Istilah “anak adalah aset” bukanlah sesuatu yang asing di tengah masyarakat. Kalimat ini kerap terlontar dalam lingkungan keluarga, dunia pendidikan, maupun forum-forum motivasi.
Maksudnya pun terdengar baik. Anak dipandang sebagai harapan masa depan keluarga, penerus generasi, sekaligus investasi yang kelak akan membawa kebahagiaan bagi orang tua.
Namun, benarkah cara pandang tersebut dari sudut etika? Ataukah, tanpa sadar, istilah itu justru menggeser posisi anak dari seorang manusia yang memiliki martabat menjadi sekadar sarana untuk memenuhi harapan orang tuanya?
Secara umum, aset merupakan sesuatu hal yang memiliki nilai dan dapat memberikan manfaat pada masa mendatang.
Dalam dunia ekonomi, aset dapat berupa uang, tanah, bangunan, maupun bentuk kekayaan lainnya. Aset dipelihara karena diharapkan menghasilkan keuntungan pada waktu tertentu.
Cara berpikir ini sangat wajar apabila diterapkan pada benda. Persoalannya muncul ketika konsep yang sama diterapkan kepada manusia.
Anak bukanlah benda yang dapat dimiliki sebagaimana harta kekayaan. Ia adalah manusia yang memiliki kehendak, cita-cita, hak, dan martabat yang melekat sejak lahir.
Oleh karena itu, memandang anak semata-mata sebagai aset berpotensi menimbulkan persoalan etis yang tidak sederhana.
Dalam kehidupan sehari-hari, cara pandang tersebut terkadang muncul dalam bentuk yang halus. Tidak sedikit orang tua yang menentukan seluruh jalan hidup anaknya dengan alasan “demi masa depan”.
Ketika Harapan Berubah Menjadi Tuntutan
Mengarahkan anak untuk memilih jurusan tertentu, pekerjaan tertentu, bahkan pasangan hidup tertentu dengan anggapan paling menguntungkan bagi keluarga.
Ada pula orang tua yang menjadikan keberhasilan anak sebagai tolok ukur keberhasilan diri di hadapan masyarakat.
Prestasi anak berubah menjadi kebanggaan yang harus dipertontonkan, sedangkan kegagalannya dipandang sebagai aib yang harus disembunyikan.
Pada titik tertentu, anak dapat kehilangan ruang untuk mengenali dirinya sendiri. Ia tumbuh bukan berdasarkan potensi dan panggilannya, melainkan berdasarkan ekspektasi orang lain.
Hubungan antara orang tua dan anak yang semestinya dibangun atas dasar kasih sayang perlahan bergeser menjadi hubungan yang dipenuhi tuntutan.
Padahal, etika mengajarkan bahwa manusia tidak boleh diperlakukan semata-mata sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu.
Nilai seorang manusia tidak ditentukan oleh manfaat yang dapat ia berikan kepada orang lain. Setiap manusia memiliki nilai pada dirinya sendiri, terlepas dari apakah ia berhasil atau gagal, kaya atau miskin, sehat ataupun memiliki keterbatasan.
Dalam perspektif Islam, anak juga tidak pernah diposisikan sebagai alat pemuas ambisi orang tua. Rasulullah saw. bersabda:
Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari)
Hadis tersebut menegaskan bahwa hubungan orang tua dengan anak adalah hubungan amanah, bukan kepemilikan mutlak.
Amanah merupakan titipan yang harus dijaga, dididik, dan diarahkan menuju kebaikan.
Karena itu, tugas utama orang tua bukan membentuk anak sesuai ambisi pribadinya, melainkan mendampingi mereka agar bertumbuh menjadi pribadi yang beriman, berakhlak mulia, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sesuai potensi yang Allah anugerahkan.
Bukan berarti orang tua tidak boleh berharap kepada anak. Harapan merupakan sesuatu yang wajar. Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya hidup bahagia, memperoleh pendidikan yang baik, serta menjadi pribadi yang saleh dan bertanggung jawab.
Akan tetapi, harapan berbeda dengan menjadikan anak sebagai instrumen untuk memenuhi ambisi pribadi.
Perbedaan itu tampak ketika harapan tidak terwujud. Apabila anak dipandang sebagai amanah, orang tua akan tetap mencintai dan membimbingnya meskipun jalan hidupnya tidak sepenuhnya sesuai dengan keinginan mereka.
Sebaliknya, apabila anak dipandang semata sebagai aset, nilai dirinya akan diukur dari seberapa besar keuntungan, kebanggaan, atau balas jasa yang mampu diberikan kepada keluarga.
Fenomena ini semakin relevan di tengah kehidupan modern. Tekanan sosial melalui media sosial sering kali mendorong orang tua membandingkan anaknya dengan anak orang lain.
Prestasi akademik, pekerjaan bergengsi, hingga besarnya penghasilan dijadikan ukuran utama keberhasilan mendidik anak.
Akibatnya, tidak sedikit anak yang tumbuh dalam tekanan untuk memenuhi standar yang sebenarnya bukan berasal dari dirinya sendiri.
Sudah saatnya masyarakat meninjau kembali cara pandang tersebut. Anak memang merupakan anugerah yang sangat berharga, tetapi bukan aset dalam pengertian ekonomi ataupun investasi yang harus menghasilkan keuntungan.
Mereka adalah manusia yang memiliki martabat, hak, dan kebebasan untuk berkembang sesuai potensi yang telah Allah anugerahkan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan orang tua bukanlah seberapa tinggi jabatan anak, seberapa besar penghasilannya, ataupun seberapa sering namanya dipuji masyarakat.
Keberhasilan sejati terletak pada kemampuan mendampingi anak bertumbuh menjadi manusia yang beriman, berakhlak mulia, bertanggung jawab, serta mampu memberikan manfaat bagi sesama.
Ketika orang tua memandang anak sebagai amanah, bukan sekadar aset, hubungan yang terbangun tidak lagi berlandaskan tuntutan, melainkan cinta, penghormatan, dan tanggung jawab.
Di situlah etika menemukan maknanya yang paling mendasar, yakni memanusiakan manusia.***





0 Tanggapan
Empty Comments