkembang secara fisik. Ikatan emosional antara pesantren, santri, dan wali santri juga semakin erat.
Pesantren ini kini memiliki 1.200 siswa SMPM 12 Paciran yang disebut sebagai SMP Muhammadiyah terbesar se-Indonesia.
Puncak Dasawarsa ke-4 akhirnya tidak hanya menjadi momentum kesyukuran perjalanan 40 tahun Al-Ishlah. Bagi para wali santri, momentum tersebut juga menjadi kesempatan untuk kembali bertemu dan menguatkan ikatan dengan putra-putri mereka.





0 Tanggapan
Empty Comments