Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof Dr Biyanto MAg, mengapresiasi inovasi dalam Munas XXXIII Tarjih Muhammadiyah sebagai upaya memenuhi kebutuhan umat.
Hal tersebut disampaikan pada Penutupan Munas XXXIII Tarjih Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Sabtu (7/11/2026).
Lebih lanjut, agenda ini bertema “Meneguhkan Akidah, Memperindah Akhlak, Menguatkan Ibadah dan Memberdayakan Umat untuk Peradaban Berkemajuan”.
Pada pelaksanaannya, Munas Tarjih tahun ini membahas terkait persoalan keislaman dan kemasyarakatan.
Antara lain Fikih Lanjut Usia, Fikih Kedaulatan Pangan, Risalah Akidah Islam Muhamadiyah, Risalah Akhlak Islam Praktis, dan Pengembangan Himpunan Putusan Tarjih (HPT) tentang Hukum Bacaan Taswib.
Apresiasi untuk Tuan Rumah
Mengawali sambutannya, Biyanto memuji tuan rumah Munas XXXIII Tarjih Muhammadiyah tahun ini, Universitas Muhammadiyah Surabaya.
“Kami atas nama PWM Jatim mengucapkan terima kasih karena Umsura sudah menjadi tuan rumah yang baik” terangnya.
Tak lupa, Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kemendikdasmen itu turut berterima kasih atas kepercayaan MTT PP Muhammadiyah memilih Surabaya sebagai tuan rumah.
“Terima kasih kepada Majelis Tarjih yang sudah memilih Surabaya sebagai tuan rumah kegiatan ini” ucapnya.
Lebih lanjut, Biyanto menyebut bahwa kunjungan di hari terakhir Munas ke Makam KH Mas Mansur sebagai pembelajaran lintas generasi.
“Ini adalah bagian dari pembelajaran yang sangat penting untuk kami di jawa timur, dan generasi yang akan datang” ujar Biyanto.
Selain itu, Biyanto juga menjelaskan salah satu karya besar Mas Mansur, 12 tafsir langkah Muhammadiyah.
“Yang jika kita baca dalam sejarah, itu adalah kajian Senin malam atau malam selasa selama 2 tahun pada 1938-1940” tuturnya.
“Dan atas dasar itu, KH Ahmad Dahlan memberi julukan KH Mas Mansur sebagai Sapu Kawat Jawa Timur” tegas Biyanto.
Tren Login Muhammadiyah
Terkait dengan inovasi ChatHPT, Biyanto tak lupa memberikan apresiasinya atas langkah Majelis Tarjih tersebut.
“Majelis tarjih sudah menyelami kebutuhan di era digital. Apalagi ada tren login Muhammadiyah” ungkapnya.
Menurutnya, terdapat bahaya eksistensial akibat perkembangan teknologi yang begitu marak.
“Sekarang suka tidak suka, kita masuk di era ketika manusia lebih suka menggunakan software ketika membutuhkan informasi” terangnya.
Hal tersebut, lanjut Biyanto, tetap perlu diimbangi dengan kebiasaan bertanya pada guru dan berpikir kritis.
“Karena itu dikatakan dalam buku Franklin Foer dalam “World Without Mind” bahwa dunia sekarang tanpa pikiran, tanpa akal. Orang bisa dengan mudah mendapatkan informasi tanpa belajar” jelasnya.
“Padahal salah satu syarat belajar adalah thulu zaman, atau waktu yang panjang” sambung Biyanto.
Sehingga, sambungnya, persoalan yang dihadapi Muhammadiyah kini adalah bagaimana kajian Munas Tarjih yang panjang bisa diteruskan dalam ChatHPT.
“Terima kasih kepada PP Muhammadiyah, Majelis Tarjih, dan Universitas Muhammadiyah Surabaya. Semoga menjadi investasi kebaikan untuk Muhammadiyah yang kita cintai” pungkas Biyanto.






0 Tanggapan
Empty Comments