Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Cuaca Panas Bikin Gampang Marah, Dosen Psikologi UMM Jelaskan Penyebabnya

Iklan Landscape Smamda
Cuaca Panas Bikin Gampang Marah, Dosen Psikologi UMM Jelaskan Penyebabnya
ilustrasi seorang pria sedang kepanasan terkena terik matahari. Dok: UMM
pwmu.co -

Cuaca panas tidak hanya membuat tubuh terasa gerah dan cepat lelah, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang. Rasa tidak nyaman akibat suhu lingkungan membuat tubuh bekerja lebih keras untuk beradaptasi dan dapat meningkatkan stres.

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Alifah Nabilah Masturah, S.Psi., M.A., menjelaskan kondisi tersebut berkaitan dengan beban stimulus yang diterima tubuh ketika menghadapi lingkungan yang tidak nyaman.

Cuaca Panas Bikin Gampang Marah, Dosen Psikologi UMM Jelaskan Penyebabnya
Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Alifah Nabilah Masturah, S.Psi., M.A.,

“Kalau stimulus yang kita terima, kondisi yang kita terima itu melebihi kapasitas dari normalnya tubuh kita, itu akan berdampak pada meningkatnya hormon kortisol. Hormon kortisol itu salah satu pemicu stres,” jelasnya kepada Humas UMM pada 6 Oktober 2026.

Menurut Alifah, peningkatan stres akibat kondisi lingkungan dapat memengaruhi respons emosional seseorang. Suhu panas membuat tubuh bekerja lebih keras untuk beradaptasi sehingga rasa lelah dan tidak nyaman ikut meningkat.

Kondisi tersebut juga dapat membuat proses berpikir tidak berjalan secara optimal. Akibatnya, seseorang bisa menjadi lebih sensitif ketika menangkap perkataan maupun tindakan orang lain.

Hal-hal yang sebenarnya bersifat netral pun dapat lebih mudah dimaknai sebagai sesuatu yang mengganggu atau bernada negatif.

“Hal-hal yang netral mungkin kita anggapnya suara keras, ‘kok nyolot’, atau bercanda tapi kok kayaknya kasar,” ungkapnya.

Selain suhu lingkungan, kondisi tubuh juga berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam mengelola emosi. Dehidrasi dan kurang tidur dapat memperburuk kondisi fisik sekaligus memengaruhi keadaan psikologis.

Karena itu, menjaga kondisi tubuh menjadi salah satu hal yang penting ketika menghadapi cuaca panas. Salah satunya dengan memperhatikan kualitas tidur.

Alifah menegaskan, tidur yang baik tidak hanya berkaitan dengan lamanya seseorang tidur, tetapi juga kualitas istirahat yang diperoleh tubuh dan otak.

SMPM 5 Pucang SBY

“Tidur itu bukan perkara lamanya, tapi kualitasnya,” tuturnya.

Tidur yang sering terbangun atau tidak nyenyak belum tentu memberikan pemulihan secara optimal. Sebaliknya, tidur berkualitas membantu tubuh dan pikiran mendapatkan waktu untuk beristirahat sehingga seseorang lebih siap menjalani aktivitas.

Ketika mulai merasa mudah tersulut emosi akibat cuaca panas, Alifah menyarankan untuk mengurangi stimulus yang membuat tubuh semakin tidak nyaman. Berteduh, minum, atau mencuci muka dapat menjadi langkah sederhana yang dilakukan.

“Kalau karena cuaca panas, berarti kita harus berteduh. Minum juga bisa jadi salah satu cara. Kalau memungkinkan, malah cuci muka itu nggak masalah sebenarnya,” ungkapnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk mengenali emosi dan strategi pribadi dalam menghadapi stres. Menurutnya, setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengelola tekanan sehingga penting untuk memahami kondisi diri sendiri.

“Yang pertama itu simple, kita kenal emosi kita. Kita tahu hal-hal apa yang bisa membuat kita senang sama membuat kita bete,” ujarnya.

Dengan mengenali kondisi tubuh, menjaga kualitas tidur, memenuhi kebutuhan cairan, serta mengurangi paparan panas ketika mulai merasa tidak nyaman, seseorang dapat lebih siap mengendalikan respons emosional di tengah kondisi cuaca panas. (*)

Revisi Oleh:
  • Satria - 08/10/2026 16:11
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu