Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Alumni UMY Dorong Beasiswa untuk Anak Miskin Tanpa Membedakan Sekolah Negeri dan Swasta

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Alumni UMY Dorong Beasiswa untuk Anak Miskin Tanpa Membedakan Sekolah Negeri dan Swasta
Nasarudin, SH, MH menyampaikan sambutan dalam Rakernas dan Simposium Nasional KAUMY 2026 di Amfiteater E6, Gedung KH Ibrahim, UMY Sabtu (24/10/2026). Foto: Ihsan Darmawan
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
pwmu.co -

Bantuan pendidikan bagi anak dari keluarga kurang mampu semestinya tidak dibatasi oleh status sekolah negeri atau swasta. Penentuan penerima beasiswa perlu mengutamakan kondisi ekonomi keluarga agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi.

Gagasan tersebut disampaikan Ketua Umum Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (PP KAUMY), H. Nasarudin, S.H., M.H., dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Simposium Nasional KAUMY 2026 di Amfiteater E6, Gedung KH Ibrahim, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (24/10/2026).

Nasarudin menyambut baik rencana kebijakan Presiden Prabowo Subianto mengenai pendidikan gratis dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Namun, ia berharap perluasan akses pendidikan tersebut juga memperhatikan peserta didik dari keluarga kurang mampu yang bersekolah di lembaga pendidikan swasta.

“Kita akan sambut baik kebijakan Presiden Prabowo yang sedang dirancang mengenai pendidikan gratis SD sampai sarjana,” kata Nasarudin dalam sambutannya.

Menurutnya, kemampuan ekonomi keluarga semestinya menjadi pertimbangan utama dalam menentukan penerima bantuan pendidikan. Dengan demikian, anak dari keluarga kurang mampu tetap berpeluang memperoleh beasiswa meskipun tidak bersekolah di lembaga pendidikan negeri.

“Sekolah seluruh anak bangsa yang kurang mampu itu mendapat beasiswa di mana pun sekolahnya,” ujarnya.

Untuk memastikan bantuan tepat sasaran, Nasarudin mengusulkan penggunaan data tingkat kesejahteraan keluarga atau desil yang dikelola Kementerian Sosial sebagai salah satu acuan penentuan penerima beasiswa.

Desil merupakan pengelompokan masyarakat berdasarkan kondisi sosial ekonomi. Penggunaan data tersebut diharapkan membantu pemerintah mengidentifikasi keluarga yang membutuhkan dukungan pendidikan.

“Pendidikan gratis itu bagi seluruh anak bangsa dari SD sampai perguruan tinggi berdasarkan yang kurang mampu di Kementerian Sosial, bukan per sekolah negeri,” tegasnya.

Nasarudin menilai, pemerataan bantuan pendidikan penting agar keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang bagi anak-anak untuk melanjutkan pendidikan. Sekolah negeri maupun swasta sama-sama memiliki peserta didik dari keluarga kurang mampu yang membutuhkan dukungan.

Ia berharap gagasan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Rakernas KAUMY sekaligus sumbangan pemikiran organisasi alumni bagi pengembangan kebijakan pendidikan nasional.

Terhubung dengan Dunia Industri

Selain pemerataan akses pendidikan, Nasarudin menyoroti pentingnya memperkuat hubungan perguruan tinggi dengan dunia usaha dan industri.

Menurutnya, mahasiswa perlu mengenal kewirausahaan sejak masih menempuh pendidikan agar memiliki pilihan karier yang lebih luas setelah lulus.

Bekal kewirausahaan tidak hanya membantu lulusan mempersiapkan diri memasuki dunia kerja, tetapi juga membuka peluang bagi mereka untuk membangun usaha dan menciptakan lapangan kerja.

“Kalau tidak berkembang industri, tidak ada lapangan kerja,” katanya.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Karena itu, ia mendorong jaringan alumni UMY untuk memperluas kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Perindustrian dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin).

Kerja sama tersebut dapat diwujudkan melalui kegiatan akademik yang melibatkan praktisi industri, seperti kuliah umum, serta berbagai program pengembangan kompetensi mahasiswa dan alumni.

Menurut Nasarudin, keterhubungan antara kampus dan dunia usaha penting agar lulusan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai kebutuhan industri sekaligus peluang membangun usaha secara mandiri.

Rakernas dan Simposium Nasional KAUMY 2026 juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan alumni dengan almamater.

Nasarudin menilai, alumni UMY yang tersebar di berbagai daerah dan bidang profesi merupakan potensi besar yang dapat mendukung pengembangan universitas.

Melalui pertemuan tersebut, PP KAUMY berharap terbangun kolaborasi yang lebih luas antara alumni, perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia usaha. Kolaborasi itu diharapkan tidak berhenti pada penguatan organisasi, tetapi juga menghasilkan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Ketua Harian PP KAUMY sekaligus perwakilan panitia, Sobar M. Johari, mengatakan Rakernas menjadi kesempatan untuk menghimpun kembali potensi alumni yang selama ini tersebar di berbagai bidang.

“Untuk kita bersinergi bersama, pulang kandang, mengumpulkan balung pisah,” ujar Sobar.

Ungkapan balung pisah dalam bahasa Jawa menggambarkan anggota keluarga yang terpisah dan perlu dipertemukan kembali.

Dalam konteks KAUMY, semangat tersebut mencerminkan upaya mempererat ikatan alumni sekaligus membangun kerja sama yang lebih kuat dengan almamater.

Sobar menegaskan, alumni memiliki peran penting dalam perjalanan dan perkembangan UMY. Kiprah lulusan di berbagai bidang turut membawa nama baik universitas sekaligus membuka peluang kontribusi yang lebih luas.

“Karena UMY besar dan kecilnya salah satunya tergantung alumni,” katanya.

Selain Rakernas dan Simposium Nasional, rangkaian kegiatan juga dijadwalkan mencakup refleksi perjalanan UMY dengan menghadirkan tokoh alumni dan para ketua organisasi alumni terdahulu.

Melalui agenda tersebut, KAUMY berharap dapat memperkuat ikatan antargenerasi alumni sekaligus merumuskan kerja sama konkret untuk mendukung kemajuan universitas dan memberikan manfaat bagi masyarakat serta pembangunan nasional. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 25/10/2026 08:51
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu