Ada perubahan dalam sistem pembiayaan oleh BPJS Kesehatan melalui INA-CBGs. Bahkan dalam waktu dekat menjadi INA-DRGs. Ini menandakan pergeseran mendasar dari model fee for service ke pola pembayaran berbasis paket diagnosis.
Secara tradisional, pada model fee for service, rumah sakit menentukan tarif layanan berdasarkan seluruh item biaya. Pembentuk struktur harga total, yang sudah termasuk margin keuntungan di dalamnya. Model ini cenderung mendorong para klinisi melakukan pemborosan.
Serangkaian prosedur klinis dilakukan atas evidence yang bisa diperdebatkan. Bahkan pada banyak kasus didorong oleh keinginan, alih-alih oleh kebutuhan pasien. Transparansi menjadi isu utama karena biaya yang tercantum tidak mencerminkan cost yang sebenarnya.
Sebaliknya INA-CBGs atau INA DRG menetapkan tarif tetap per kasus, per tindakan, atau per diagnosis. Sehingga efisiensi biaya menjadi kunci dalam upaya meraih keberlanjutan layanan di rumah sakit. Unit Cost System (UCS) yang presisi untuk setiap tindakan atau diagnosis pasien yang dirawat di rumah sakit menjadi kebutuhan yang mendesak.
UCS sebagai Fondasi Efisiensi dan Keberlanjutan
UCS memungkinkan rumah sakit menghitung biaya riil setiap layanan atau produk secara lebih tepat. Mencakup direct cost dan indirect cost. Pengalaman penulis dalam mempraktekkan model UCS di Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan (RSML) menunjukkan bahwa seluruh komponen biaya dihitung tanpa asumsi. Tanpa hidden cost, dan meninggalkan prinsip fee for service.
RSML bisa membandingkan biaya aktual dengan tarif INA-CBGs untuk menentukan apakah suatu layanan/produk (dalam konsep coding: prosedur, tindakan atau diagnosis) menghasilkan surplus, impas, atau defisit.
Berbeda dengan sistem lama yang memasukkan margin dalam setiap item tarif. UCS justru menempatkan margin di akhir proses perhitungan sebagai hasil agregasi efisiensi. Bukan sebagai komponen harga. Ini menciptakan disiplin finansial dan mendorong optimalisasi proses layanan.
Transparansi dan Budaya Kolaborasi Antarstakeholder
Penerapan UCS mendorong keterbukaan biaya yang menjadi landasan kolaborasi antarpihak di rumah sakit. Syak wasangka di antara manajemen, dokter spesialis, tenaga medis, dan unit pendukung bisa dihindari karena keterlibatan para pihak dilakukan sejak awal penyusunannya.
Stigma seorang klinisi dianggap penyebab rugi dan sebaliknya klinisi yang lain menjadi penyumbang surplus bisa dihilangkan berdasarkan evidence dan acuan yang disepakati. Forum evaluasi secara rutin membuka jalur komunikasi yang jelas mengenai pengendalian biaya dan kinerja setiap layanan/produk.
Keterbukaan ini tidak terlihat dalam model fee for service, ketika struktur biaya sering kali tidak diketahui oleh para klinisi. Padahal menurut Porter dan Teisberg (2006), keterbukaan biaya adalah syarat penting untuk menciptakan pelayanan kesehatan berbasis nilai (value-based healthcare).
Sementara value-based healthcare adalah tools yang bisa menjamin keberlangsungan finansial dan operasional rumah sakit. UCS memungkinkan semua pihak untuk memahami peran masing-masing dalam mencapai efisiensi dan standar kualitas layanan/produk.
Jaminan Mutu dan Kepastian Pembayaran Klinisi
Peran UCS dalam menjaga mutu layanan dapat terlihat dari standardisasi biaya berbasis praktik klinis yang rasional. Variasi layanan yang tidak perlu dapat dikendalikan. Karena setiap tindakan memiliki batasan biaya yang jelas.
Kaplan dan Porter (2011) menegaskan bahwa pengukuran biaya per pasien secara akurat adalah kunci peningkatan mutu. Kepastian pembayaran bagi dokter spesialis menjadi sisi positif lain dalam penerapan UCS di rumah sakit.
Dalam pengamatan penulis di RSML, jasa tenaga medis telah ditetapkan dalam formulasi baku. Maksimal 25% dari tarif INA-CBGs tanpa risiko pemotongan akibat klaim ditolak, downcoding, atau bahkan verifikasi pascaklaim yang bersifat prospektif.
Ini berbeda dengan sistem fee for service yang rentan terhadap ketidakpastian pembayaran akibat koreksi klaim. Pada beberapa kasus klinisi masih juga dibebankan pengembalian dana kepada rumah sakit sebagai konsekuensi atas pemotongan tersebut.
Dampak terhadap Kinerja Keuangan Rumah Sakit
Implementasi UCS telah terbukti meningkatkan efisiensi dan profitabilitas rumah sakit. Laporan Keuangan RSML tahun 2024 dan 2025 yang telah diaudit oleh auditor independen menunjukkan perbaikan rasio biaya operasional. Dibandingkan pendapatan operasional dan peningkatan laba pascapenerapan UCS di lebih dari 190 paket prosedur atau diagnosis.
Profitabilitas bisa dijaga dalam rentang 10-15% tanpa isu penurunan mutu yang bermakna. Hal ini menegaskan bahwa UCS bukanlah instrumen akuntansi semata tetapi bisa berfungsi sebagai strategi manajerial untuk keberlanjutan organisasi.
Dalam konteks INA-CBGs dan INA-DRGs, UCS telah beralih dari sebuah opsi menjadi keharusan. Jika dibandingkan dengan model fee for service yang didasarkan pada margin dan kurangnya transparansi, UCS memberi pendekatan berneda. Ia berlandaskan pada biaya rill tanpa margin, keterbukaan, kerjasama, serta jaminan kualitas dan pembayaran.
UCS menjadi dasar dalam menciptakan rumah sakit yang efisien, berkelanjutan, berfokus pada layanan/produk yang secara nilai dapat dipertanggungjawabkan.





0 Tanggapan
Empty Comments