Tuduhan terhadap alam oleh manusia selalu muncul disaat terjadinya bencana alam yang luar biasa. Manusia beragama apalagi tidak beragama jika menghadapi bencana alam yang menimpa diri mereka, lalu serta-merta melimpahkan kekesalannya atau ketidak mampuannya mengatasi masalah, maka alam yang dijadikan kambing hitam.
Padahal alam diciptakan untuk manusia dan alam bersahabat dengan mereka. Segala kebutuhan hidup manusia bersumber dari dalam alam. Apakah pantas jika alam yang dituduh ekstrim dan dipersalahkan jika terjadi bencana yang menimpa manusia?
Bagi orang beragama tidak selayaknya menyatakan alam yang telah berubah karakternya dari yang bersahabat menjadi ekstrim. Tanpa disadari dan jika direnungi secara mendalam bahwa tuduhan ekstrim itu ada pada ucapan diri manusia itu sendiri karena tidak berdaya menghadapi masalah yang dihadapi berkaitan dengan alam.
Sesungguhnya dalam ajaran agama secara jelas disampaikan bahwa kerusakan alam adalah akibat dari perbuatan manusia. Siapakah yang ekstrim sebenarnya?
Manusia diciptakan oleh Allah adalah untuk mengelola alam dan bukan untuk merusaknya. Manusialah yang sepatutnya menjaga dan memelihara kelestarian alam dan lingkungan hidupnya. Namun karakter manusia berbeda-beda antara satu dan lainnya.
Karakter Manusia
Karakter manusia terhadap alam secara garis besar terbagi tiga. Pertama, manusia pencinta alam (muhibb fil ardh atau nature lover) dan lingkungan yang berusaha bagaimana menjaga, memelihara dan memperjuangkan alam agar tetap lestari, indah, menyehatkan dan tidak dieksploitasi.
Apalagi alam dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka dari hasil mengolah alam secara wajar dan beradab. Manusia seperti ini tidak akan membiarkan alam dan lingkungan hidupnya dirusak. Apalagi pengrusakan dilakukan secara ekstrim, semena-mana tanpa batas dan melanggar hukum agama dan dunia.
Kedua, manusia pengguna alam (Khalifah fil ardh atau humans use nature) yang berusaha mencari rezki dan nafkah dari keberadaan alam dan lingkungannya. Seperti halnya petani, nelayan dan orang-orang yang berusaha mengolah alam tanpa mengeksploitasi dan merusak alam dan lingkungannya.
Petani, nelayan, pelaut, penerbang dan penjaga keamanan alam di darat dan laut dalam kehidupannya sehari-hari bersahabat dengan alam. Mereka juga berusaha menjaga kelestarian alam dan lingkungannya.
Ketiga, manusia perusak alam (mufsid fil ardh atau humans destroy nature). Manusia golongan ini berusaha mengeksploitasi alam dan lingkungan untuk menumpuk kekayaan dan modal tanpa memperdulikan dampak lingkungan yang ditimbulkannya.
Oligarki dan pengusaha tamak didukung penguasa korup termasuk golongan ini. Merekalah sesungguhnya yang telah melakukan kerusakan alam dan lingkungan di bumi ini yang semakin parah. Mereka inilah yang termasuk dalam kategori ekstrim.
Penyebab Terjadinya Bencana Alam
Mereka yang menjadi penyebab terjadinya bencana alam yang dialami manusia itu sendiri dimana-mana. Namun kebanyakan mereka tidak menyadari, bahkan mereka sungguh pandai berdalih. Bahwa yang mereka lakukan adalah dalam rangka melaksanakan pembangunan dan kemakmuran untuk kepentingan rakyat banyak.
Manusia golongan ketiga ini yang berbahaya dan berdampak pada kerusakan alam dan lingkungan yang semakin parah. Merekalah yang sebenarnya telah menimbulkan bencana alam, seperti yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan daerah lainnya. Mereka inilah yang pantas mendapat gelar ekstrimis bukan alam yang dipersalahkan.
Mereka adalah manusia tamak yang hanya berfikir mencari keuntungan materi sebesar- besarnya dan menumpuk harta karun untuk individu dan keluarga besarnya. Mereka inilah yang patut mendapat sebutan ekstrim. Namun mereka ini dengan nafsunya menuduh alam yang ekstrim. Padahal alam itu tidak bergerak dan berbuat apa-apa, berbeda dengan mereka.
Maka seharusnya ketika bencana alam terjadi manusia tidak perlu cepat- cepat mengarahkan telunjuknya kepada alam dengan menuduhnya ekstrim. Ingatlah beberapa jari selain telunjuk justru mengarah pada dirinya. Artinya manusia itu sendiri yang bertindak ekstrim. Mereka telah merusak alam dan lingkungan hidupnya sehingga dapat menimbulkan bencana alam yang menimpa orang banyak.
Sebagai manusia beragama sejatinya menyadari bahwa bencana alam yang terjadi dalam bentuk apapun adalah karena ulah dan perbuatan ektrim manusia sendiri dan bukan dilakukan oleh alam dan lingkungannya.
Sebagaimana firman Allah mengingatkan, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar- Rum:41). (MK.6.12.25). (*)





0 Tanggapan
Empty Comments