Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Belajar 25 Menit, Istirahat 5 Menit: Strategi Dosen UMM untuk Mahasiswa Baru

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Belajar 25 Menit, Istirahat 5 Menit: Strategi Dosen UMM untuk Mahasiswa Baru
Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, S.Pd., M.Pd.,
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
pwmu.co -

Mahasiswa baru perlu beradaptasi dengan budaya belajar di perguruan tinggi yang menuntut kemandirian dan kemampuan mengatur waktu. Kebiasaan belajar dengan sistem kebut semalam (SKS) perlu ditinggalkan agar proses perkuliahan berjalan lebih produktif dan bermakna.

Pesan tersebut disampaikan Kepala Bagian Pendidikan dan Pengajaran Umum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, S.Pd., M.Pd., dalam kajian Kamisya di Masjid AR Fachruddin UMM, Kamis (22/10/2026). Di hadapan ribuan mahasiswa baru Gen 26 UMM, dosen yang akrab disapa Woro itu membagikan sejumlah strategi untuk membantu mahasiswa beradaptasi dengan kehidupan akademik di kampus.

Woro menjelaskan, pola belajar di bangku SMA tidak bisa sepenuhnya diterapkan ketika memasuki perguruan tinggi. Mahasiswa dituntut mampu mengelola proses belajarnya sendiri, mulai dari menyelesaikan tugas hingga menentukan proyek yang ingin dikerjakan.

“Di kampus, kitalah yang memandu diri sendiri. Kapan tugas harus selesai, kapan dikumpulkan, sampai proyek apa yang mau dikerjakan, semuanya ada di tangan mahasiswa,” jelasnya.

Menurut Woro, banyaknya tugas teori pada semester awal merupakan bagian dari proses membangun fondasi keilmuan. Seiring berjalannya perkuliahan, mahasiswa akan menghadapi lebih banyak kegiatan praktik, seperti mengerjakan proyek, memecahkan studi kasus, hingga melakukan riset.

Karena itu, tugas kuliah tidak semestinya hanya dipandang sebagai sarana mengejar nilai atau indeks prestasi kumulatif (IPK). Tugas juga menjadi bagian dari proses untuk mengukur dan mengembangkan sikap, pengetahuan, serta keterampilan mahasiswa.

Woro juga menyoroti pentingnya kerja sama dalam menyelesaikan tugas kelompok. Melalui aktivitas tersebut, mahasiswa belajar bertanggung jawab sekaligus menghadapi perbedaan cara kerja dan kemampuan setiap anggota tim.

Berdasarkan risetnya, Woro membagi mahasiswa dalam tiga tipe ketika menghadapi tantangan akademik, yakni Quitters, Campers, dan Climbers.

Tipe Quitters menggambarkan mahasiswa yang mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Mereka cenderung hanya ingin namanya tercantum dalam tugas kelompok tanpa berkontribusi secara optimal.

Sementara itu, tipe Campers merujuk pada mahasiswa yang memiliki potensi, tetapi mudah merasa puas dan cenderung menyerahkan sebagian pekerjaan kepada orang lain.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Adapun tipe Climbers menggambarkan mahasiswa yang pantang menyerah dan terus berusaha menyelesaikan persoalan meskipun menghadapi berbagai hambatan.

Woro mendorong mahasiswa untuk membangun sikap seperti Climbers, yaitu tidak cepat menyerah, berani menghadapi tantangan, dan bertanggung jawab terhadap proses belajar.

Untuk menghindari kebiasaan SKS, mahasiswa disarankan membangun kebiasaan mengatur waktu secara terencana. Salah satu caranya adalah memilah kegiatan berdasarkan tingkat kepentingan dan urgensinya.

Mahasiswa perlu membedakan aktivitas yang penting sekaligus mendesak, penting tetapi tidak mendesak, tidak penting tetapi mendesak, serta tidak penting dan tidak mendesak. Kegiatan seperti bermain ponsel terlalu lama atau nongkrong tanpa tujuan perlu dikendalikan agar tidak mengganggu waktu belajar.

Strategi tersebut dapat dipadukan dengan teknik Pomodoro, yakni belajar dengan fokus selama 25 menit, kemudian beristirahat selama lima menit sebelum melanjutkan sesi berikutnya.

Namun, Woro menekankan bahwa pengaturan rutinitas harian juga perlu memperhatikan nilai-nilai spiritual. Ia mengajak mahasiswa menjadikan jadwal salat lima waktu sebagai salah satu patokan dalam menyusun aktivitas sehari-hari.

“Produktif bukan cuma soal sibuk mengejar IPK, tapi bagaimana proses belajar kita bisa bermanfaat bagi sesama dan bernilai ibadah. Jangan menunggu waktu luang untuk belajar, tapi luangkanlah waktu untuk belajar agar jadi mahasiswa yang pintar dan kuat spiritualnya,” tutupnya.

Melalui kebiasaan belajar yang terencana, tanggung jawab akademik, dan penguatan spiritual, mahasiswa diharapkan mampu menjalani perkuliahan secara lebih produktif serta memperoleh manfaat yang lebih luas daripada sekadar capaian nilai.

Revisi Oleh:
  • Satria - 23/10/2026 19:59
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu