SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik (Smamio) menggelar kegiatan Tahfidz Camp 2026 pada Kamis–Sabtu (5–7/11/2026). Bertempat di Bumi Al-Qur’an, Wonosalam, Jombang, kegiatan ini diikuti oleh 26 murid kelas X dan XI.
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya sekolah dalam mengakselerasi peningkatan hafalan Al-Qur’an murid Smamio. Selain menjadi wadah untuk menambah dan memperkuat hafalan, Tahfidz Camp juga dirancang untuk menghadirkan suasana belajar yang berbeda agar murid semakin termotivasi dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Cindy Ciecielia Nurhalizah, S.Pd., selaku ketua panitia, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi salah satu ikhtiar sekolah untuk mendorong peningkatan kualitas hafalan Al-Qur’an murid.
“Kami berharap, melalui Tahfidz Camp 2026 ini, kegiatan tersebut menjadi sarana bagi anak-anak untuk lebih termotivasi dalam menghafal Al-Qur’an. Tidak hanya meningkatkan jumlah hafalan, tetapi juga menumbuhkan semangat mereka untuk terus dekat dengan Al-Qur’an,” ungkapnya.
Tidak hanya berfokus pada kegiatan menghafal, Tahfidz Camp 2026 juga diisi dengan materi keislaman. Salah satunya disampaikan oleh Ustadz Ahmad Ghazali, M.Pd, Qodimul Ma’had Pondok Bumi Al-Qur’an Wonosalam, Jombang.
Memahami Arti dan Kandungannya
Dalam penyampaiannya, Ahmad Ghazali menekankan bahwa menghafal Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan mengingat dan melafalkan ayat-ayatnya. Seorang penghafal juga perlu memahami arti dan kandungan ayat yang dihafalkan agar nilai-nilai Al-Qur’an dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Menghafal Al-Qur’an bukan sekadar mengingat ayat demi ayat. Kita juga perlu memahami arti dan kandungannya. Dengan begitu, hafalan yang kita miliki tidak hanya tersimpan dalam ingatan, tetapi juga bisa menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kesucian diri dalam proses menghafal Al-Qur’an. Menurutnya, salah satu ikhtiar agar hafalan lebih mudah melekat dan terjaga adalah membiasakan diri menghafal dalam keadaan suci.
Selain itu, ia jug mengajak para murid untuk memperbanyak istighfar dan melaksanakan salat taubat. Ia menjelaskan bahwa istighfar menjadi bentuk permohonan ampun atas dosa-dosa yang mungkin tidak disadari, sedangkan salat taubat dilakukan sebagai bentuk kesungguhan memohon ampun atas dosa yang diketahui atau disadari.
“Jangan lupa memperbanyak istighfar dan melaksanakan salat taubat. Istighfar menjadi ikhtiar kita untuk memohon ampun atas dosa yang mungkin tidak kita sadari. Sementara itu, salat taubat menjadi bentuk kesungguhan kita untuk memohon ampun atas dosa yang kita ketahui,” pesannya.
Salah satu peserta, Queenita Salama, mengungkapkan kesan positifnya selama mengikuti kegiatan. Menurutnya, Tahfidz Camp memberikan pengalaman baru yang membuat kegiatan menghafal Al-Qur’an terasa lebih menyenangkan dan tidak monoton.
“Menurut saya, kegiatan ini sangat positif untuk dilaksanakan. Suasana dan nuansa yang berbeda membuat kami mendapatkan pengalaman baru sehingga kegiatan menghafal Al-Qur’an tidak terasa membosankan. Kami juga bisa lebih bersemangat dalam mengikuti setiap rangkaian kegiatan,” tuturnya.
Melalui Tahfidz Camp 2026, Smamio berharap para murid semakin mencintai Al-Qur’an, memiliki semangat untuk meningkatkan hafalan, serta mampu menjaga dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya menjadi bacaan dan hafalan, tetapi juga menjadi bagian dari karakter dan kebiasaan hidup sehari-hari. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments