Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buku Guru Bukan Beban Negara Dilaunching: Sebuah Pesan Kuat dari Babat untuk Indonesia

Iklan Landscape Smamda
Buku Guru Bukan Beban Negara Dilaunching: Sebuah Pesan Kuat dari Babat untuk Indonesia
Launching buku Guru Bukan Beban Negara. (Alfain Jalaluddin Ramadlan/PWMU.CO)
pwmu.co -

Sabtu pagi (9/5/2026), halaman SMA Muhammadiyah 1 Babat tidak hanya dipenuhi suasana haru pelepasan siswa angkatan ke-52. Di tengah ratusan pasang mata yang menyaksikan momen kelulusan, lahir pula sebuah gagasan besar yang diabadikan dalam bentuk buku.

Wakil Ketua PDM Lamongan, Fathurrahim Syuhadi, resmi meluncurkan buku berjudul “Guru Bukan Beban Negara”. Peluncuran ini menjadi bagian istimewa dalam rangkaian acara purna siswa, seolah menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya tentang kelulusan, tetapi juga tentang arah masa depan bangsa.

Prosesi launching berlangsung khidmat. Dr. Mariman Darto, S.E., M.Si, Staf Ahli Manajemen Talenta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, secara simbolis melaunching buku tersebut, disaksikan para tokoh Muhammadiyah Babat, jajaran Forkopimcam, serta ratusan siswa dan wali murid.

Satu per satu tokoh dipanggil ke depan: KH Muntholib Sukandar, Arif Rahman Saidi, Suwadji, Agus Al Chusairi, Mat Muin, hingga unsur Camat, Danramil, dan Kapolsek. Mereka berdiri bersama, bukan sekadar meresmikan sebuah buku, tetapi menguatkan pesan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama.

Buku “Guru Bukan Beban Negara” hadir di tengah perdebatan yang tak pernah benar-benar usai: apakah guru hanya menjadi beban anggaran negara?

Melalui 50 tulisan reflektif, Anggota Dewan Pendidikan Lamongan ini justru membalik cara pandang itu. Baginya, guru bukan beban, melainkan investasi strategis.

“Guru adalah penggerak utama transformasi pendidikan. Mereka bukan sekadar pengajar, tetapi juga pembentuk karakter generasi masa depan,” tulisnya.

Diterbitkan oleh UMLA Press pada Mei 2026, buku ini merangkum berbagai sudut pandang—keagamaan, kebangsaan, hingga tantangan era digital. Setiap halaman seperti mengajak pembaca berhenti sejenak, lalu merenung: sudahkah kita benar-benar memuliakan guru?

Di era digital, ketika informasi bisa diakses dalam hitungan detik, peran guru justru semakin kompleks. Buku ini menggarisbawahi satu hal penting: teknologi tidak pernah bisa menggantikan sentuhan manusia.

Guru bukan hanya penyampai ilmu, tetapi juga inspirator, teladan, dan penjaga nilai. Mereka hadir bukan sekadar di ruang kelas, melainkan di ruang kehidupan—membentuk cara berpikir, sikap, dan masa depan peserta didik.

Tanpa guru yang berkualitas dan sejahtera, cita-cita besar bangsa hanya akan menjadi wacana.

Lebih dalam lagi, buku ini mengangkat perspektif peradaban. Dalam pandangan Fathurrahim, tidak ada bangsa besar tanpa guru yang dimuliakan.

SMPM 5 Pucang SBY

Guru adalah warasatul anbiya—pewaris para nabi—yang tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga menanamkan akhlak. Dari tangan merekalah lahir generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga berkarakter.

Pesan ini terasa semakin kuat ketika diluncurkan di tengah acara kelulusan. Para siswa yang hari itu resmi menyandang status alumni, seakan diingatkan: di balik capaian mereka, ada peran guru yang tak ternilai.

Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan, tetapi sebuah ajakan. Ajakan kepada pemerintah untuk melihat guru sebagai investasi jangka panjang. Ajakan kepada masyarakat untuk memberi penghargaan yang layak. Dan ajakan kepada para guru sendiri untuk terus menjaga integritas serta berinovasi.

Sasarannya luas—guru, praktisi pendidikan, mahasiswa, hingga pembuat kebijakan. Namun pesannya sederhana: kualitas bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidiknya.

Di akhir pengantarnya, Fathurrahim menuliskan harapan yang sederhana namun dalam: semoga buku ini menjadi pemantik kesadaran bersama.

Bahwa ketika negara memandang guru sebagai investasi sumber daya manusia, pendidikan akan menjadi kekuatan utama kemajuan bangsa.

Di halaman SMA Muhammadiyah 1 Babat pagi itu, pesan tersebut tidak hanya dibacakan, tetapi dihidupkan.

Karena sejatinya, guru bukan beban negara.

Guru adalah pilar peradaban. (*)

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu