Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Di Balik Angka Mengesankan East Asia Pacific

Iklan Landscape Smamda
Di Balik Angka Mengesankan East Asia Pacific
Di Balik Angka Mengesankan East Asia Pacific
Oleh : Dr. Anwar Hariyono Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik

Kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) kerap dipandang sebagai mesin pertumbuhan ekonomi dunia. Di atas kertas, kekuatannya terlihat impresif. China mendominasi ekosistem startup kecerdasan buatan (AI) dan memimpin ekspor kendaraan listrik (EV). Di Asia Tenggara, Vietnam dan Filipina mencatat lonjakan ekspor elektronik berbasis AI.

Malaysia mempercepat pembangunan pusat data hingga kapasitas 700 megawatt, sementara Indonesia mempertahankan pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen berkat cadangan nikel yang melimpah.

Namun, analisis SWOT terbaru dari Bank Dunia mengungkap sisi lain yang jauh lebih kompleks. Di balik angka-angka mengesankan, kawasan ini menyimpan kerapuhan struktural yang berpotensi membalik arah pertumbuhan.

Kelemahan mendasar masih menjadi hambatan utama. Alih-alih melonjak ke inovasi tingkat tinggi, kualitas sumber daya manusia di banyak negara EAP masih tertinggal.

Indonesia dan Malaysia masih menghadapi persoalan literasi dasar dan kesenjangan keterampilan digital. Vietnam, meski agresif dalam ekspor, sangat bergantung pada investasi asing (FDI) dan terkendala kualitas pendidikan tinggi.

Sementara itu, negara seperti China dan Thailand menghadapi tekanan ganda: populasi menua dan krisis utang. China masih bergulat dengan masalah sektor properti dan produktivitas BUMN, sedangkan Thailand terjebak dalam tingginya utang rumah tangga.

Kerapuhan internal ini diperparah oleh ancaman eksternal. Ketidakpastian perdagangan global dan tarif dari Amerika Serikat menjadi bayang-bayang serius bagi kawasan ini.

China menghadapi risiko retaliasi akibat subsidi industri yang dianggap mendistorsi pasar. Di sisi lain, negara seperti Filipina dan Thailand sangat rentan terhadap fluktuasi harga energi global karena ketergantungan pada impor minyak.

Lonjakan harga energi dapat memicu inflasi tinggi yang secara langsung menekan daya beli masyarakat.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Di tengah tekanan, peluang tetap terbuka—tetapi hanya bagi negara yang berani bertransformasi.

Indonesia memiliki momentum besar melalui hilirisasi mineral untuk industri baterai kendaraan listrik. Namun, hal ini menuntut reformasi kebijakan, termasuk penghapusan hambatan non-tarif dan penguatan pasar modal.

Vietnam dan Filipina berpeluang naik kelas dalam rantai nilai global melalui industri semikonduktor. Vietnam bahkan menargetkan 50.000 insinyur semikonduktor pada 2030.

Malaysia memiliki peluang besar dalam pengembangan zona ekonomi khusus dan pusat data, dengan catatan harus mendorong transfer teknologi, bukan sekadar investasi.

Model pertumbuhan berbasis tenaga kerja murah dan akumulasi modal kini tidak lagi relevan di era digital.

Kawasan Asia Timur dan Pasifik harus segera menata ulang strategi:

  • memperkuat pendidikan tinggi,
  • mempercepat adopsi teknologi,
  • dan membongkar kebijakan yang menghambat inovasi.

Masa depan ekonomi kawasan ini tidak lagi ditentukan oleh seberapa besar pertumbuhan saat ini, tetapi oleh seberapa cepat mereka memperbaiki kelemahan struktural sebelum tekanan global datang lebih keras.

Revisi Oleh:
  • Satria - 21/04/2026 09:59
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡