Pagi Idul Adha di Paris terasa istimewa bagi masyarakat Indonesia yang berkumpul di Wisma Indonesia, Rabu (27/5/2026). Di antara saf jamaah yang khusyuk menunaikan shalat Id, tampak Presiden Prabowo Subianto berdiri di barisan terdepan bersama Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Namun perhatian jamaah pagi itu juga tertuju kepada sosok di mimbar: Fakhruddin Arrozi—putra Lamongan, mahasiswa PhD Universiti Muhammadiyah Malaysia—yang dipercaya menjadi imam sekaligus khatib Idul Adha di hadapan Presiden Republik Indonesia.
Sebuah momen yang bukan hanya membanggakan dirinya pribadi, tetapi juga mengharukan bagi banyak warga Lamongan dan keluarga besar Muhammadiyah.
Fakhruddin bukan sosok asing di dunia akademik. Ia merupakan alumni S2 International Islamic University Islamabad, Pakistan, dan kini mengabdikan diri sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Lamongan. Dari ruang kelas hingga mimbar internasional, jejak pengabdiannya terus bertumbuh.
Dalam khutbahnya, Fakhruddin mengajak jamaah memaknai Idul Adha bukan sekadar ritual penyembelihan hewan kurban, tetapi juga momentum penyembelihan ego dan peneguhan ketaatan.
“Kita tidak diperintahkan menyembelih anak-anak kita sebagaimana Nabi Ibrahim AS, akan tetapi kita diperintahkan menyembelih ego kita demi menaati perintah Allah SWT,” ujar putra dari ketua PCM Lamongan ini
Kalimat itu menggema di ruang shalat dan menyentuh hati para jamaah diaspora Indonesia di negeri minoritas Muslim.
Dengan mengambil teladan Nabi Ibrahim AS, Fakhruddin menuturkan bahwa kurban adalah pelajaran tentang keberanian menjaga tauhid, keikhlasan berkorban, dan totalitas berserah diri kepada Allah.
Ia menghubungkan kisah itu dengan realitas muslim Indonesia yang hidup di Eropa, berjuang menjaga shalat di tengah kesibukan, menjaga makanan halal di lingkungan yang berbeda, mendidik anak-anak dengan nilai Islam, serta merawat persatuan sesama diaspora.
Khutbahnya terasa dekat dan membumi. Tidak hanya berbicara tentang langit spiritualitas, tetapi juga tentang tantangan sehari-hari umat Islam yang hidup jauh dari tanah air.
Ia mengingatkan bahwa ujian muslim masa kini bukan lagi kobaran api seperti yang dihadapi Nabi Ibrahim, melainkan kesibukan, tekanan lingkungan, serta godaan perlahan meninggalkan identitas keislaman.
“Jadilah seperti Ibrahim AS—hadir di tengah masyarakat, bergaul dengan baik, namun tidak larut dan tidak kehilangan jati diri,” pesannya.
Tak hanya itu, Fakhruddin juga mengajak jamaah untuk terus menumbuhkan cinta kepada Indonesia. Baginya, menjadi muslim di luar negeri tidak berarti memutus hubungan batin dengan tanah air. Justru dari kejauhan, doa-doa untuk Indonesia harus terus dipanjatkan.
Selesai shalat Id, Presiden Prabowo bersama putranya, Didiet Hediprasetyo, menyalami para jamaah satu per satu. Suasana terasa hangat dan akrab. Presiden juga tampak berbincang singkat dengan beberapa jamaah.
Kehadiran Prabowo di Paris sendiri merupakan bagian dari kunjungan kerja dalam rangka memperkuat kemitraan strategis Indonesia–Perancis yang terus berkembang.
Prabowo telah tiba di Paris pada Selasa (26/5/2026) kemarin, sekitar pukul 10.00 pagi waktu setempat. Kunjungan kali ini merupakan kunjungan keempat Prabowo ke Perancis.
Sebelumnya, Prabowo telah melakukan beberapa pertemuan sebelumnya pada 14 Juli 2025, 23 Januari 2026, dan 14 April 2026.
Di tengah agenda kenegaraan itu, pelaksanaan shalat Idul Adha di Wisma Indonesia menjadi ruang spiritual yang mempertemukan pemimpin negara, diaspora Indonesia, dan seorang putra Lamongan yang menyampaikan pesan kurban dengan penuh makna. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments