Pembelajaran Bahasa Jawa di MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi, Lamongan dikemas dengan cara yang berbeda. Alih-alih hanya belajar di dalam kelas, para siswa diajak mengamati berbagai jenis tanaman di lingkungan sekitar, lalu menyusun laporan hasil observasi menggunakan bahasa Jawa.
Metode ini tidak hanya meningkatkan kemampuan menulis, tetapi juga memperkuat literasi, berpikir kritis, serta kecintaan terhadap bahasa dan budaya daerah.
Suasana belajar yang aktif dan menyenangkan mewarnai mata pelajaran Bahasa Jawa di MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi pada Ahad (26/7/2026).
Melalui pembelajaran berbasis observasi, siswa memperoleh pengalaman belajar secara langsung dengan meneliti berbagai tanaman yang ada di lingkungan masyarakat.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari materi menulis laporan hasil observasi menggunakan bahasa Jawa. Dengan turun langsung ke lapangan, siswa tidak sekadar memahami teori, tetapi juga belajar mengamati objek secara sistematis sebelum menuangkannya ke dalam tulisan.
Dalam pelaksanaannya, peserta didik dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama yang terdiri atas Ara, Puja, dan Calista mengamati pohon pepaya. Kelompok kedua beranggotakan Venia, Azhi, Fahri, dan Nikul melakukan observasi terhadap tanaman bambu. Sementara kelompok ketiga yang terdiri atas Lian, Rian, Delisha, dan Anis meneliti tanaman sente atau kuping gajah.
Setiap kelompok mengidentifikasi berbagai aspek tanaman, mulai dari ciri fisik, bagian-bagian tumbuhan, habitat, hingga manfaatnya bagi kehidupan sehari-hari. Hasil pengamatan kemudian didiskusikan bersama sebelum disusun menjadi laporan hasil observasi menggunakan bahasa Jawa sesuai struktur dan kaidah penulisan yang benar.
Guru Mata Pelajaran Bahasa Jawa, Helmi Rohmanto, M.Pd, menjelaskan bahwa metode observasi dipilih agar peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih nyata.
“Melalui kegiatan observasi ini, siswa belajar mengembangkan kemampuan mengamati, menganalisis, dan menyusun laporan menggunakan bahasa Jawa. Kami berharap mereka tidak hanya terampil menulis, tetapi juga semakin mencintai bahasa daerah sebagai warisan budaya yang harus terus dilestarikan,” ujarnya.
Menurut Helmi, kemampuan menulis tidak cukup diasah melalui teori di dalam kelas. Siswa perlu berinteraksi langsung dengan objek yang dipelajari agar mampu menghasilkan laporan yang runtut, objektif, dan mudah dipahami.
Metode pembelajaran kontekstual seperti ini juga mendapat respons positif dari para siswa. Salah satu peserta didik, Ara, mengaku lebih mudah memahami materi ketika dapat melihat objek secara langsung.
“Kami merasa lebih mudah memahami materi karena bisa melihat langsung objek yang diamati. Selain belajar tentang tanaman, kami juga belajar menyusun laporan dengan bahasa Jawa yang benar. Pembelajaran seperti ini lebih menyenangkan dan membuat kami lebih aktif berdiskusi,” tuturnya.
Sementara itu, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum, Us’dah, S.Pd.I., menilai pembelajaran berbasis observasi memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna dibandingkan pembelajaran yang hanya berlangsung di dalam kelas.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya mengembangkan keterampilan menulis laporan hasil observasi, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, serta kepedulian terhadap lingkungan.
“Pembelajaran yang melibatkan pengalaman langsung akan lebih mudah dipahami oleh peserta didik. Selain meningkatkan kemampuan menulis laporan observasi, kegiatan ini juga melatih keterampilan berpikir kritis, bekerja sama dalam kelompok, berkomunikasi, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Penggunaan bahasa Jawa dalam laporan menjadi salah satu bentuk pelestarian bahasa dan budaya daerah di kalangan generasi muda,” jelasnya.
Melalui inovasi pembelajaran tersebut, MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi terus berupaya menghadirkan proses belajar yang berpusat pada peserta didik. Pembelajaran kontekstual menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan kemampuan literasi sekaligus membangun karakter siswa.
Selain menghasilkan laporan hasil observasi yang baik, para siswa juga diharapkan semakin bangga menggunakan bahasa Jawa sebagai bagian dari identitas budaya bangsa.
Dengan demikian, pembelajaran Bahasa Jawa tidak hanya menjadi sarana mengasah kemampuan menulis, tetapi juga media menanamkan kecintaan terhadap lingkungan, budaya, dan warisan lokal sejak dini.





0 Tanggapan
Empty Comments