Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dua Pilar Pencerahan: Integrasi Pemikiran KH Ahmad Dahlan dan Ki Hadjar Dewantara dalam Pendidikan Bangsa

Iklan Landscape Smamda
Dua Pilar Pencerahan: Integrasi Pemikiran KH Ahmad Dahlan dan Ki Hadjar Dewantara dalam Pendidikan Bangsa
Pendidikan. (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Lailatus Syifa' Sekretaris Majelis Pembinaan Kader PDA Kabupaten Sidoarjo, Guru SD Muhammadiyah 1 Pucanganom Sidoarjo

Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Momentum ini bukan sekadar perayaan, tetapi menjadi ruang refleksi untuk meneladani dua tokoh besar yang telah meletakkan dasar pencerahan pendidikan di Indonesia: KH Ahmad Dahlan dan Ki Hadjar Dewantara.

Meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, keduanya memiliki misi yang sama—membebaskan masyarakat dari keterbelakangan dan kebodohan melalui pendidikan.

KH Ahmad Dahlan: Pionir Pendidikan Islam Berkemajuan

Gerakan Tajdid: Pemurnian dan Pembaruan

KH Ahmad Dahlan dikenal sebagai pelopor gerakan Islam berkemajuan (Tajdid). Ia menekankan purifikasi ajaran Islam dari tahayul, bid’ah, dan khurafat (TBC), mengembalikan umat pada Al-Qur’an dan Sunnah sebagai fondasi utama.

Salah satu kontribusi terbesarnya adalah mendobrak sistem pendidikan tradisional menjadi model pendidikan klasikal modern dengan mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum. Konsep pendidikan Muhammadiyah yang integralistik ini sejalan dengan firman Allah SWT:

“Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Ayat tersebut menegaskan bahwa iman tanpa ilmu akan redup, sementara ilmu tanpa iman akan tersesat. Bagi KH Ahmad Dahlan, seorang Muslim yang kaffah harus menguasai ilmu modern tanpa kehilangan jati diri tauhidnya.

Spirit Al-Ma’un: Pendidikan yang Membebaskan

KH Ahmad Dahlan menekankan bahwa ilmu tidak boleh berhenti pada teori. Surah Al-Ma’un dijadikannya sebagai landasan filosofis untuk menggerakkan amal nyata: menolong yang lemah, memberi ruang akses pendidikan bagi anak yatim dan kelompok miskin, serta menciptakan kemandirian.

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS Az-Zumar: 9:

“Katakanlah: Adakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”

Melalui sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan, KH Ahmad Dahlan membuktikan bahwa pendidikan harus menghasilkan pemberdayaan sosial.

Ki Hadjar Dewantara: Bapak Pendidikan Nasional

Sebagai tokoh yang hari lahirnya diperingati pada Hardiknas, Ki Hadjar Dewantara memperkenalkan konsep Taman Siswa—pendidikan yang memerdekakan lahir dan batin. Menurutnya, pendidikan harus memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman, sehingga peserta didik mampu berdiri di atas kaki sendiri tanpa bergantung pada orang lain.

Ia juga merumuskan trilogi pendidikan yang sangat terkenal:

  • Ing Ngarsa Sung Tuladha — di depan memberi teladan
  • Ing Madya Mangun Karsa — di tengah membangun semangat
  • Tut Wuri Handayani — di belakang memberi dorongan

Prinsip ini bukan hanya filosofi pendidikan, tetapi juga etika kepemimpinan bangsa.

SMPM 5 Pucang SBY

Kolaborasi Gagasan: Model Pendidikan Ideal Indonesia

Dari pemikiran dua tokoh besar ini, terdapat titik temu penting yang relevan bagi pendidikan modern Indonesia.

1. Pendidikan Karakter (Adab)

KH Ahmad Dahlan menekankan akhlak Islami, sedangkan Ki Hadjar Dewantara menekankan budi pekerti. Keduanya sepakat: kecerdasan tanpa moral akan merusak bangsa.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al-Baihaqi & Ahmad)

Ini menunjukkan bahwa pendidikan sejati selalu bermula dari karakter.

2. Keteladanan (Uswah)

Baik KH Ahmad Dahlan maupun Ki Hadjar Dewantara adalah pelaku nyata pendidikan. KH Ahmad Dahlan mengajar dengan tindakan melalui amal usaha, sejalan dengan prinsip Ing Ngarsa Sung Tuladha.

Al-Qur’an menegaskan pentingnya keteladanan: “Sungguh, pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu…” (QS. Al-Ahzab: 21)

Keteladanan merupakan fondasi pendidikan yang tak tergantikan.

Meneruskan perjuangan KH Ahmad Dahlan dan Ki Hadjar Dewantara berarti membangun pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, namun tetap berpijak pada nilai moral dan karakter. Pendidikan hari ini harus membentuk generasi yang cerdas, beretika, beriman, dan berdaya.

Selamat Hari Pendidikan Nasional. Semoga Allah memudahkan langkah kita dalam mencari ilmu, karena menuntut ilmu adalah jalan menuju surga. Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim). (*)

Revisi Oleh:
  • Amanat Solikah - 02/05/2026 20:36
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡