Ribuan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memenuhi ruangan Induk Siti Walidah untuk mengikuti rangkaian Masa Taaruf (Masta) Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UMS 2025 pada Senin (18/8/2025).
Sorot mata penuh antusiasme menyambut setiap agenda, seolah menjadi tanda dimulainya babak baru dalam perjalanan akademik mereka.
Salah satu momen yang paling ditunggu adalah sambutan dari Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Fajar Riza Ul Haq.
Kehadiran tokoh nasional sekaligus akademisi ini menjadi magnet tersendiri, terlebih karena ia seorang alumnus UMS dan dikenal dekat dengan dunia pendidikan Muhammadiyah.
Dalam orasinya, Fajar menekankan bahwa dunia kampus bukan hanya tempat menimba ilmu akademik, melainkan juga ruang pembentukan karakter kepemimpinan.
“Mahasiswa Muhammadiyah harus memiliki jiwa kepemimpinan. Seorang pemimpin harus memiliki karakter dan mental yang kuat. Hal tersebut dapat dibentuk melalui keterlibatan dalam organisasi di kampus,” ujarnya lantang.
Menurutnya, organisasi adalah kawah candradimuka bagi mahasiswa. Di sanalah mental diuji, kemampuan berargumentasi diasah, serta semangat kerja sama dilatih.
Ia menegaskan bahwa hanya mereka yang berani mengambil peran aktif dalam organisasi yang akan siap terjun menghadapi dunia nyata
Suasana ruangan hening ketika Fajar mulai mengupas realitas dunia kerja. Ia tidak menutup-nutupi fakta keras yang menanti para mahasiswa setelah lulus.
“Dari ribuan mahasiswa baru yang hadir hari ini, hanya sekitar 10 persen yang kelak dengan mudah mendapatkan pekerjaan sesuai bidangnya,” katanya, sambil menatap ke arah mahasiswa.
Pernyataan itu sontak membuat banyak mahasiswa terdiam. Sebuah peringatan dini bahwa ijazah bukanlah tiket instan menuju kesuksesan. Dunia kerja, menurut Fajar, tidak ramah, karena penuh kompetisi, perubahan, bahkan kejutan yang tak terduga.
“Dunia nyata jauh lebih keras dibandingkan dunia perkuliahan. Gelar akademik saja tidak cukup. Kalian harus mempersiapkan diri dengan keterampilan yang relevan dan mental yang tangguh,” tegasnya.
Tiga Kompetensi Kunci
Sebagai bekal, Fajar membekali mahasiswa dengan tiga kompetensi kunci yang menurutnya wajib dimiliki untuk menghadapi persaingan global, di antaranya yakni:
1. Kemampuan Berkomunikasi
Menurutnya, komunikasi yang baik adalah jembatan menuju keberhasilan. Tanpa komunikasi yang jelas, kerja sama akan runtuh. Perusahaan, sekolah, lembaga, semuanya membutuhkan komunikasi yang baik untuk tumbuh.
2. Pemikiran Kritis
Fajar menegaskan bahwa mahasiswa harus melatih diri agar tidak mudah menerima sesuatu begitu saja. Baginya, berpikir kritis membuat seseorang mampu memahami masalah dan menemukan solusi. Biasakan diri untuk membaca buku, berdiskusi dengan dosen, serta terlibat dalam perdebatan akademik. Dari sanalah kemampuan berpikir akan terasah.
3. Kemampuan Berkolaborasi
Dunia kerja saat ini, kata Fajar, tidak lagi bisa dijalani secara individual. Kolaborasi menjadi kunci untuk dapat beradaptasi dengan cepat. Kerja sama akan membangun chemistry antarkaryawan. Oleh karena itu, setiap individu harus siap menghadapi perubahan dan mampu bekerja lintas bidang.
Ketiga kompetensi ini, lanjutnya, bukan hanya teori, melainkan bekal nyata yang akan membedakan antara mereka yang mampu bertahan dan mereka yang tertinggal.
Menutup orasinya, Fajar Riza Ul Haq memberikan pesan yang sederhana namun penuh makna.
“Siapkanlah dirimu yang terbaik, karena dunia nyata itu lebih keras,” ucapnya, disambut tepuk tangan panjang dari ribuan mahasiswa baru.
Pesan tersebut seolah menjadi gong yang menandai dimulainya perjalanan baru bagi para mahasiswa UMS. Masta bukan sekadar ajang perkenalan kampus, melainkan ruang untuk menata niat, membangun karakter, dan menyiapkan mental dalam menghadapi kehidupan setelah wisuda.
Bagi UMS, kehadiran Wamen Fajar Riza Ul Haq tidak sekadar memberi semangat, tetapi juga menjadi simbol bahwa kampus ini sungguh-sungguh menyiapkan mahasiswanya menjadi insan yang paripurna: unggul dalam akademik, tangguh dalam mental, dan berdaya saing global.
Masta PMB UMS 2025 pun menjadi pengingat bahwa dunia perkuliahan bukan sekadar ruang belajar teori, melainkan ladang pembentukan pribadi. Sebab pada akhirnya, seperti pesan Fajar Riza Ul Haq, hanya mereka yang benar-benar siaplah yang mampu menaklukkan kerasnya dunia nyata. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments