SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) menggelar Farewell Party untuk Guest Teacher asal New York City, Amerika Serikat, Brianna Baffour Adu-Kyei di Hall Lantai 2 pada Selasa (12/5/2026). Setelah acara berlangsung, penulis berkesempatan melakukan wawancara eksklusif bersama Brianna mengenai pengalaman hidupnya selama berada di Indonesia, khususnya di Sidoarjo.
Dalam wawancara tersebut, Brianna mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang ia hadapi bukan berasal dari hubungan sosial atau lingkungan sekolah, melainkan kondisi kesehatan selama proses adaptasi di Indonesia.
Menurutnya, sebagai seseorang yang berasal dari luar negeri, dirinya harus menyesuaikan diri dengan makanan serta cuaca yang sangat berbeda dibandingkan dengan tempat asalnya di Amerika Serikat. Hal itu membuatnya cukup sering sakit, terutama pada semester pertama.
“Saya harus beradaptasi dengan makanan dan cuaca yang berbeda. Pada semester pertama saya cukup sering sakit,” ungkapnya.
Ia mengaku kondisi tersebut terkadang membuatnya frustrasi karena saat mulai merasa nyaman dan menemukan ritme aktivitas yang sesuai, dirinya kembali jatuh sakit, baik karena flu maupun gangguan pencernaan.
“Kadang ketika saya sudah mulai nyaman dengan rutinitas, tiba-tiba saya terkena flu atau sakit perut. Itu menjadi tantangan yang cukup berulang,” tuturnya.
Meski demikian, Brianna merasa pengalaman tersebut justru mengajarkannya tentang pentingnya beradaptasi dengan keadaan. Ia menilai lingkungan sekolah maupun masyarakat Indonesia memiliki sikap yang fleksibel dalam menghadapi berbagai situasi.
“Saya belajar banyak dari sekolah ini dan juga dari pengalaman selama di Indonesia tentang bagaimana menyesuaikan diri dengan keadaan yang datang,” katanya.
Selain berbagi pengalaman mengenai tantangan hidup di Indonesia, Brianna juga menyampaikan pandangannya terhadap Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi Islam. Ia mengaku sebelumnya tidak terlalu mengenal Islam secara mendalam karena dibesarkan dalam keluarga Kristen dan menempuh pendidikan di sekolah Katolik.
Meski di lingkungan tempat tinggalnya terdapat komunitas Muslim asal Afrika Barat, ia hanya mengetahui Islam dari cerita dan pengalaman orang lain.
Namun selama berada di Smamita, Brianna merasa mendapatkan pengalaman langsung untuk lebih memahami kehidupan umat Islam. Ia belajar tentang kebiasaan sehari-hari para siswa, ucapan-ucapan dalam Islam, hingga ikut merasakan suasana Ramadan.
“Secara tidak langsung saya ikut merasakan Ramadan karena kantin sekolah tutup. Dari situ saya mulai belajar banyak tentang budaya dan kebiasaan Islam,” ujarnya sambil tersenyum.
Brianna juga mengaku sangat menikmati lantunan ayat suci Al-Qur’an yang sering ia dengar selama berada di sekolah. Menurutnya, pengalaman tersebut memberinya pemahaman dan penghargaan yang lebih baik terhadap Islam dan para pemeluknya.
“Saya merasa memiliki apresiasi yang lebih besar terhadap Islam dan para penganutnya,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut, lanjut Brianna, membuat dirinya kini merasa lebih mudah memahami dan berinteraksi dengan komunitas Muslim yang sebelumnya belum begitu ia pahami.
Farewell Party tersebut menjadi momen perpisahan penuh haru sekaligus bentuk apresiasi Smamita atas dedikasi Brianna selama mendampingi siswa dalam proses pembelajaran dan pertukaran budaya internasional. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments