Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada awal September 2026 menghasilkan kolom abu vulkanik yang terdeteksi hingga ketinggian sekitar 14,6 kilometer di atas permukaan laut. Sebaran abu di atmosfer bahkan terdeteksi melintasi sejumlah wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu.
Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada aktivitas penerbangan, tetapi juga menimbulkan perhatian terhadap potensi risiko kesehatan masyarakat, terutama ketika abu vulkanik mencapai permukaan dan terhirup dalam jumlah tertentu.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FKIK UMY), Dr. dr. Merita Arini, MMR., menjelaskan bahwa dampak kesehatan akibat abu vulkanik tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan jarak seseorang dari sumber erupsi.
Menurutnya, risiko lebih banyak dipengaruhi konsentrasi abu yang terhirup, lamanya seseorang terpapar, serta kondisi kesehatan masing-masing individu.
“Risiko kesehatan akibat paparan abu vulkanik dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti jumlah atau konsentrasi abu, durasi paparan, dan kondisi individu yang terpapar. Jadi, risikonya tidak bisa hanya dilihat dari seberapa jauh seseorang berada dari sumber erupsi, tetapi juga dari dosis paparan dan kerentanan setiap orang,” jelas Merita kepada Humas UMY, Rabu (9/9/2026).
Merita menjelaskan, abu vulkanik terdiri atas partikel dengan ukuran yang beragam. Partikel berukuran lebih besar umumnya dapat tertahan oleh sistem pertahanan alami tubuh, antara lain rambut hidung dan mekanisme pembersihan mukosiliar (mucociliary clearance).
Namun, partikel yang berukuran sangat halus memiliki risiko lebih besar karena dapat masuk lebih jauh ke dalam saluran pernapasan. Partikel dengan diameter aerodinamis sekitar 4 mikrometer atau lebih kecil termasuk fraksi respirable yang berpotensi mencapai alveolus, bagian paru-paru tempat pertukaran gas berlangsung.
“Tubuh manusia yang sehat sebenarnya memiliki mekanisme untuk mengeluarkan partikel yang masuk ke saluran pernapasan. Namun, ketika partikelnya sangat kecil, sebagian dapat mencapai bagian paru-paru yang lebih dalam. Dampak yang paling umum biasanya berupa iritasi, seperti batuk, sakit tenggorokan, dan gangguan pada mata,” terangnya.
Karena itu, masyarakat perlu membedakan antara abu yang terdeteksi berada di atmosfer dan abu yang benar-benar mengendap di permukaan. Keberadaan abu di lapisan atmosfer di atas suatu wilayah tidak otomatis berarti seluruh masyarakat di wilayah tersebut mengalami paparan dengan konsentrasi yang sama.
Kelompok Rentan Perlu Lebih Waspada
Paparan abu vulkanik dengan konsentrasi tinggi dapat memperburuk kondisi penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Penderita penyakit kardiovaskular juga perlu lebih waspada karena gangguan pernapasan dapat meningkatkan beban kerja jantung.
Anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang lebih rentan. Sistem pernapasan anak masih berkembang dan frekuensi napas mereka relatif lebih tinggi. Sementara itu, lansia lebih berisiko mengalami dampak yang lebih berat karena kemungkinan memiliki penyakit penyerta.
Kelompok rentan lainnya adalah ibu hamil serta orang yang memiliki penyakit paru, penyakit jantung, atau gangguan sistem kekebalan tubuh. Mereka dianjurkan lebih ketat membatasi paparan dan mengikuti petunjuk tenaga kesehatan.
Untuk mengurangi risiko, masyarakat yang mengalami hujan abu sebaiknya membatasi aktivitas di luar rumah. Pintu dan jendela juga perlu ditutup untuk mengurangi masuknya abu ke dalam ruangan, terutama ketika konsentrasi partikel di udara meningkat.
Jika harus beraktivitas di luar rumah, respirator N95 yang terpasang rapat dapat memberikan perlindungan lebih baik terhadap partikel halus dibandingkan masker kain atau masker nonmedis. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada ukuran dan kerapatan respirator saat digunakan.
“Hal terpenting bukan hanya jenis maskernya, tetapi juga bagaimana masker tersebut terpasang. N95 yang digunakan dengan benar dapat memberikan perlindungan lebih baik terhadap partikel halus, tetapi bukan berarti seseorang terbebas sepenuhnya dari paparan. Karena itu, langkah utama tetap menghindari paparan sebanyak mungkin,” ujar Merita.
Jangan Asal Membersihkan Abu Vulkanik
Risiko paparan juga dapat muncul ketika masyarakat membersihkan endapan abu vulkanik. Abu yang sangat halus dan disapu dalam kondisi kering dapat kembali beterbangan sehingga lebih mudah terhirup.
Untuk membersihkan ruangan, masyarakat dapat menggunakan penyedot debu dengan penyaring high-efficiency particulate air (HEPA), jika tersedia. Permukaan keras dapat dibersihkan menggunakan kain atau alat pel yang sedikit lembap.
Sementara itu, endapan abu di luar ruangan dapat dibasahi secukupnya sebelum disapu atau dikumpulkan. Abu tidak dianjurkan disiram hingga terlalu basah karena dapat mengeras, menyumbat saluran air, serta menambah beban pada atap.
Pembersihan sebaiknya dilakukan setelah hujan abu berhenti dan tetap mengikuti petunjuk pemerintah setempat. Masyarakat juga dianjurkan menggunakan respirator yang terpasang rapat, kacamata pelindung, pakaian berlengan panjang, dan alas kaki tertutup selama proses pembersihan.
Waspadai Gejala Berat
Merita mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala yang muncul setelah terpapar abu vulkanik. Keluhan ringan seperti batuk, iritasi tenggorokan, atau gangguan pada mata perlu diperhatikan, terutama jika paparan berlangsung berulang atau dalam konsentrasi tinggi.
“Segera cari pertolongan medis apabila mengalami sesak atau napas yang semakin berat, tarikan pada dinding dada, suara mengi, nyeri dada, lemas berat, hingga penurunan kesadaran,” tegasnya.
Di tengah aktivitas erupsi, masyarakat juga perlu terus memantau informasi resmi mengenai perkembangan Gunung Anak Krakatau dan kondisi kualitas udara di wilayah masing-masing.
Sebelumnya, berdasarkan rekaman instrumental Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), episode erupsi menerus berlangsung sekitar 25 jam, mulai Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB hingga Ahad (6/9/2026) pukul 00.04 WIB. Aktivitas tersebut disertai suara gemuruh, semburan lava, dan lontaran material vulkanik.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mendeteksi dua klaster sebaran abu vulkanik pada lapisan atmosfer. Kondisi tersebut sempat mengganggu operasional penerbangan dan menyebabkan penutupan sementara sejumlah bandar udara.
Pada Selasa (8/9/2026), sejumlah bandara kembali beroperasi setelah pengujian di lapangan menunjukkan hasil negatif terhadap keberadaan abu vulkanik. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments